Dianggap Sebabkan Tingginya Kecelakaan, Transgender Rusia Dilarang Punya SIM


Transseksual dan transgender dilarang membuat surat izin mengemudi atau SIM di Rusia. Pemerintah Negeri Beruang Merah mengklasifikasikan transgender sebagai seseorang yang memiliki kelainan jiwa.

Selain transgender, aturan baru juga berlaku perilaku yang dianggap menyimpang lainnya, seperti fetishisme, exhibisionisme dan voyeurisme.

Seperti yang dikutip dari metrotvnews.com, Pemerintah Presiden Vladimir Putin mengklaim pengawasan medis ini akan mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas. Pengumuman aturan baru dikeluarkan di tengah maraknya keluhan komunitas internasional terhadap Rusia, yang dianggap melecehkan hak-hak aktivis homoseksual.

Pada 2013, Rusia menyatakan “gaya hidup non-tradisional” seperti gaya hidup gay sebagai perbuatan ilegal.

Valery Evtushenko dari Asosiasi Psikolog Rusia mengaku khawatir atas larangan ini. Berbicara pada BBC Rusia, belum lama ini, ia khawatir warga akan enggan pergi ke psikiater karena takut tidak mendapatkan SIM.

Sementara Asosiasi Pengacara Rusia menyatakan hukum lalu lintas terbaru itu sebagai hukum diskriminatif. Mereka berencana mengklarifikasi aturan tak masuk akal ini ke Mahkamah Konstitusional Rusia dan meminta dukungan organisasi hak asasi manusia internasional.

Namun, Serikat Pengemudi Profesional Rusia mendukung langkah Putin. “Sudah terlalu banyak kematian di jalan raya. Saya yakin dengan aturan ketat ini dapat dibenarkan,” sebut kepala serikat Alexander Kotov. Ada satu catatan, Kotov berharap aturan ini bisa lebih fleksibel terhadap seseorang yang bukan pengemudi profesional.

Mikhail Strakhov, pakar psikologi Rusia, menilai definisi kelainan kepribadian yang menjadi alasan pemerintah, terlalu kabur dan dibuat-buat. Menurutnya, beberapa kelainan jiwa tidak akan memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengemudi.