Ironi Pos Penyangga Perbatasan Indonesia-Malaysia (Bagian I dari 3 Tulisan)

Pos penyangga perbatasan. Demikian status Pos Rayon Militer (Posramil) Kecamatan Sungai Boh, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Namun, kondisi pos ini tidak seprestisius status kemiliterannya.

Reporter Kompas.com, Fabian Januarius Kuwado, bertemu Komandan Posramil tersebut, awal Desember 2014 lalu. Pertemuan kami terjadi di sela acara safari Natal 2014 Bupati Malinau Yansen Tipa Padan ke sejumlah desa pedalaman di Malinau.

Fabian bersama fotografer Kompas.com, Fikria Hidayat dan Kristianto Purnomo, sejak 1 Desember 2014 turut menjelajahi pedalaman Malinau, Kalimantan Utara, dalam rangkaian safari tersebut.

Pada satu sore

“Selamat sore, Mas. Saya Lalu Ubaidilah, Danposramil Sungai Boh,” lelaki tegap itu memperkenalkan diri. Jabatan tangan pria berpangkat Sersan Kepala TNI itu erat sekali, khas seorang anggota militer.

Lalu adalah anggota TNI AD Satuan Raider angkatan 1997. Batalyon 613 Tarakan menjadi tempat tugas pertamanya. Dia kemudian dipindahkan ke Batalyon 600 Balikpapan. Di Posramil Sungai Boh ini dia telah memasuki tahun ketiga penugasan.

Penempatannya berada di bawah Komando Distrik Militer (Kodim) 0910 Malinau, Kalimantan Utara. Hari itu, kami mengobrol santai di teras rumah kayu milik salah satu warga.

Hari menjelang sore. Awan gelap menggelayut di langit timur. Sembari duduk di kursi kayu menghadap ke jalan depan rumah, pria yang mengenakan seragam lengkap TNI itu mulai bercerita tentang bagaimana kondisi pos penyangga perbatasan yang sesungguhnya…

Posramil Sungai Boh terletak di Desa Mahak. Secara geografis, kecamatan desa tersebut terletak sebelum Kecamatan Kayan Selatan, kecamatan yang langsung bersinggungan dengan perbatasan Indonesia-Malaysia. “Makanya, pos kami ini berstatus penyangga perbatasan. Kami berada di second line,” ujar Lalu.

Letak di garis kedua terdepan bukan berarti berfungsi pelengkap pertahanan semata. Sebagai pos penyangga perbatasan, ia juga punya fungsi strategis pertahanan.

Pertama, pos ini berfungsi sebagai pemantau potensi penyelundupan barang, baik dari Indonesia ke Malaysia maupun sebaliknya. Kedua, penyangga perbatasan juga menjadi titik distribusi barang dari kota-kota besar di Kalimantan ke perkampungan di perbatasan.

Sejak beberapa tahun terakhir, barang-barang kebutuhan warga perbatasan sudah mulai dipasok dari dalam negeri. Hal itu terjadi begitu Pemerintah Kabupaten Malinau membuka jalan dari kota ke desa-desa itu.

“Kalau dulu kan barang-barang dari Malaysia semua. Sekarang sudah bagus, barang-barang dari Samarinda dan kota lain,” ujar Lalu. (Baca: “Dulu, Orang Indonesia Sudah kayak Pencuri…”).

Ketiga, pos penyangga juga menjadi sumber bala bantuan terdekat jika terjadi gangguan keamanan di pos perbatasan Indonesia-Malaysia, Pos Long Nawang, lokasi yang sering disebut sebagai beranda Nusantara.

Ironi

Di tengah tanggung jawab sebagai garis kedua pertahanan, Posramil tempat Lalu bertugas ternyata masih menumpang bangunan milik warga. Lalu dan rekannya juga mesti berkebun untuk memenuhi nutrisi mereka sendiri selama bertugas. Bahkan, mereka sering kali membantu panen warga demi mendapatkan hasil panen yang disisihkan.

Bagaimana kondisi mereka selengkapnya? Bagaimana mereka bisa bertahan di tengah tanggung jawab yang besar? Apa kata atasan melihat kondisi mereka? Ironi di penyangga perbatasan akan Kompas.com tuturkan lewat penggalan artikel selanjutnya. Tunggu kisah mereka di bagian kedua tulisan ini….

Sumber : Kompas