Jika Anak Di-“bully” di Sekolah


Katakepo.blogspot.com – Bu Ainy, apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai orangtua jika anak mengalami bullying di sekolah? Supaya anak saya tidak menjadi minder dan takut bersekolah, apakah kita harus membalasnya, atau kita sebaiknya selalu mengajarkan kebaikan kepada anak? 
Ika Sufiana Putri (31)

Ibu Ika yang luar biasa,
Saya bisa memahami perasaan Anda saat ini. Sebagai seorang Ibu yang mendapatkan putra/putrinya di-bullying di sekolah, tentu saja ini membuat kita sedih. Hanya, kita harus mencari jalan keluarnya, bukan? Sayangnya, Ibu tidak menyebutkan berapa usia putra/putri Ibu sekarang dan seperti apa bentuk bullying-nya. Apakah kekerasan fisik seperti memukul, atau perkataan yang bernada mengancam dan merendahkan?

Untuk mendampingi anak yang mengalami bullying di sekolah dibutuhkan keterbukaan, apresiasi, dan pemberdayaan diri. Caranya? Pertama, ajak putra/putri Anda untuk berbicara dari hati ke hati. Tanyakan kepadanya, sikap bullying seperti apa sajakah yang ia hadapi dari teman-temannya di sekolah selama ini.

Biarkanlah ia bercerita apa adanya. Kemudian, tanyakan kepadanya, selama teman-temannya melakukan bullying, apa yang ia lakukan? Apakah ia diam saja atau membalas mereka? Tanyakan juga kepadanya apa yang dirasakan saat teman-temannya mem-bullying dia?

Jika anak Anda diintimidasi kata-kata, katakan kepada anak Anda bahwa apa yang mereka katakan itu tidaklah benar. Tunjukkan kepada anak Anda akan berbagai kelebihan dan nilai positif di dalam dirinya. Katakan kepadanya bahwa Anda sangat bangga kepadanya.

Kedua, undanglah anak-anak yang melakukan bullying itu untuk bermain dan makan bersama di rumah. Agar tidak mencolok, undanglah teman-teman lainnya. Ketika mereka bermain di rumah, ajaklah teman-teman yang mem-bully anak Ibu ini untuk ngobrol bersama anak Ibu, bahkan bermain bersama. Ini adalah momen yang penting untuk membangun jembatan komunikasi. Bangunlah keakraban di antara mereka.

Selama anak-anak yang melakukan bullying ini bermain ke rumah Ibu, hindari menyinggung sikap mereka yang sering mem-bully anak Ibu. Sebaliknya, tunjukkan dengan penuh cinta bahwa di dalam diri mereka banyak sifat baiknya. Ajaklah mereka bermain kembali ke rumah Anda bersama anak mereka. Ini untuk membangun komunikasi dan kepedulian. Ucapkanlah terima kasih kepada mereka yang berkenan main bermain di rumah Anda bersama anak Anda.

Amati perubahan mereka. Baik sikap anak Anda maupun sikap teman-temannya itu. Ucapkan terima kasih kepada anak Anda yang berbesar hati mau mengajak teman-temannya itu main ke rumah. Katakan kepada anak Anda akan betapa Anda bangga melihat sikap anak Anda yang luar biasa ini.

Ketiga, jika teman-temannya itu tetap melakukan bullying kata-kata, doronglah anak Anda untuk melawan dengan cerdik. Ajarkan anak Ibu untuk membalasnya dengan kata-kata yang berlawanan. Misalnya, jika anak Ibu disapa:

– “Hai gendut” maka dia bisa menjawab “Hai kurus”
– “Hai kuper” jawab saja “Itu sih kata kamu”
– “Hai penakut” jawab saja “itu sih menurut kamu”

Setiap kali teman-temannya mengintimidasi jawab saja dengan kalimat yang sama “itu sih kata kamu”. Pengulangan kalimat yang sama ini akan membuat teman-temannya merasa bosan mengintimidasinya. Doronglah anak Anda untuk berani bersikap dengan cara membalas perkataan mereka dengan cara yang cerdik.

Tetapi, jika teman-temannya melakukan bullying fisik, sudah seharusnyalah Ibu berbicara dengan wali kelasnya. Ini untuk memberi tahu pihak sekolah bahwa muridnya melakukan kekerasan fisik.

Lihatlah perkembangannya. Jika ternyata hal ini masih berlanjut di mana teman-temannya masih melakukan kekerasan fisik, pilihan terakhir adalah pindah sekolah. Selamat mendampingi anak Anda dengan penuh cinta!