Kekuatan Pertahanan Harus Dibangun Untuk Daya Tangkal

Keinginan Indonesia untuk membangun pertahanan yang kuat dan setara dengan negara besar lain adalah suatu hal yang wajar. Kekuatan pertahanan harus dibangun dalam rangka meningkatkan daya tangkal atau deterrence effect, karena Indonesia adalah negara yang besar dan memiliki kekayaan sumber daya alam.
 

Demikian dikatakan Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu saat memberikan pengarahan kepada para Perwira Siswa Pendidikan Dasar Kecabangan Infanteri (Diksarcabif) TA 2014, Senin Malam (29/12) di Pusat Pendidikan Infanteri TNI AD, Bandung.

Lebih lanjut, Menhan mengatakan, bahwa saat ini kekuatan pertahanan Indonesia berada pada urutan 19 dunia dan urutan sembilan di Asia Pasifik. Dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang, diharapkan kekuatan pertahanan Indonesia akan mampu masuk dalam jajaran 10 besar dunia, atau setidak-tidaknya urutan  ke 15. 

Untuk mencapainya, maka seluruh komponen utama termasuk para perwira TNI harus mempunyai kemauan keras, upaya serta obsesi kuat untuk meningkatkan kualitas diri dan profesionalismenya. Sebagai pemimpin, para perwira TNI  harus memiliki kepekaan dalam menghadapi dinamika perkembangan global yang sangat dinamis.

Berkaitan dengan tantangan dan tugas yang semakin berat di masa mendatang, Menhan lebih lanjut menekankan kepada para perwira TNI untuk senantiasa berpegang teguh kepada jati diri TNI, yaitu prajurit yang berjiwa SAPTA MARGA, menjunjung tinggi sumpah prajurit, kode etik, patuh dan taat pada norma hukum serta menghormati kearifan lokal.

Selaku sesepuh Infanteri, Menhan dalam kesempatan yang baik tersebut juga menekankan kepada seluruh perwira Diksarcabif untuk mempedomani dan melaksanakan beberapa hal meliputi: Pertama, jadilah pemimpin yang amanah, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, jaga dan amalkan kode etik kehormatan perwira “Budi Bhakti Wira Utama” yang merupakan cerminan jati diri TNI, moral, etika keprajuritan serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, pelihara kualitas, loyalitas dan integritas sebagai perwira serta tumbuhkembangkan budaya belajar dan berlatih untuk meningkatkan profesionalisme di bidang masing-masing.

Keempat, mantapkan dan perkokoh semangat persatuan dan kesatuan TNI menuju tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa. Dan terakhir,  Kelima, jadilah prajurit Yudha Wastu Pramuka sejati yang memegang teguh komitmen bahwa politik TNI adalah politik negara yang mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Hadir mendampingi Menhan dalam pengarahan ini, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Dedi Kusnadi Thamim, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) Kodiklat TNI AD Mayjen TNI Hinsa Siburian dan pejabat di jajaran Pusdikif Pussenif Kodiklat TNI AD.
Sumber : Kemhan