Detik-detik Wafatnya Legenda Sniper Tatang Koswara


“Jadi gini, dari sebelum dia datang ke Jakarta untuk acara di Trans7, Pak Tatang sudah bilang pada Saya bahwa ia tak bisa berangkat sendiri ke Jakarta,” ujar Perwira Urusan Analisa Berita (Paur Lisabra) TNI Letda Sahlan Rambe, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (3/3/2015). Sahlan mewakili Mabes TNI untuk mendampingi Tatang selama di Jakarta.

Menurut Sahlan, hal itu dikarenakan Tatang yang mempunyai riwayat penyakit jantung tak bisa menyetir jauh sendirian. Akhirnya pihak Trans7 bersedia untuk menjemput Tatang di Bandung.

“Itu percakapan sekitar seminggu yang lalu bersama Pak Tatang dan Trans7,” sambungnya.

Singkat cerita, akhirnya Tatang dijemput oleh Trans7 pada Selasa (3/3) pagi lalu mampir ke Mabes TNI di Cilangkap untuk menemui Sahlan. “Saya ketemu di Cilangkap jam 10. Dia dianter sama Trans7,” ucapnya.

Sahlan menjelaskan selama pertemuan dengan Tatang di kantornya, dirinya banyak bertukar pikiran dengan legenda Sniper Indonesia tersebut. Mereka juga menyempatkan diri berfoto-foto di sekitar kantor Sahlan.

“Kemudian saya bilang ke Beliau, ke Hotel saja yang disiapkan Trans7. Biar nanti fit di Trans7. Kan bakal tampil di Hitam Putih dan Bukan Empat Mata,” lanjutnya

Sniper legendaris Indonesia Tatang Koswara telah tutup usia. Sebelum meninggal, Tatang sempat berbagi cerita kepada khalayak publik mengenai pengalamannya menjadi sniper.

Sore harinya menjelang acara Hitam Putih, Sahlan yang sudah lebih dulu tiba di Gedung Trans7 menanyakan keberadaan Tatang. Selang beberapa menit, Tatang yang didampingi istri, anak dan cucunya tiba di lokasi acara.

“Setelah itu Saya ketemu pihak Trans7 bersama Beliau, kemudian dimatangkan dulu untuk pertanyaan yang akan diajukan ke Beliau (Tatang),” ucapnya.

Sahlan juga mengatakan bahwa Tatang sempat bilang kepada host Hitam Putih Deddy Corbuzier bahwa bila suaranya kurang jelas, ia minta maaf karena punya riwayat penyakit jantung. Selama shooting secara live, Sahlan menjelaskan segmen 1 dan segmen 2 berjalan dengan lancar.

“Kemudian abis break, segmen ketiga sebelum ia ditanya saya liat dia nyandarin kepalanya lalu liat ke atas kemudian dia megang-megang lehernya seperti ngambil napas gitu,” cerita Sahlan menjelang detik-detik terakhir Tatang.

Sahlan kemudian berpikir ada yang tidak beres terhadap Tatang. Ia pun lompat dari tempat duduknya dan menghampiri Tatang.

Sahlan lalu berinisiatif memberikan air putih kepada Tatang. Namun Tatang tak bisa meminumnya.

“Akhirnya kita siap-siap bawa dia ke Rumah Sakit. Kebetulan disitu juga ada Dokter lalu ia dikasih napas buatan kemudian dadanya dipompa,” jelas anggota Kopassus ini

Selama dalam perjalanan ke Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, Sahlan yang ikut menemani Tatang saat memegang tangannya terasa begitu dingin. Kemudian sampai di Medistra jam 19.45 WIB dan selama 15 menit diupayakan untuk memancing denyut jantungnya agar bereaksi.

“Tapi reaksinya hanya 5 persen. Kata dokter ini sudah 5 persen, kalau seperti ini susah untuk bisa normal,” katanya sambil mengenang kejadian itu.

Akhirnya sekitar pukul 20.00 WIB, Dokter menyatakan bahwa Tatang Koswara telah meninggal dunia. Sahlan pun memberitahu pelan-pelan Istri dan juga anak serta cucu dari Tatang.

“Mereka banyak yang gak percaya saat saya kabari bahwa Pak Tatang sudah wafat. Istrinya sampai nanya pada saya, Suami saya sudah meninggal? Anaknya pun demikian, Bapak sudah meninggal?” jelasnya. 

Nama Tatang masuk dalam buku Sniper Training, Technique and Weapon yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000. Peter menyebut Tatang termasuk 14 penembak jitu terhebat sepanjang masa.

Sumber : Detik