HMS Cavalier, Saksi Kegigihan Arek Surabaya

HMS Cavalier (R73) merupakan kapal perang Inggris yang melakukan bombardir saat pertempuran Surabaya tahun 1945 berkecamuk. Pertempuran yang diakui sebagai pertempuran terhebat di dunia itu menelan korban ratusan ribu jiwa baik dari pihak Indonesia maupun sekutu (Inggris).
 
Perang yang berawal dari marahnya sekutu akibat kematian Mayjen Mallaby itu kemudian mengultimatum pejuang Indonesia di Surabaya untuk menyerahkan senjatanya kepada sekutu. Namun, pihak Indonesia sebagai bangsa yang merdeka menolak seruan itu dan tetap berupaya mempertahankan senjatanya sebagai simbol kemerdekaan. 

Ultimatum yang dikeluarkan pada 9 November 1945 itu menyulut kemarahan rakyat Surabaya. Jika ultimatum tersebut tidak dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945 maka Surabaya akan dibombardir dari darat, laut, dan udara.

Tepat 10 November 1945, tak ada satu pun pejuang Indonesia yang menyerahkan senjata dan saat itu juga, tepat pukul 06.00 waktu setempat, genderang perang terbesar yang dilakukan Inggris setelah Perang Dunia II berkecamuk. HMS Cavalier (R73), kapal perang buatan J Samuel White and Company pada 1943, turut ambil bagian dalam operasi bumi hangus Kota Surabaya.

Bersama dua kapal perang Inggris lain, HMS Cavalier (R73) bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Perak dan melepaskan berkali-kali rudal pengebom ke basis-basis pejuang Surabaya.

Kisah heroik perjuangan rakyat Surabaya yang dibantu pejuang-pejuang dari daerah lain ini ditulis Direktur Pemberitaan Kluget.Com, Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto.

Sekitar jam 9.15, milisi Surabaya mendapat kabar bahwa Jakarta menyetujui perang, lalu tembakan pertama kali terjadi di Pasar Turi dari pihak Republik. Di batas-batas kota, rakyat mulai berdatangan memasuki kota. Ratusan ribu orang memasuki Kota Surabaya, 

mempertahankan kedaulatan bangsanya yang sedang dihina Inggris dan Belanda.
Pasukan resmi tentara juga mulai mengkoordinasi. Semuanya ikut dalam barisan milisi. Pertahanan Republik langsung dibangun dari arah barat ke timur.

Wilayah Asem Jajar dijadikan wilayah perang pertama antara sekutu dan Republik. Di wilayah ini, pasukan sekutu berhasil dipukul mundur. 

Beberapa dari mereka tewas ketika pasukan bambu runcing nekat maju dan masuk ke lobang pasir di mana mitraliur ditaruh. Di selatan Pasar Turi, pasukan Inggris menerobos masuk, tapi ditembaki dari gedung-gedung oleh pasukan rakyat.

Pukul 10.12, suara pesawat menderu-deru kencang di langit Surabaya. Rupanya Inggris mengerahkan pasukan Royal Air Force (RAF) langsung dari pangkalan militernya di Burma. Pasukan RAF yang dikerahkan ini adalah veteran perang Perang Dunia Kedua yang mengebom Berlin.

Tapi sekarang, bukan Berlin yang dibom, tapi Kota Surabaya. Mereka mengebom kantor-kantor pemerintahan dan gedung-gedung sekolah. Bila tahun 1940 Inggris dibombardir Jerman maka Inggris mengulangi kejahatan Jerman dengan membombardir Kota Surabaya. Banyak orang tertembak mati terkena reruntuhan gedung, atau tertembak mitraliur pesawat. Inggris seperti pasukan gila yang mengamuk habis-habisan.

Tapi Inggris belum kenal watak orang Surabaya yang panas. Pasukan rakyat kemudian mengambil beberapa mitraliur anti-pesawat buatan Jepang dan menembaki skuadron pasukan RAF. Dua pesawat tertembak. 

Salah satunya, seorang jenderal bernama Brigjen Robert Guy Loder Symonds, komandan pasukan artileri yang sedang melakukan survei udara. Jenderal ini kemudian dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di Kramat Pulo, Menteng.

Pertempuran makin meluas sampai ke Kali Mas. Di pinggir Kali Mas, pasukan sekutu langsung menggempur pasukan rakyat. Jam 12 siang hari pertama, pasukan infanteri mulai mendarat sekitar 20 ribu orang. Inilah pasukan terbesar Inggris setelah perang dunia selesai dan merupakan perang paling brutal sepanjang sejarah pertempuran pasukan Inggris.

Dari radio, hampir seluruh rakyat Indonesia menunggu laporan-laporan dari perkembangan perang. Mereka menunggu pidato Bung Tomo. Semua mendekatkan telinga di radio. 

Pada hari itu juga banyak dari orang-orang Indonesia di tempat lain menyiapkan diri untuk perang ke Surabaya. Sekitar 20 ribu orang Bali bersiap masuk ke Surabaya. Beberapa bisa menyusup dan langsung menggempur sekutu.

Dari Aceh disiapkan ribuan orang. Di Medan, ribuan orang berkumpul untuk bersiap diberangkatkan ke Surabaya. Di Lombok Mataram, di depan para ulama, rakyat Lombok siap mati dan akan berangkat ke Surabaya.

Di Yogyakarta sudah mulai ada pengiriman pasukan. Bahkan Malang sudah mengirim pasukan. Sementara Djakarta masih menunggu perkembangan. Penggede-penggede Jakarta masih berharap, perang bisa diselesaikan dengan cepat.

Memutus Jalur Logistik

Di wilayah lain di luar Surabaya, Jenderal Sudirman dan para stafnya memutuskan untuk memotong rantai logistik sekutu. Jadi, 20 ribu pasukan infanteri terlokalisasi dan digebuki rakyat Surabaya.

Taktik ini berhasil. Laskar-laskar rakyat di Jawa Barat menghadang pasukan logistik sekutu yang hendak masuk dari arah barat. 

Di Malang, gudang logistik pasukan sekutu dihancurkan. Otomatis selama lima hari pasukan sekutu terkunci dari semua pintu masuk kota, sementara ribuan orang Indonesia terus mengalir memasuki kota dengan senjata apa adanya berperang melawan sekutu.

Pasukan sekutu mulai kebingungan, karena logistik tidak ada. Bantuan tempur logistik yang diterjunkan dari pesawat diambil orang-orang Republik, bahkan nyaris tidak ada logistik yang berhasil didapatkan pasukan Inggris. 

Mereka terkunci dan terkepung oleh seluruh orang Indonesia yang mengitari mereka. Keberadaan pasukan Inggris dari Brigade 49 tinggal menghitung waktu.

Pos pasukan Inggris di mana pun diblokade total. Tak ada listrik, tak ada makanan. Mereka harus berjaga 24 jam agar tidak ditembaki pasukan Republik yang terus-menerus enggan berhenti.

Pada hari kelima, tembakan pasukan sekutu mulai berkurang. Pasukan Inggris kehabisan amunisi. Beberapa orang Surabaya nekat masuk ke pos-pos Inggris dan meledakkan granat. Hal inilah yang ditakutkan tentara Inggris. 

Dalam kondisi rusak mental ini, pasukan Brigade 49 mulai berteriak-teriak ke markas mereka di Jakarta bahwa mereka sudah terdesak.

Begitu pun dengan HMS Cavalier (R73) yang sudah kehabisan amunisinya dan mundur ke Jakarta. Setahun kemudian, pada 1946, kapal ini kembali ke Portsmouth Inggris dan membawa cerita mengenai kegigihan rakyat Surabaya dan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya.

Makna Hari Pahlawan

Sementara itu, pengamat militer dari Indomiliter, Haryo Adjie Nogo Seno, mengungkapkan, peristiwa heroik yang terjadi di Surabaya saat itu merupakan bukti bahwa Indonesia adalah bangsa petarung.

“Pertempuran Surabaya bisa dimaknai bahwa sejatinya kita adalah bangsa petarung yang berani. Setidaknya dalam konteks masa kini, bisa jadi inspirasi bagi prajurit-prajurit yang bertugas di garis depan,” ujar Adjie.

Dari pertempuran itu, akhirnya ditetapkan sebagi momentum Hari Pahlawan oleh pemerintah RI dan menjadi hal terpenting untuk dijadikan pelajaran bagi generasi saat ini.
“Hari Pahlawan penting untuk ditanamkan sebagai bagian dari rasa warga negara dan bukti nasionalitasnya,” tambahnya.

Dalam konteks membangun Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia yang saat ini didengungkan oleh pemerintah, Adjie menilai, momentum ini bisa membangkitkan semangat untuk itu.

“Peristiwa pertempuran besar di Surabaya jelas dapat membangkitkan semangat dan percaya diri bagi bangsa ini untuk melakukan banyak hal, termasuk mewujudkan poros itu,” tutupnya.

Sumber : Jurnalmaritim