7 Fakta Pengemis yang tidak Disangka

Pengemis dan gelandangan saat ini seakan sudah menjadi profesi yang marak digandrungi oleh banyak orang. Selain bisa dilakukan dengan cara yang mudah, mengemis juga mendatangkan banyak uang dalam yang singkat. Tidak jarang pengemis dan gelandangan menyebabkan kerugian bagi masyarakat. Bukan hanya karena bisa mengganggu kenyamanan umum, memberi uang kepada pengemis pun bisa menimbulkan rasa malas untuk mereka bekerja. Banyak cerita miris yang terjadi dalam kehidupan pengemis. Ada yang kaya raya hingga menyewa bayi. Berikut 7 Fakta Pengemis yang tidak Disangka dikutip merdeka:
1. Pengemis punya rumah mewah dan dua istri
Pengemis punya rumah mewah dan dua istri
lihat.co.id-Maraknya keberadaan pengemis di Kota Sukabumi tidak lepas dari masyarakat yang masih iba dengan pengemis yang berpura-pura kesusahan padahal pendapatannya bisa melebihi gaji dari seorang PNS. Bahkan beberapa pengakuan pengemis ada yang berpenghasilan hingga Rp 300 ribu/hari.
Kami harap masyarakat tidak ada rasa iba lagi kepada pengemis sebagai bentuk pembelajaran, karena mayoritas pengemis dan gelandangan masih berusia produktif bahkan lengkap dan sehat panca inderanya,” tambah Deden.
Sementara, Kepala Seksi Penegakan Perda (Peraturan Daerah) dan Peraturan Kepala Daerah Satpol PP Kota Sukabumi, Sudarajat, mengatakan berdasarkan pengakuan para pengemis, penghasilan dalam setiap bulannya cukup besar yakni bisa mencapai Rp 15 juta. Bahkan ada beberapa pengemis yang memiliki rumah megah dan memiliki dua istri.
Menurutnya, penghasilan pengemis dalam setiap harinya bisa mencapai antara Rp 750 ribu hingga Rp 800 ribu, terlebih pada hari-hari besar, penghasilan para pengemis tersebut ada yang mencapai Rp 1 juta.
2. Kakek pengemis punya duit Rp 11 juta
Kakek pengemis punya duit Rp 11 juta
lihat.co.id-Pesona ibu kota membuat langkah Kakek Edi Suryadi sampai di Jakarta sejak beberapa tahun. Berangkat dari kampungnya di Kudus, Jawa Tengah, pria 78 tahun berharap mendapatkan pekerjaan layak untuk menghidupkan keluarganya.
Meski usianya sangat uzur, semangat Kakek Edi patut diacungi jempol. Apalagi kalau melihat profesinya sebagai tukang minta-minta alias mengemis. Di bawah terik matahari dan dinginnya malam, Kakek Edi tak letih meminta belas kasih mereka yang melintas untuk mendapatkan sedikit uang. Waktu berlalu, kesejahteraan Edi rupanya berubah.
Saat petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat melakukan penertiban, dia terjaring di kawasan Senen tepatnya di samping Hotel Oasis Amir. Saat petugas menggeledah gerobak dan tasnya, didapat uang tunai pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 dengan total nilai Rp 11 juta.
3. Banyak pengemis punya sawah luas bahkan jadi juragan angkot
Banyak pengemis punya sawah luas bahkan jadi juragan angkot
lihat.co.id-Wakil Wali Kota Sukabumi, Ahmad Fahmi menyelidiki kehidupan pengemis di dalam maupun luar Kota Sukabumi. Hasilnya mengejutkan, ternyata mayoritas pengemis taraf kehidupannya sudah sejahtera.
Pemantauan yang kami lakukan ini tujuannya agar masyarakat tahu, ternyata memberikan uang kepada para pengemis tidak bermanfaat, karena mereka akan keenakan mengemis dan selalu mengandalkan orang lain atau tidak mandiri,” kata Fahmi kepada Antara, Senin (19/5).
Menurutnya, jika dibandingkan dengan penarik becak, ojek dan delman serta angkutan kota, taraf kehidupan para pengemis itu ternyata lebih sejahtera. Banyak di antara para pengemis itu yang mempunyai rumah permanen, sawah yang luas bahkan ada yang menjadi juragan angkot.
Dengan ditemukannya kasus seperti ini, maka pihaknya melarang dan mengimbau kepada warga agar tidak memberikan uang kepada pengemis. Hal ini agar mereka bisa mandiri dan tidak hanya mencari belas kasihan dari orang lain.
4. Fakta mengerikan kenapa bayi dalam gendongan pengemis selalu tidur
Fakta mengerikan kenapa bayi dalam gendongan pengemis selalu tidur
lihat.co.id-Ternyata bayi-bayi yang dibawa pengemis itu sudah dijejali dengan obat tidur, bahkan dengan dosis yang tinggi. Tujuannya tidak lain adalah agar si pengemis bisa melakukan pekerjaannya tanpa diganggu oleh rengekan rewel bayi yang digendongnya.
Dinas Sosial sudah sering menjaring mereka. Bayi-bayi tersebut diberi obat tidur agar tetap tenang selama mereka mengemis. Ini adalah satu bentuk eksploitasi anak yang harus ditindak tegas,” tandas Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta Prayitno, Rabu (4/3).
Parahnya lagi, dosis obat bius yang digunakan sembarangan. Yang penting bayi terlelap. Hal ini bisa sangat membahayakan bayi atau balita yang dibius.
Fenomena memilukan ini bukan hanya terjadi di Ibu Kota. Di kota-kota besar lainnya seperti Medan, Lampung, dan Jawa, pun banyak pengemis yang menggunakan modus serupa. 
Meski dinas sosial sudah sering melakukan razia PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial), namun pengemis-pengemis yang membawa bayi masih banyak yang berkeliaran.
5. Tak cuma dibius, pengemis pun sewa bayi biar orang kasihan
Tak cuma dibius, pengemis pun sewa bayi biar orang kasihan
lihat.co.id-Terungkap fakta para pengemis yang berkeliaran dengan menggendong bayi ternyata menggunakan obat bius agar anak itu tetap tertidur. Penelusuran merdeka.com, bayi yang dibawa oleh pengemis tersebut bukanlah anak kandungnya. 
Bayi tersebut merupakan bayi yang disewa untuk membantu pengemis mencari uang. Besaran sewa yang harus dibayarkan mulai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per hari. Alasan si pengemis menggunakan bayi tidak lain adalah untuk meningkatkan penghasilan mereka. 
Seorang pengemis mengaku dengan membawa bayi, uang yang didapatkan dari mengemis bertambah. Sebelumnya pengemis tersebut hanya mendapatkan uang paling besar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Namun setelah membawa bayi, penghasilan mereka meningkat hingga Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari. Supaya orang kasihan,” kata seorang pengemis saat ditanya