Dua Panser Siap Disiagakan di Lokasi Rawan Konflik

Korem 072 Pamungkas kembali akan mengerahkan 2 unit panser untuk mengamankan situasi Kota Yogyakarta pasca pengumuman hasil rekapitulasi tingkat nasional pilpres yang akan dilakukan KPU Pusat pada Selasa (22/07/2014) mendatang. 

Selain 2 kendaraan tempur tersebut, sebanyak 3 pleton atau sekitar 300 prajurit dari Batalyon Infanteri (Yonif) 403 Wirasada Pratista (WS) juga akan disiagakan di tiga titik wilayah Kota Yogyakarta yang selama ini dianggap rawan.

Komandan Kodim (Dandim) 0734 Yogyakarta, Letkol (Arh) Ananta Wira mengungkapkan, ketiga lokasi yang dinilai rawan itu yakni Kecamatan Ngampilan, Umbulharjo dan Gondokusuman. 

Kesiapsiagaan ini dilakukan karena TNI AD tak mau kecolongan serta mengambil risiko jika seandainya terjadi gesekan antar para pendukung calon pada saat pengumuman pemenang pilpres tersebut.

“Ini sebagai bentuk antisipasi. Penempatan dua panser serta pasukan TNI di tiga titik tersebut terbukti efektif saat pasca pemungutan suara kemarin. 

Hal itu akan kita lakukan kembali, namun tentunya tetap berkoordinasi dengan Kepolisian,” tegas Ananta Wira disela kegiatan pengajian Nuzulul Quran dan buka bersama para prajurit di Makodim 0734 Yogyakarta, Kamis (17/07/2014).

Ananta Wira yang juga selaku komandan operasi pengamanan TNI AD di Kota Yogyakarta ini menegaskan, walau rekapitulasi tingkat pusat dilaksanakan di ibukota Jakarta namun tidak menutup kemungkinan dampak yang ditimbulkan akan menjalar hingga ke daerah-daerah. 

Kendati demikian jika melihat dari kondisi keamanan pasca pemungutan suara tanggal 9 Juli lalu, Dandim optimis jika wilayah Kota Yogyakarta akan kondisi aman serta kondusif.

Saat disinggung mengenai pengerahan prajurit TNI AD berikut dengan kendaraan tempurnya yang dinilai berbagai kalangan terlalu berlebihan dan malah menimbulkan kesan mencekam, perwira menengah ini menegaskan jika hal itu merupakan bagian tugas jajarannya untuk melakukan pengamanan teritorial. 

Penempatan dua unit panser di Parkir Ngabean pasca pemungutan suara, menurutnya hal itu bukan lantas diartikan TNI AD sedang dalam kondisi darurat perang.

Jika hal itu dianggap sebagai bentuk ‘show of force’ (pamer kekuatan) yang dilakukan TNI AD, Ananta Wira justru menilai mereka tak memahami arti pentingnya keamanan pada suatu wilayah. 

Kehadiran prajurit TNI AD mem-backup Kepolisian malahan mendapat sambutan dari masyarakat terutama bagi mereka yang wilayahnya sering dijadikan lokasi bentokan antar kelompok.

“Kami bertindak jika memang kondisi memerlukan prajurit untuk turun langsung. Jika kondisi aman serta kondusif maka prajurit juga tidak akan terjun. Buktinya kemarin (pasca pemungutan suara) prajurit hanya berjaga biasa lalu kemudian ditarik kembali ke barak,” tegasnya.

Sumber : Krjogja