Foto: Mengenang Pembantaian PKI di Monumen Kresek Madiun

Foto: Mengenang Pembantaian PKI di Monumen Kresek Madiun – Aksi pembantaian PKI tak hanya terjadi di Jakarta tahun 1965 silam. Sebelumnya, pembantaian juga pernah terjadi tahun 1948 di Madiun. Peristiwa getir itu dikenal dengan Monumen Kresek yang bisa dikunjungi wisatawan.

Bila ke Madiun, yang Anda ingat pasti tentang peristiwa pembantaian PKI yang pecah tahun 1948. Kenanglah peristiwa itu dengan mengunjungi Monumen Kresek yang berada di Desa Kresek, Dungus, Kabupaten Madiun.

Beberapa waktu lalu saat berlibur ke Madiun, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu di mana letak monumen ini. Di sanalah traveler akan melihat makam korban keganasan peristiwa ini yang ditumpuk menjadi satu. Pambantaian massal, itulah istilah yang tepat.

Jika berangkat dari jantung kota Madiun, Anda membutuhkan waktu sekitar 40 menit ke sisi timur Madiun. Tetapi perjalanan menuju monumen ini tak begitu membosankan.

Sepanjang perjalanan menuju monumen ini, Anda akan melewati rumah-rumah penduduk desa, pasar tradisional yang ramai dan sekumpulan pohon-pohon jati yang rindang.

Jalanan aspal yang mengantarkan Anda ke sana sangat mulus, tak ada gelombang sedikit pun. Hanya saja banyak belokan dan jalannya naik turun bukit. Tak ada angkutan umum dari kota yang mengantar Anda ke sana. Traveler bisa menyewa kendaraan atau menggunakan jasa taksi.

Pertama kali sampai di lokasi ini suasana terlihat sepi dan angin berhembus kencang kala itu. Jarang pengunjung yang menyinggahinya. Mungkin pula orang Madiun sendiri belum tahu lokasi ini karena cukup terpencil.

Pada masa silam daerah ini masih berupa hutan jati yang menyelimuti Madiun. Kemudian peristiwa Desa Kresek mulai pecah tahun 1948. Tak pandang bulu, siapapun dibantai begitu saja oleh PKI.

Banyak tokoh-tokoh penting yang menjadi korban. Mulai dari pejabat, guru, kepala sekolah, TNI sampai penduduk setempat. Tangan korban diikat dan dibunuh hingga tewas. Mayat-mayatnya dikubur menjadi satu di tanah sekitar Monumen Kresek.

Kini traveler bisa melihat adegan pembantaian berupa patung dan beberapa relief yang mengisahkan peristiwa PKI di Madiun. Ada pula rumah pembantaian yang hingga kini tidak dibongkar. Monumen ini sudah punya fasilitas yang nyaman bagi wisatawan. Ada halaman parkir yang luas serta pendopo luas untuk berteduh santai.

Asyiknya lagi saat ke monumen ini, traveler tak perlu membayar tiket masuk. Sebaiknya jika Anda ke sana, waktu terbaik adalah pagi dan siang hari. Sebab membutuhkan waktu perjalanan yang panjang dan sepi menemani. Jika tiba di sana sore hari, Anda tak bisa berlama-lama di sana. Suasana desa pun bertambah gelap dan makin sepi. | detik.com