5 Iming-iming ISIS yang membuat WNI tertarik Bergabung

Animo Warga Negara Indonesia bergabung dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) rupanya masih cukup besar. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkirakan jumlah penduduk Indonesia berbaiat dengan Khilafah Islamiyah itu lebih dari 300 orang.
Paling banyak WNI berjuang di Suriah. Sedangkan di Irak data terakhir mencatat ada 56 orang Indonesia ikut kelompok radikal bersenjata itu. Sebagian WNI yang menyusup untuk berbaiat pada ISIS adalah pelajar di Timur Tengah. Sebagian besar warga negara Indonesia itu telah mengganti identitas mereka dengan nama alias,” kata tim ahli BPNT Wawan Purwanto.
Sedangkan Kepala Badan Intelijen Indonesia Marciano Norman mengatakan mayoritas yang berangkat bergabung dengan ISIS sejak tahun lalu masih pemain lama. Mereka sudah masuk jaringan teror di Tanah Air, misalnya yang direkrut dari Poso, Sulawesi Tengah. 
Terbukti baru sebulan ISIS dideklarasikan, 80 orang langsung berangkat ke Suriah. Bahkan empat orang dilaporkan tewas karena menggelar aksi bom bunuh diri. Ada dari Santoso, dari kelompok-kelompok radikal jelasnya,” kata Marciano kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.
Belakangan publik Indonesia kembali terhenyak mendengar 16 WNI yang datang sebagai pelancong hilang di Turki. Laporan Interpol menyatakan mereka diduga kuat bergabung dengan ISIS. Belum lagi kabar 15 perempuan asal Tanah Air tertangkap Polisi Turki di perbatasan karena ingin mendukung Khilafah Islamiyah akhir pekan lalu. Di Indonesia, ISIS ternyata masih memiliki loyalis kuat.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan WNI rela menempuh ribuan kilometer ke lokasi berbahaya, demi mengangkat senjata bareng ISIS. Selain terkait ideologi, berikut rangkuman lima iming-iming ISIS membuat banyak orang Indonesia tertarik bergabung, disarikan dari pernyataan BNPT ataupun BIN. berikut 5 Iming-iming ISIS yang membuat WNI tertarik Bergabung dikutip merdeka:
1.Dapat gaji hingga Rp 150 juta
lihat.co.id-Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT Inspektur Jenderal Arief Dharmawan menyatakan tidak semua WNI yang hijrah ke Suriah atau Irak murni berperang demi alasan ideologis. Sebaliknya, ISIS lewat media propagandanya juga menyediakan gaji bulanan untuk setiap anggotanya.
Selain bertempur, simpatisan ISIS asal luar negeri tiba ke area konflik, utamanya markas mereka di Kota Mosul, Irak, diberi pekerjaan yang mendapat bayaran rutin. “Bisa bekerja di dapur umum atau pekerjaan lain yang mendukung upaya perang mereka,” ujarnya.
Gaji mereka bisa setara Rp 39 juta per pekan, atau Rp 150 juta per bulan. Bayaran para pekerja ISIS ini dalam Dollar Amerika. Tak heran, lebih dari 3.400 warga negara Barat dilaporkan bergabung. Iming-iming uang ini juga menarik orang-orang Australia, Belanda, dan negara Eropa lain bergabung dengan ISIS,” kata Arief.
2. Jamin kesejahteraan anak-anak
lihat.co.id-ISIS diduga kuat mempengaruhi emosi para simpatisannya agar berani membawa keluarga, termasuk yang masih kecil. Pada kasus hilangnya 16 WNI di Turki, dua di antarnya masih balita, sedangkan lima adalah anak-anak. Ini masih berkaitan dengan kebutuhan bulanan yang ditanggung oleh jaringan Abu Bakar Al-Baghdadi.
Jika bertahan hidup pun bisa mendapat kehidupan yang lebih baik,” kata Arief Dharmawan dari BNPT. Modus tak jauh beda terjadi pada 6 WNI yang ditangkap Polda Metro Jaya di Bandara Soekarno-Hatta ketika hendak berangkat ke Suriah pada 26 Desember 2014. Mereka terdiri dari 4 orang laki-laki dan dua orang perempuan.
Keenam orang tersebut tiga di antaranya sekeluarga, terdiri atas ayah, ibu, dan seorang anak kecil perempuan di bawah umur. “Keduanya mengatakan rumah di sana (Makassar) sudah dijual. Tabungannya ada sekitar USD 9.000 dan itu hasil jual rumah,” kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Herry Heryawan.
Berbeda dengan orang yang akan pergi ke luar negeri, tak ada satu pun yang membawa koper. Bahkan, lanjut Herry, hanya mengenakan pakaian di badan dan tas ransel. Belakangan diketahui, ISIS membuka sekolah khusus bagi pejuang yang membawa anak dari negara asalnya. Kamp pelatihan khusus anak-anak juga dibuka di Kota Raqqa, Suriah.

3. Jemput bola kirim dana ke Indonesia
lihat.co.id-September 2014, BIN dan Kepolisian mencokok empat WNA dengan paspor palsu Turki di Sulawesi Tengah. Mereka adalah kurir yang hendak mengirim dana perjuangan kepada simpatisan di Tanah Air.
Peneliti terorisme dari S2 Kajian Stratejik Intelijen UI Ridlwan Habib mengatakan ini adalah mekanisme jemput bola. Warga asing Turkistan itu memberi sinyal, bahwa siapapun di Indonesia yang siap berangkat akan didanai.
Mereka diduga kuat akan memberikan dana sekaligus melihat langsung peta kekuatan kelompok Mujahidin Indonesia Timur sebagai bahan laporan ke amirnya Abu Bakr Al Baghdadi,” ujarnya. Sasaran utama bantuan dana ini masih jaringan sel teror yang lama bercokol di Indonesia. Khususnya kelompok Santoso di Poso.
Kelompok Santoso sedang membutuhkan dana dan bantuan persenjataan dari luar, sedangkan ISIS perlu proxy untuk melebarkan pengaruhnya ke Indonesia,” ungkap Ridlwan. Pengiriman dana melalui wire transfer atau perbankan sudah tidak dilakukan lagi. Sebab, mudah dideteksi oleh aparat keamanan. Karena itu, prosedurnya kembali ke cara klasik yakni cash and carry.

4. Sudah punya wilayah de facto
lihat.co.id-Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai punya analisis tersendiri soal alasan ISIS bisa meraih simpati WNI. Bagi penganut paham radikal, ISIS bahkan sudah melampaui perjuangan Al Qaidah pimpinan mendiang Usamah Bin Ladin.
Bin Ladin itu masih wacana, enggak punya wilayah sementara ISIS itu sudah negara minus pengakuan internasional,” kata Mbai awal pekan ini.
Status itu yang membuat simpatisan ide Negara Islam memandang ISIS merupakan kemajuan besar dibanding perjuangan lain. Khilafah gaya baru ini pun sanggup menandingi militer resmi. Militernya lebih unggul dibanding militer Irak. Di Suriah itu berkembang,” kata Mbai.
5. Pejuang asing dapat budak seks
lihat.co.id-Bagi pejuang asing yang rela bergabung, ISIS menawarkan budak seks. Tawaran itu bahkan masuk dalam materi propaganda internasional khilafah gaya baru ini.
Sempat muncul sebuah pamflet berisi ajakan bagi ‘ukhti’ yang berminat melamar posisi pemuas seks kelompok jihadis bisa menghubungi sekretariat ISIS Indonesia di Masjid Fathullah UIN Jakarta.
“Itu sangat mendeskriditkan, itu menghina Islam, tidak ada wanita rela menyerahkan kehormatan dengan iming-iming surga. Sangat menghina ajaran Islam tidak seperti itu,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Praktik budak seks ini pun dilaporkan benar-benar terjadi di Irak. Korbannya adalah kaum perempuan etnis Yazidi. Mereka dipaksa melayani nafsu bejat pejuang ISIS asal Eropa dan AS.
Ada bagian dari diri saya menyatakan ingin mati saja. Tapi di bagian lain saya masih berharap bisa memeluk orangtua saya sekali lagi,” kata salah satu korban yang baru berusia 17 tahun kepada Koran La Republic lewat sambungan telepon.
Kesaksian serupa juga diberikan Samra Kesinovic (17 tahun) dan Sabina Selimovic (15 tahun) asal Austria. Walau niatnya berjuang bersama ISIS, mereka malah dipaksa menikahi beberapa pejuang asal Chechnya.