Biayai Bangun Pesawat R 80, Regio Aviasi Industri Akan Jual Saham

PT Regio Aviasi Industri akan menerbitkan saham mereka secara terbatas. Pelepasan saham ini untuk membiayai proyek pembangunan pesawat terbang mereka, Regional 80 (R 80), yang rencananya akan terbang perdana pada 2017-2018.

Komisaris Regio Aviasi Industri, Erry Firmansyah, mengatakan saham perusahannya akan ditawarkan pada individu, perusahaan, koperasi, dan pemerintah yang telah mereka bidik sebelumnya, jumlahnya tak lebih dari 50 pihak.

“Karena, kalau jumlahnya lebih dari 50, harus terdaftar di OJK (Otoritas Jasa keuangan),” ujar dia, Rabu 10 September 2014.

Dia menuturkan, hingga saat ini pihaknya masih menghitung berapa banyak saham yang akan dijual.

Saat ditanya, siapa saja yang telah mendapat penawaran, mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta ini mengatakan pihaknya baru menawarkan saham pada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Di kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, mengatakan pihaknya masih harus mengkaji penawaran saham dari Regio Aviasi Industri.

Menurutnya, Jabar siap membantu proyek pesawat terbang R 80. Hanya saja, porsi Jabar dalam proyek itu harus dikaji terlebih dahulu. “Seperti apa peran kita sebagai warga Jabar untuk ikut pengembangkan pesawat ini,” ungkapnya.

Heryawan menambahkan, perlu dicari strategi agar masyarakat tertarik dengan saham Regio Aviasi Industri.

Dia berharap, ada pengusaha yang memiliki rasa nasionalisme tinggi yang mau membantu pengembangan industri dirgantara nasional dengan cara membeli saham Regio Aviasi Industri.

R 80 merupakan pesawat rancangan Mantan Presiden RI, BJ Habibie. Pesawat ini menggunakan dua mesin turboprof dan mampu mengangkut 80 penumpang.

Pesawat yang diklaim bakal memiliki kemampuan di atas N 250 ini bakal diproduksi di dalam negeri.

Ilham Habibie, Komisaris Regio Aviasi Industri, mengatakan beberapa komponen akan diupayakan dibuat di dalam negeri. Namun, untuk mesin, R 80 akan mengusung mesin yang telah tersedia di pasaran.

“Kalau pesawat baru jangan pakai mesin baru, pakai mesin yang sudah ada di pasaran. Ini untuk mengurangi risiko,” kata Ilham.

Sumber : Viva