Helikopter Made in Bandung Dipakai oleh Orang Terkaya Hingga Tentara

Bandung -PT Dirgantara Indonesia (Persero) menggandeng produsen kelas dunia menjual beberapa tipe helikopter di Tanah Air. 

PTDI bertugas merakit dan menjual helikopter kepada konsumen di Indonesia.

Mulai tahun 1976, PTDI untuk pertama kalinya menggandeng produsen helikopter dunia, seperti MBB Jerman. MBB merupakan perusahaan yang memiliki lisensi helikopter tipe NBO 105.

Sejak awal dipasarkan hingga saat ini, BUMN produsen pesawat yang memiliki pabrik di Bandung, Jawa Barat ini telah menjual 122 unit NBO 105. Helikopter jenis ini, sangat, disukai konsumen militer hingga orang terkaya di Indonesia seperti pemilik Grup Djarum dan Gudang Garam. Bahkan pengusaha Tomy Winata juga pernah membeli helikopter jenis lain dari PT DI.

“Pembeli NBO kayak kancang goreng. Mulai dari swasta, tentara. Itu suara nggak keras. Kalau swasta ada pemilik Gudang Garam, Djarum,” kata Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh di Kantor Pusat PTDI di Bandung, akhir pekan lalu.

Sayangnya helikopter yang banyak digunakan untuk misi di Timor Timur (kini Timor Lester) ini, sudah tidak diproduksi lagi. Sebagai gantinya, PTDI menjual dan merakit helikopter Fennec buatan Eurocopter.

“Itu sudah nggak diproduksi, diganti kelas Fennec, kerjasama dengan Eurocopter. Kita yang assembly. Ini banyak dibeli TNI,” jelasnya.

Selain NBO 105, helikopter yang telah diproduksi oleh PTDI, antara lain:, NBELL 412 sebanyak 40 unit, NAS 330 Puma sebanyak 11 unit, NAS 332 Super Puma sebanyak 20 unit dan Dauphin sebanyak 2 unit.

Diakui Budiman, PTDI belum memiliki rencana untuk mengembangkan sendiri helikopter asli Indonesia. 

Rencana ini mengacu pada pajak tinggi dan regulasi kepemilikan helikopter yang masih belum mendukung. Sehingga sekarang PTDI masih fokus mengembangkan pesawat baling-baling seperti CN 235, NC212, CN 295 hinga pesawat N219.

“Engineer kita fokus ke fix wing, seperti NC212 dan CN235,” katanya.

Sumber : Finance Detik