4 Tempat wisata cantik ini rusak karena kurang terawat

Katakepo.blogspot.com – Banyak obyek wisata di Indonesia menjadi magnet tujuan turis domestik hingga luar negeri. Seolah tidak ada habisnya, setiap tahun selalu muncul obyek wisata baru. Hal ini tentu berimbas pada pertumbuhan devisa negara sektor pariwisata.

Tetapi semua itu juga diimbangi dengan fakta miris. Banyak tempat wisata kondisinya memprihatinkan. Lagi-lagi faktor klasik menjadi penyebab rusaknya tempat wisata di Indonesia. Pertama karena ulah pelancong yang tak ramah, corat-coret hingga merusak. Kedua minimnya upaya perawatan.

Beberapa tujuan wisata yang rusak bahkan sudah tersohor hingga keluar negeri, dan pernah menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia.

Seperti apa wajah destinasi wisata Indonesia saat ini, berikut lengkapnya?

Eceng gondok rusak kecantikan Danau Toba

Berkembangnya tanaman eceng gondok di kawasan Baktiraja, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, dikhawatirkan mencemari lingkungan Danau Toba, sehingga perlu dibersihkan agar kelestarian danau cantik dan terluas di Asia Tenggara itu tetap terpelihara.

“Keberadaan eceng gondok di kawasan Baktiraja berpotensi merusak ekosistem dan berdampak menimbulkan daratan baru,” ungkap pegiat lingkungan di Doloksanggul Baringin Lumban Gaol kepada wartawan, Selasa (24/3).

Aktivis lingkungan dari Humbahas itu menyebutkan, tanaman liar yang dianggap sebagai gulma di permukaan Danau Toba tersebut, cukup mengganggu kelangsungan industri pariwisata, karena mengurangi estetika keindahan alam.

Eceng gondok dimaksud, lanjut Baringin juga mengganggu beberapa ekosistem. Sebab, dari aspek pertumbuhan, tanaman ini mampu beradaptasi dengan perubahan ekstrem berdasarkan ketinggian air, perubahan ketersediaan nutrisi, pH, temperatur serta racun-racun dalam air.

Menurutnya, pertumbuhan eceng gondok semakin cepat, karena air Danau Toba mengandung nutrisi tinggi, kaya dengan nitrogen, fosfat dan potasium yang menutupi permukaan danau di kawasan air tenang, seperti di Baktiraja yang terletak di pinggir danau.

Dijelaskannya, perkembangan eceng gondok akan mempengaruhi pencemaran air. Jadi jika wisatawan melihat eceng gondok menjamur di sepanjang pinggiran danau maka menunjukkan tingginya pencemaran air di kawasan Danau Toba.

“Penjagaan ekosistem dari aspek pencemaran sangat diperlukan, terlebih limbah rumah tangga yang sering dibuang langsung ke Danau Toba,” katanya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Humbang Hasundutan, Osborn Siahaan menyebutkan, pihak pemerintah setempat melalui aparat kecamatan sudah mempersiapkan program pembersihan Danau Toba, termasuk melibatkan para pegiat pariwisata di daerah tersebut.

Pembersihan paling tepat, kata dia, dengan memaksimalkan eceng gondok sebagai bagian industri kerajinan rumah tangga serta bahan baku pupuk organik dan pakan ternak.

Jika hanya dibersihkan begitu saja, eceng gondok hanya punah sesaat. Sementara, kesadaran masyarakat untuk membersihkan lingkungan Danau Toba sepertinya sangat minim. Padahal, tumbuhan itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

“Kita telah melakukan sosialisasi, agar masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan serta tidak membuang limbah ke kawasan Danau Toba,” katanya.

Guha Tujoh di Aceh rusak

Guha Tujoh atau Gua Tujuh adalah gua alami yang berada di Desa Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh. Gua ini menyimpan batu-batu berbentuk unik, antara lain batu elang sujud dan batu talam hidangan.

Gua ini merupakan objek wisata yang cukup populer di Pidie. Tak hanya untuk menikmati pemandangan, beberapa pengunjung memanfaatkan gua ini untuk bertapa.

Sayangnya gua ini tidak lepas dari aksi vandalisme. Berdasarkan informasi yang dihimpun, dinding gua dikotori coretan-coretan tangan yang tak bertanggungjawab. Selain itu dua batu berbentuk unik yang ada di dalam gua telah dirusak dan dicuri.

Komersialisasi Lembah Harau ancam kerusakan lingkungan

Lembah Harau atau Lembah Arau merupakan Yosemite-nya pulau Sumatera. Ngarai ini diapit dua tebing dengan ketinggian mencapai 150 meter. Letaknya di dekat Payakumbuh, Sumatera Barat.

Lembah Harau memiliki pemandangan yang menakjubkan. Dengan hamparan sawah hijau serta air terjun yang mengalir dari ketinggian tebing. Sungai Batang Arai yang permai menambah keindahan lembah.

Sayangnya komersialisasi Lembah Harau sebagai objek wisata membawa dampak negatif berupa risiko kerusakan lingkungan yang mulai mengancam. Menurut situs Wisata Melayu, sekarang mulai banyak warung tempel yang berdiri di tepi sungai. Tak hanya menghalangi pemandangan, kaki-kaki warung tersebut juga berdiri di aliran sungai.

Candi Borobudur terancam lapuk, banyak jamur dan lumut

Balai Konservasi Borobudur (BKB) menyatakan terus memantau kebocoran dinding Candi Borobudur pada musim hujan. Dikhawatirkan bila hal ini terus terjadi maka sebagian batu candi dapat mengalami pelapukan.

Koordinator Kelompok Kerja Pemeliharaan BKB Yudi Suhartono mengatakan, kebocoran terjadi yakni air keluar melalui dinding relief tidak melalui drainase yang ada. Selain menyebabkan pelapukan, dikhawatirkan hal itu bakal merusak relief karena terjadi kelembapan.

“Pada musim hujan seperti sekarang, kami selalu memantau, apakah air yang ada di dinding candi berasal dari siraman air hujan atau karena ada kebocoran di sekitar batuan dan saluran drainasenya,” kata Yudi di Magelang, seperti dilansir dari Antara, Senin (9/3).

Yudi mengaku sampai saat ini Candi Borobudur masih menjadi magnet wisatawan ke wilayah Jawa Tengah. Candi Buddha terbesar di dunia peninggalan Dinasti Syailendra ini saban tahun dikunjungi sekitar tiga juta pelancong.

Yudi melanjutkan, bila kebocoran dibiarkan maka tumbuh mikro organisme dan otomatis menyebabkan proses kimia serta memulai proses pelapukan pada batuan. Selain itu, kebocoran menimbulkan penggaraman sehingga merusak dinding relief.

“Dampak dari kebocoran, kalau air masuk di sela-sela batu dan keluar ke dinding, maka batu lembap, sehingga tumbuh mikroorganisme seperti lumut, ganggang, jamur, dan bakteri,” ujar Yudi.

Yudi menambahkan, kebocoran terjadi biasanya karena lapisan kedap air rusak. Maka dari itu perlu dilakukan pembongkaran dan pelapisan kembali supaya kembali seperti semula. Dia menyebutkan, tahun ini BKB berencana menangani kebocoran di 12 bidang di sisi utara dan timur candi, perbaikan dilakukan menunggu musim kemarau.