Ironi Pos Penyangga Perbatasan Indonesia-Malaysia (Bagian II dari 3 Tulisan)

“Selamat sore, Mas. Saya Lalu Ubaidilah, Danposramil Sungai Boh,” lelaki tegap itu memperkenalkan diri. Jabatan tangan pria berpangkat Sersan Kepala TNI itu erat sekali, khas seorang anggota militer.

Pada satu sore di awal Desember 2014, reporter Fabian Januarius Kuwado berkesempatan berbincang dengan Lalu, di sela Safar Jelang Natal 2014 bersama Bupati Malinau, Yansen Tipa Padan. Fabian mengikuti safari ini bersama fotografer Fikria Hidayat dan Kristianto Purnomo.

Pos pinjaman dari bekas warung

Hari kian sore. Awan hitam yang sebelumnya hanya mengintai di langit timur, kini mulai merangsek tepat di atas rumah kayu, tempat kami dan Lalu mengobrol. Hari menjelang hujan.

Posisi kami belum berubah. Lalu duduk di kursi kayu menghadap ke jalan. Sementara saya menghalangi pandangannya ke jalan. Yang berubah hanya munculnya kepulan asap rokok yang disesap ayah tiga anak tersebut.

“Kondisi kami di sini cukup memprihatinkan, Mas,” ujar pria yang sudah berpindah ke tiga Batalyon di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut.

Posramil Sungai Boh terletak di Desa Mahak. Secara geografis, kecamatan desa tersebut terletak sebelum Kecamatan Kayan Selatan, kecamatan yang langsung bersinggungan dengan perbatasan Indonesia-Malaysia. Oleh sebab itu, pos tersebut berstatus penyangga perbatasan.

Lalu baru bertugas selama tiga tahun di pos penyangga perbatasan. Namun, dia tahu betul bagaimana sejarah berdirinya pos tersebut. “Pos kami berada di Desa Mahak. Pos itu baru didirikan sekitar tahun 1990. Namun, baru beberapa tahun saja, posnya rubuh diterjang angin,” ujar dia.

Pertanyaan besar yang menghinggapi benak para pendahulu Lalu adalah mencari pengganti tempat berteduh dan bekerja. Membangun pos baru bukan pilihan tepat saat itu. Komunikasi dengan warga adat pun jadi alternatif yang tersedia.

Proses komunikasi cukup panjang harus dilakukan sebelum para prajurit diizinkan menggunakan sebuah bangunan bekas warung kayu milik warga di pinggir kampung sebagai Posramil. Saat itu, kondisi bekas warung tersebut jauh dari kata “layak”.

Meski cukup luas, berukuran sekitar 6×12 meter persegi, tidak ada satu pun perabotan tersedia. Catnya luntur, seluruh interior penuh debu dan sarang laba-laba, beberapa papan kayu pun bolong.

“Akhirnya personel memperbaikinya sendiri. Ya Alhamdulilah, sekarang sudah kelihatan, kalau bisa dibilang kantor, ya kantorlah,” ujar Lalu.

Papan luar pos dicat hijau. Papan yang bolong diganti sendiri. Seluruh ruangan dalam dibersihkan dari debu. Ruangan dalam yang tadinya los–melompong–diberi sekat. Jadilah 7 ruangan, mulai dari tempat laporan dan ruang tamu, lima kamar personel, serta dapur di bagian belakang.

Biaya perbaikan warung yang disulap jadi pos itu? Dari kantong para prajurit yang saat itu bertugas di sana. Selebihnya mengandalkan bantuan masyarakat adat setempat, terutama untuk penyediaan papan kayu untuk dinding pos.

Tak ada respons

Tentu, kondisi pos tetap saja jauh dari standar. Mestinya, pos sekelas penyangga perbatasan memiliki fasilitas olahraga, gudang senjata, dan ruangan tahanan. Namun, apa daya? Bagi mereka, ada bangunan untuk kantor saja sudah beruntung.

Semula, tutur Lalu, peminjaman warung untuk pos tersebut hanya untuk langkah darurat. Rubuhnya pos juga sudah dilaporkan. Namun, waktu berlalu, respons tak ada. Alhasil, sampai hari ini, bekas warung tersebut tetap menjadi kantor bagi Lalu dan lima personel lain.

Seiring dengan waktu, kekhawatiran muncul, yaitu untuk sewaktu-waktu pemilik warung meminta kembali bangunan itu. Bagaimana tugas sebagai pos penyangga perbatasan? Sembari menata posisi baret hijaunya, Lalu menjawab sendiri kekhawatiran itu dengan berkata, “Sebagai prajurit, kami tak boleh mengeluh. Apa yang ada ya itu saja yang kami jaga dan rawat.”

Persoalan juga bukan soal pos yang sejatinya adalah bekas warung dan berstatus pinjaman. Kehidupan prajurit di pos ini juga tak sederhana. Tak ada keluarga mendampingi, tunjangan kesejahteraan tak seberapa, harga barang tinggi, sementara aneka kebutuhan menyesaki keseharian mereka.

Bagaimana cara para prajurit ini bertahan hidup? Tunggu cerita Lalu selanjutnya di bagian tiga tulisan ini…

Sumber : Kompas