5 Perbedaan Bioskop Dulu dan Sekarang

Katakepo.blogspot.com Apa saja yang berubah dari bioskop dulu dan bioskop sekarang? Ini dia

Bioskop menjadi saksi sejarah pertumbuhan film nasional. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900 dan masih menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan seng. Film-film yang diputar kala itu masih film gagu alias bisu diiringi dengan iringi musik orkes, yang terkadang jarang nyambung dengan filmnya.
Semakin berkembangnya film-film nasional, bioskop pun memperbaiki penampilannya untuk merekrut penonton lebih banyak lagi. Kemajuan tersebut memuncak pada tahun 1990. Perubahan mencolok tersebut terasa hingga sekarang. Apa saja yang berubah dari bioskop dulu dan bioskop sekarang? Muvila mencoba menelaahnya berdasarkan dari berbagai sumber!

Tempat Tiket
Bioskop zaman dulu saat coklat ayam jago masih ada, kalau mau menonton film kita harus datang awal dan bersiap-siap untuk mengantri panjang bak ular melingkar di atas pagar. Tempat jualan tiket bioskop pun hampir sama persis dengan tempat penjualan tiket di kebun binatang. Ruangan tertutup yang tidak terlalu besar dan dibatasi oleh kaca atau teralis besi.
Kalau sekarang tidak perlu tergesa-gesa datang ke bioskop kecuali kalau Muvilaz adalah pegawai bioskopnya. Itu jelas Muvilaz harus datang lebih awal dari penontonnya. Kemajuan teknologi telah mempermudah penggila film untuk memesan tiket melalui internet, sms, dsb. Begitu pula dengan tampilan tempat penjualan tiket yang berbasis teknologi tinggi. Di salah satu bioskop Bandung, ada mesin self ticketing dengan layar touchscreen. Mesin tersebut mempermudah konsumen untuk melakukan transaksi sendiri. Jadi tidak perlu repot, tinggal bayar ambil tiketnya lalu nonton. Namun di bioskop lainnya, masih ada yang dilayani oleh pegawai bioskopnya di counter terbuka dan tanpa teralis.

Gedung Bioskop dan Harga Tiket
Perusahaan-perusahaan bioskop dulu tidak punya tempat tetap pada masa awal pertumbuhannya. Umumnya, mereka menyewa rumah besar seperti Gedung Manege di Kebonjae Tanah Abang ataupun lapangan besar yang menjadi cikal bakal layar tancap. Masalah lokasi dan tempat pemutaran ini berpengaruh besar terhadap harga karcis yang ditetapkan. Bioskop pertama di Indonesia yang berdiri di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat menjual karcis kelas I seharganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.
Sekarang bioskop menawarkan kemajuan. Bioskop menetap di dalam mall, sehingga penonton bisa menunggu jam tayang sambil keliling-keliling Mall. Harga karcisnya dibedakan berdasarkan hari. Biasanya hari libur atau weekend, harga tiket lebih mahal dari hari aktif kerja.

Layar
Dulu sebelum film akan dimulai, tirai harus ditarik perlahan-lahan baru muncul layarnya. Diikuti dengan pemadamkan lampu dan suara nyanyian “Aku Cinta, Engkau Cinta buatan Indonesia” dilanjutkan oleh iklan obat nyamuk. Seolah-olah kita sedang nonton teater atau opera.
Sekarang tidak ada adegan tarik menarik layar. Bioskop pun semakin memanjakan kita dengan kehadiran 3D, IMAX 3D, 4DX, sampai Dolby Atmos untuk urusan sound. Iklan untuk mencintai produk Indonesia pun sudah tidak ada, digantikan dengan trailer film yang bakal ditayangkan. Bahkan beberapa bioskop ada yang menayangkan iklan dan theme song pemilik bioskop tersebut.

Jenis Bioskop
Dulu banyak sinepleks yang menjamur di segala penjuru daerah. Tiap bioskop satu dengan lainnya menayangkan film yang berbeda. Ada yang khusus menayangkan film-film dewasa Indonesia, film komedi, film barat, dsb. Sementara bioskop zaman sekarang, dibedakan berdasarkan fasilitas dari produsen bioskop itu sendiri. Untuk film-film yang diputar hampir sama dengan jadwal rilis yang bersamaan.

Tempat duduk
Tempat duduk bioskop dulu dan sekarang jelas sekali perbedaannya. Kursi bioskop zaman dulu masih terbuat dari kayu seperti bangku sekolah. Nomor kursinya pun diwarnai menggunakan pylox seadanya. Sudah gitu nomor tempat duduknya nantinya akan ditulis manual di tiket pakai spidol.
Beda dengan sekarang, nomor tempat duduk diprint menggunakan komputer. Dan tempat duduknya sudah memakai sofa dengan bantalan yang empuk. Bahkan di kelas-kelas tertentu menyediakan ranjang plus bantal guling dan selimut.