Bromatometri

Mahasiswa dapat menetapkan kadar suatu larutan dengan metode bromatometri baik dengan titrasi langsung ataupun titrasi tidak langsung.

Teori Singkat (kali benar-benar singkat, maklum kaga sempat nulis, harus praktikum..namanya juga mahasiswa Farmasi..”No Women No Cry; No Praktikum YES I Cry”) 😆

Pada titrasi langsung, dilakukan dalam suasana asam dan menggunakan indikator merah metil. Pada titrasi ini, menjelang titik akhir perlu ditambahkan lagi indikator karena dalam lingkungan asam merah metil akan dirusak oleh brom secara irreversibel menjadi warna kuning. Reaksi perusakan ini sangat cepat dan ada kemungkinan terjadi sebelum titik akhir tercapai sehingga perlu ditambahkan indikator lagi menjelang titik akhir.

Pada titrasi tidak langsung, penetapan kadar senyawa dilakukan dengan mereaksikan dengan brom berlebih yang biasanya didapat dari larutan kalium bromat-kalium bromida. Larutan tersebut ditambah dengan KI dan dititrasi dengan natrium tiosulfat dengan indikator pati. Penetapan kadar senyawa dengan titrasi tidak langsung ini dilakukan dalam erlenmeyer tertutup karena sifat brom yang mudah menguap.

Kalium Bromat merupakan oksidasi kuat. Sejumlah agen pereduksi, seperti arsenit(III), antimon(III), besi(III), dan sulfide-sulfidaserta organik tertentu dapat dititrasi secra langsung dengan sebuah kalium bromat. Reaksinya dengan arsenit(III) adalah :

BrO3 + 3HAsO2 Br + 3H2O

Titik akhirnya dari titrasinya ditandai dengan terbentuknya Bromin, sesuai dengan reaksi

BrO3 + 5Br + 6H+ 3Br2 + 3H2O

Terbentuknya bromin terkadang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi. Beberapa indikator organik yang bereaksi dengan bromin untuk memberikan perubahan warna. Tidak sebaik ?-nafthaflavon, quinoline yellow, metil orange atau red digunakan sebagai indikator (Underwood, 1981).

Reaksi bromin dengan senyawa organiknya dapat berupa substitusi (dengan 8-hidroksiquinolin) atau bisa juga berupa adisi (dengan etilen) (Khopkar, 1990).

Kalium bromat mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi. Zat ini dapat dikeringkan pada temperatur 120o-150oC dan larutannya dalam air tahan untuk waktu yang tak terbatas. Maka ia dapat digunakan sebagai standar primer. Satu-satunya kekurangannya adalah bahwa ekuivalennya relatif kecil (FI Ed III).

buat yang pengen porsi lebih big n bigger serta biggest:
Anonim, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Day R.A jr & A.L Underwood. 1981. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.
Khopkar, 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Ada yang mau menambahkan?

Bromatometri | 71mm0 | 4.5

Leave a Reply

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better