Dari Biawak sampai Beda bak Bumi dan Langit di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Siang itu, Kamis (4/12/2014), keriuhan mendadak terdengar dari belakang Pos Pengamanan Perbatasan (Pospamtas) Indonesia-Malaysia di Desa Betaoh, Kecamatan Kayan Hulu, pedalaman Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Suaranya mirip orang menonton pertandingan bola.

Percakapan kami–reporter Kompas.com, Fabian Januarius Kuwado bersama fototografer Fikria Hidayat dan Kristianto Purnomo–dengan sejumlah prajurit TNI di pos ini pun terhenti. Tak berselang lama, seorang prajurit berlari ke arah kami dan mengatakan, “Si Agus dapat biawak.”

Mendengar kabar itu, kami pun bergegas beranjak menuju bagian belakang pos. Kapan lagi melihat biawak ditangkap? Di sana Pratu TNI Agus Yulianto terlihat sedang memegang seekor biawak kecil. “Dia masuk ke pukat yang kami pasang,” ujar dia.

“Dimakan enak, ini. Sayang banget masih kecil. Dipelihara saja tunggu sampai gede,” timpal prajurit lain yang mengitari Agus. “Paling enak dibakar,” timpal yang lain.

Di tengah hiruk pikuk kegembiraan mendapatkan bahan lauk itu, saya tergelitik dengan pukat yang sebelumnya disebut Agus.

Saya pun bertanya kepada prajurit yang berdiri paling dekat, untuk apa mereka memasang pukat itu. “Ya buat tangkap ikan, buat tambahan lauk. Di sini kalau beruntung ikannya dapat gede-gede,” jawab dia.

Telur istimewa

Sertu TNI Hardika Sheila ini mengatakan, logistik tak bisa dikirim ke pos ini lewat helikopter, karena lokasinya tidak memungkinkan diterbangi helikopter. Para anggota TNI di pos ini harus mendatangi Pospamtas lain yang terdekat untuk bisa mendapatkan logistik itu.

Namun, perjalanan ke pos terdekat yang bisa mendapat kiriman logistik memakai helikopter tersebut makan waktu satu hari penuh. Karena itu, bukan kejadian jarang, pos ini kehabisan logistik.

Satu-satunya cara untuk tetap bisa makan cukup layak, adalah dengan berkebun, menangkap ikan di sungai, dan berburu binatang liar di hutan. Biawak adalah salah satu yang bisa didapatkan di sini. Untuk membeli makanan di desa, mereka tak punya cukup uang, karena mahalnya harga barang dan kebutuhan.

Tiga jam tak terasa kami sudah bercengkerama dengan para prajurit di Pospamtas Desa Betaoh. Hari sudah melewati rembang petang, ketika sesosok tentara lagi tiba di pos ini. Dia langsung duduk di kursi kayu dan melepas sepatu, lalu dikenalkan kepada kami sebagai Sersan Kepala TNI Hendra, Komandan Pospamtas Desa Betaoh.

Seperti sebelumnya diakui oleh anggota pasukannya, Hendra tak menampik sejak bertugas di sini belum pernah memeriksa kembali patok batas Indonesia-Malaysia. 

Hendra juga tak menyangkal bahwa untuk menyambung hidup di tempat tugas ini, prajuritnya harus berkebun, menangkap ikan, dan berburu. “Ya beginilah, Mas. Kami jalani saja,” ujar dia.

Kami hanya bisa terdiam mendengar penuturan langsung para tentara ini. Hendra membuyarkan keheningan beberapa saat itu dengan mengajak kami makan. “Kalau ke sini harus nyobain masakan tentara. Ayo kita makan malam. Seadanya saja,” ajak dia.

Rupanya, selagi kami mengobrol, berenang, dan terpesona dengan biawak, sebagian prajurit di pos ini memasak. Menu makan malam kami kali ini adalah nasi dengan sayur nangka, sayur pakis hutan, mi instan, dan telur dadar.

 

 

Kompas.com/Fabian Januarius Kuwado Inilah ruang tengah dari Pos Pengamanan Perbatasan Indonesia-Malaysia di Desa Betaoh, Kecamatan Kayan Hulu, Malinau, Kalimantan Utara. Gambar diambil pada 4 Desember 2014.
 

Belakangan saya baru tahu bahwa telur dadar itu masakan istimewa untuk menghormati kami, tamu bagi pos tersebut. Pada kesempatan lain, telur itu akan disimpan baik-baik, untuk stok makanan istimewa.

Bak bumi dan langit

Sembari makan, perbincangan berlanjut lagi. Kami makan di ruang tengah pos, lesehan. Tak ada meja makan di dalam pos.

Pembicaraan beralih ke soal tentara, membandingkan kualitas hidup anggota TNI di pos ini dengan tentara Diraja Malaysia di seberang mereka. Beberapa prajurit dengan kompak menjawab, “Wah, jauh, Mas, bedanya.”

Hendra yang mengaku sudah dua kali bertugas di pos perbatasan, mengaku sering bertandang ke pos negara tetangga. Dia pun menceritakan seperti apa beda kedua pos yang sama-sama ada di perbatasan lintas-negara itu. Seperti bumi dan langit, sebut dia, bukan sekadar beda.

Tentara Malaysia di pos perbatasan, ujar Hendra memulai gambarannya, berganti tugas jaga setiap empat pekan. “Kami, 9 bulan sekali,” kata dia, yang itu pun tak terjamin tepat waktu. Dampaknya, ujar dia, pada efektivitas dan efisiensi tugas perbatasan.

Di Pospamtas TNI, lanjut Hendra, hanya ada 14 personel, sementara di sisi Malaysia ada 21 personel. Tak hanya tentara, kata dia, di pos Malaysia juga ada polisi, petugas imigrasi, maupun petugas bea cukai, yang memudahkan mereka berkoordinasi menangani persoalan di perbatasan.

Lalu, logistik di pos Malaysia datang bersamaan pergantian giliran jaga. Kualitas logistik juga sesuai standar pemenuhan gizi tentara, minimal ada daging dan susu di dalamnya. Adapun di Pospamtas TNI, daging hanya bisa disantap bila mereka berburu atau mendapat sisihan hasil buruan masyarakat setempat.

Menurut Hendra, peralatan di pos Malaysia juga laiknya kantor instansi pertahanan di kota besar. Bangunan permanen, bersih, punya akses jalan yang bagus. Hanya kebersihan, yang menjadi hal sebanding di Pospamtas TNI.

“Namun, apapun perbedaan kualitas hidup tentara yang ada sekarang, kami tetap berbeda jauh soal militansi. Kita ini tentara pejuang, Mas. Kita merebut sendiri kemerdekaan kita. Nah, kalau dia kan tentara bayaran. Malaysia kan negara persemakmuran Inggris,” ujar Hendra gagah.

Soal militansi dan ketangguhan ini, tegas Hendra, adalah hal yang tetap bisa membuat prajurit TNI berdiri tegap dan mengangkat kepala bila bertemu dengan prajurit Malaysia.

Tak terasa, malam sudah datang. Empat jam sudah kami menjadi “tamu tak diundang” yang mendapatkan sambutan ramah dan hangat di Pospamtas Desa Betaoh. Cerita dan “rasa” yang kami dapat dari sana, semoga bergaung hingga ke seluruh Indonesia, tak terkecuali Ibu Kota…. 

Sumber : Kompas