Dirlatgab TNI Tekankan Komunikasi Antarkomando

Direktur Latihan Gabungan (Dirlatgab) TNI Letjen TNI Lodewijk F Paulus dalam pengecekan persiapan latihan di Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, selalu menekankan komunikasi yang baik antarkomando pasukan yang terlibat.

Keterangan dari Penerangan Latgab di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Asembagus, Situbondo, Minggu menyebutkan bahwa komunikasi dan koordinasi yang penuh antara komando pasukan darat dan pasukan lainnya, termasuk tank yang bergerak cepat harus diperhatikan sehingga dapat mencegah timbulnya kecelakaan yang tidak diharapkan.

“Kelengkapan dan tanda-tanda latihan serta objek sasaran tembak meriam, roket, tank dan pesawat tempur yang akan digunakan agar disempurnakan,” kata Lodewijk yang juga Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD tersebut.

Didampingi Wakil Direktur Latgab Mayjen TNI Chaidir Seruling Sakti beserta sejumlah penglima komando tugas dari masing-masing gugu tugas, Lodewijk terus mengecek seluruh kesiapan pasukan yang terlibat dalam latihan dengan puncaknya pada 4 Juni 2014 tersebut.

Sebelum puncak latihan, sejumlah latihan parsial telah dilaksanakan oleh amsing-masing satuan, seperti prajurit Artileri Medan Marinir yang menembakkan meriam Howitzer 105 MM dan Roket Misil 70 Grad dari pantai, serta pasukan Armed dan Artileri Pertahanan Udara Ringan (Arhanudri) Kostrad.

Selain itu sejumlah kekuatan tempur dari unsur udara juga sudah melaksanakan latihan, seperti pengerahan helikopter Bell untuk angkut pasukan Kostrad yang dikenal dengan sebutan mobillisasi udara dan helikopter MI-17 yang mengangkut senjata serta aksi pesawat tempur.

Sementara itu tank-tank milik Marinir maupun TNI AD juga sudah menempati posisi masing-masing untuk melakukan manuver saat latihan gabungan.

Dari Asembagus dilaporkan, TNI memberikan imbauan kepada warga yang bekerja sebagai petani dan penebang tebu di dekat pantai maupun nelayan di Banongan agar tidak bekerja saat puncak latihan, 4 Mei. Hal itu untuk menjamin keselamatan warga karena wilayah itu tersebut menjadi perlintasan meriam dari pantai ke sasaran.

Sejumlah warga Banongan yang ditemui mengaku sudah mengetahui imbauan tersebut. Selain disampaikan lewat tokoh masyarakat, imbauan itu juga disampaikan lewat pengeras suara di kampung-kampung. Warga mengaku sudah terbiasa dengan imbauan tersebut dan mengaku memahami untuk keselamatan dirinya.

“Setiap tahun kalau ada latihan, warga memang diminta untuk tidak bekerja sehari saja,” kata Darsih, warga setempat.

Samuri, pekerja tebu di dekat Pantai Banongan, mengemukakan dirinya sudah memahami imbauan tersebut demi keselamatan dirinya dan masyarakat saat latihan. “Kami tidak masalah tidak bekerja sehari saja,” katanya. 

Sumber : Antara