AMANKAN WILAYAH PERBATASAN DI KEPULAUAN RIAU, BATALYON INFANTERI-10 MARINIR “SATRIA BHUMI YUDHA” DIKUKUHKAN

“Luas wilayah perairan dan banyaknya jalur pelayaran internasional, memberikan peluang terhadap berbagai macam tindakan pelanggaran hukum dan tindak kejahatan di laut, seperti penyelundupan, perompakan dan pembajakan. 
Berdasarkan hal-hal tersebut, maka menjadi suatu keharusan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang bertekad menjadi poros maritim dunia, untuk memiliki TNI Angkatan Laut yang kuat, sehingga, sangatlah tepat gagasan mantan Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun sebuah Batalyon Marinir di Setoko Batam, mengingat wilayah ini berada tepat di jantung lalu lintas perekonomian kawasan Asia Pasifik, yaitu Selat Malaka dan Selat Singapura”.

Hal tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio dalam amanatnya saat memimpin upacara pengukuhan kesatuan Batalyon Infanteri (Yonif) 10 di Ksatrian Yonif-10 Marinir, Satria Bhumi Yudha, Pulau Setoko, Batam, Kepri, Senin (10/11/2014). 
Upacara ini merupakan rangkaian kegiatan peresmian Yonif-10 Marinir, yang telah ditandatangani secara simbolis oleh Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 Oktober 2014 yang lalu di Magelang.

Dalam upacara ini dilaksanakan pembacaan surat keputusan pembentukan Batalyon Infanteri-10 Marinir, pelantikan jabatan komandan batalyon, penyerahan tunggul dan penandatanganan naskah pengukuhan. Letkol Marinir Kresno Pratowo dilantik sebagai Komandan Batalyon Infanteri-10 Marinir yang pertama.

TNI Angkatan Laut membangun Markas Batalyon Infanteri-10 Marinir di Pulau Setoko, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau sebagai salah satu upaya meningkatkan keamanan di kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan dengan negara-negara kawasan ASEAN. 
Pembangunan Batalyon Infanteri-10 Marinir di Pulau Setoko merupakan program prioritas TNI Angkatan Laut sebagai tindak lanjut perintah mantan Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun dan membentuk Satuan Marinir baru di Kepulauan Riau, dengan kekuatan satu batalyon infanteri diperkuat.

Batalyon Infanteri-10 Marinir yang menempati lokasi seluas 37 hektare, merupakan salah satu lokasi strategis untuk pertahanan keamanan di wilayah perbatasan. Karakteristik wilayah Kepulauan Riau pada umumnya terdiri dari banyak pulau dan berbatasan dengan beberapa negara tetangga, sehingga sangat strategis untuk dibangun satuan markas pengamanan untuk pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Batalyon ini merupakan sebuah batalyon yang dibekali kemampuan dalam melaksanakan Maritime Interdiction Operation yang memiliki peleton perahu serbu dan dilengkapi dengan combat boat serta perahu karet. 
Satuan ini memiliki peleton tempur khusus yang beranggotakan para prajurit Intai Para Amfibi dan Regu Pandu Tempur Marinir yang dilengkapi dengan Sea Rider untuk melaksanakan operasi pengamanan maupun penanggulangan teror aspek laut. 
Batalyon Infanteri-10 Marinir juga diperkuat 2 Tank Amfibi BMP-3 F, 2 unit LVT-7, 2 kendaraan tempur BVP-2 anti serangan udara, 2 unit peluncur roket multi laras RM-70/ Grad, 4 unit kendaraan taktis Colorado dengan senjata GPMG dan 2 unit Jepp KIA dengan senjata GPMG.

Berbagai aktraksi disuguhkan pada upacara peresmian seperti demonstrasi keterampilan prajurit berupa terjun payung dan Rubber Duck Operation (tehnik operasi pertempuran/serbuan dengan menerjunkan perahu karet dari atas pesawat ke laut untuk menjangkau dan menghancurkan sasaran) oleh prajurit Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) 2 Marinir. Pada kesempatan tersebut, juga dilaksanakan tradisi penyerahan Pedang Jenawi, peninjauan gedung markas batalyon, penanaman pohon, serta pengarahan Kasal.

Lebih lanjut Kasal menjelaskan bahwa Batalyon Infanteri-10 Marinir adalah satuan pelaksana di bawah jajaran Korps Marinir, yang merupakan bagian integral dari TNI Angkatan Laut sebagai kekuatan sistem senjata armada terpadu. 
“Satuan ini dibentuk untuk mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis yang terjadi di wilayah Kepulauan Riau, dan sebagai ujung tombak pertahanan negara untuk menegakkan kedaulatan dan keutuhan NKRI,” jelasnya.

Kasal menambahkan, daerah Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, merupakan daerah yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap berbagai kemungkinan munculnya ancaman, khususnya yang berasal dari luar negeri. 
“Oleh karenanya keberadaan Yonif-10 Marinir, harus mampu memberikan nilai tambah yang signifikan terhadap jajaran TNI dan Polri yang sudah tergelar di wilayah ini, guna mewujudkan stabilitas keamanan dan mengatasi berbagai bentuk ancaman yang mungkin terjadi”.

Batalyon Infanteri-10 Marinir di Pulau Setoko ini diperkuat dengan satuan-satuan kecil dengan keahlian khusus atau pasukan khusus. Fasilitas yang dibangun meliputi pembangunan gedung batalyon, gedung kompi markas, gedung kompi senapan, gudang senjata, rumah dinas, mess perwira, garasi angkutan dan rantis, balai pengobatan, lapangan tembak, dan helipad. 
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, para pejabat teras Mabesal, para Pemimpin Kotama TNI AL, para sesepuh Marinir, dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam,

Demikian Berita Dinas Penerangan Angkatan Laut.

Sumber : TNIAL