Ini Harapan LAPAN Terhadap Visi Misi IPTEK Capres

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan teknologi mempunyai peran penting dalam membangun negeri sebagai bentuk kemandirian bangsa. 
Oleh karena itu dirinya berharap calon presiden bisa memperhatikan industri sains dan teknologi dan bisa menerapkannya saat berkuasa nanti.

Ketika disinggung debat calon presiden dan wakil presiden keempat yang akan menyinggung soal Iptek, Ketua Lapan, Thomas Djamaludin mengaku menaruh harapan besar kepada dua calon pemimpin tersebut untuk dapat meningkatkan dan memberi perhatian pada teknologi dalam negeri.

“Dalam waktu dekat ini memang belum ada rencana diskusi dengan kedua capres. Kami selama ini berupaya menyampaikan harapan-harapan bahwa Iptek harus dikembangkan agar ingin maju. 

Namun hanya sebatas penyampaian ke Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek),” kata Thomas saat ditemui di Kantor Lapan, Jakarta Timur, Senin 23 Juni 2014.

Dirinya berharap besar jika kedua pasangan bisa menaruh perhatian tentang itu dan bisa dengan amanah melaksanakannya. 

Pasalnya, lanjut Thomas, dirinya khawatir jika Indonesia hanya akan menjadi bangsa pengikut jika untuk urusan teknologi dan satelit saja harus mengandalkan asing.

“Kalau teknologi atau satelit saja mengandalkan luar negeri, kita bakal terus jadi bangsa pengikut. Pemerintah masih belum memberi perhatiannya kepada bidang sains dan teknologi. Padahal teknologi bisa membangun bangsa menjadi maju,” ujar Thomas.

Salah satu cara untuk mencegah ketergantungan tersebut, Lapan baru saja mencapai kesepakatan dengan pemerintah daerah. Lapan ingin memacu pemda agar mau mengandalkan satelit yang dimiliki.

Sayangnya, meski banyak hal bisa dilakukan untuk mengembangkan teknologi satelit ini, Lapan masih harus menghadapi pemotongan anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk riset di bidang satelit.

“Anggaran Lapan tahun 2014 totalnya sekitar Rp789 miliar. Itu total setelah dipotong Rp99 miliar di bagian risetnya. Pemotongan ini dilakukan sebagai bagian dari penghematan anggaran negara oleh pemerintah,” keluhnya.

Angka anggaran Lapan tahun ini, menurut Thomas, jauh di bawah angka pembelian slot satelit yang dilakukan oleh sebuah bank dalam negeri. 

Kala itu, bank dalam negeri tersebut membeli slot satelit komunikasi seharga Rp2,5 triliun dari pihak asing. Padahal, menurutnya, bila menggunakan satelit buatan sendiri maka hal itu bisa diminimalisir.

Bank Rakyat Indonesia memang telah menggantikan Indosat dalam mengelola slot orbit satelit 150,5 derajat Bujur Timur (BT). BRI mengklaim diri sebagai bank pertama di dunia yang mengelola slot orbit dan memiliki satelit sendiri. 

Proses pembelian satelit memakan dana US$250 juta dan telah rampung April lalu. BRI akan menggunakan satelit tersebut pada 2016 nanti.

Sebagai Ketua Lapan, Prof. Thomas mempunyai mimpi besar untuk memproduksi satelit sendiri berikut tempat peluncurannya, mirip dengan NASA dan Cape Canaveral-nya.

 
 Sumber : Viva