Eks Koninklijke Marine dan Kaigun, Tulang Punggung TNI AL Pada Masa Awal Kemerdekaan

Masa penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia meninggalkan manfaat berharga berupa pendidikan maritim bagi orang-orang pribumi. Keberadaan itu disampaikan oleh Kasubdis Sejarah Dinas Penerangan AL (Dispenal) Kolonel Laut (P) Roni E Turangan di kantornya saat ditemui JMOL, Senin (7/7).
 
“Banyak kaum Bumiputera yang direkrut oleh Koninklijke Marine pada masa Belanda, dan pembantu Kaigun pada masa Jepang. Walaupun status mereka hanya sebagai kelas pembantu (baca: ABK) di kapal-kapal penjajah dan untuk kepentingan penjajaah, tetapi ini modal dasar dalam membangun TNI AL pasca-kemerdekaan,” kata Roni.

Pasalnya, para Bumiputera yang direkrut baik dalam Koninklijke Marine maupun Kaigun sudah pasti mendapat pendidikan kemaritiman sekaligus pelatihan tempur di laut.

Lebih lanjut, Roni menjelaskan adanya jiwa nasionalisme dari mereka yang bekerja di kapal penjajah walaupun mendapat tekanan yang tinggi dari pihak penjajah. 

Buktinya, pasca-terjadinya World Malaise pada tahun 1933, meletus pemberontakan ABK di kapal De Zeven Provincien.

“Para pelaut Belanda selalu mengolok-olok pelaut pribumi. Mereka menganggap, pelaut pribumi itu bodoh dan tidak bisa mengemudikan kapal. Ternyata itu dibuktikan oleh pelaut pribumi di kapal De Zeven Provincien. 

Mereka berhasil mengambil alih kemudi kapal dan melintas Perairan Sumatera sampai Perairan Jawa, baru Belanda menghentikan dengan tembakan rudal,” ungkapnya.

Di masa Jepang, perkembangan pendidikan kemaritiman bagi pribumi mengalami kemajuan. 

Saat itu Jepang sudah membuka Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) dan Sekolah Pelayaran Rendah (SPR). Banyak dari siswa di sekolah itu yang sudah diikutsertakan bertempur menghadapi sekutu di Laut Pasifik.

SPT telah dubuka di beberapa kota di Indonesia antara lain Asahan, Jakarta, Tegal, Juwana, Pasuruan, dan Surabaya. Diperkirakan sebanyak 2.000 orang pribumi telah ditempa di sekolah tersebut.

“Beberapa jebolan SPT itu ada Ali Sadikin dan Sudomo, yang di kemudian hari menjadi petinggi TNI AL,” tambahnya.

Menjelang kemerdekaan, banyak siswa SPT juga terlibat saat pembacaan teks Proklamasi di Pegangsaan. Mereka berkumpul membentuk beberapa barisan di sekitar rumah Soekarno untuk mengawal jalannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Roni menyayangkan, peristiwa itu selalu luput dalam penulisan sejarah, karena yang terlihat di foto hanya beberapa orang pasukan PETA yang mengibarkan bendera merah putih.

Pasca kemerdekaan, mereka yang pernah menempa pendidikan di Koninklijke Marine dan Kaigun mendirikan BKR Laut pada 10 September 1945.

“Seragam mereka saat itu masih belum beraturan. Rata-rata warnanya biru dongker atau biru gelap, karena merupakan rampasan dari tentara Jepang. 

Selain itu, beberapa alutsista peninggalan Jepang juga digunakan oleh BKR Laut saat mengadakan pertempuran dengan Sekutu,” pungkas Roni.

Sumber : Jurnalmaritim