Ketua PPAL: Indonesia Butuh Kapal Induk

Menyoal masalah pertahanan laut dengan konsep outward looking, Ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL), Laksamana (Purn) Achmad Sutjipto, menyampaikan bahwa TNI AL membutuhkan kapal induk.
 
“Kita sangat perlu sekali kapal induk. Karena, dalam manuver capability terkait dalam olah gerak, dan itu memerlukan kapal induk,” ucap Achmad.

Achmad mempersoalkan kesalahan cara berpikir dalam masalah prinsip yang mengacu pada Pembukaan UUD 1945. Dari situ, TNI selalu dianggap memegang prinsip cinta damai dan bertahan, serta anti-ekspansi.

“Jika Panglima TNI katakan kita tidak perlu kapal induk, karena kita tidak mempresisikan kemampuan kita untuk keluar. Menurut saya, lebih kepada pernyataan politik saja, supaya TNI tidak dituduh ekspansi,” paparnya.

Pasalnya, kapal induk kerap digunakan negara-negara kontinental yang cenderung ekspansif seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Sedangkan Indonesia sangat anti terhadap penjajahan atau ekspansi.

“Pertahanan terbaik adalah dengan menyerang. Indonesia merupakan negara besar. Tidak mungkin kita hanya melihat dan duduk manis. Kita tidak bisa melihat situasi yang berantakan di depan kita. Kita harus menjadi anchor-nya (jangkar—red) Asia Tenggara. 

Kita tidak bisa melihat Tiongkok merajalela, Amerika merajalela. Tidak mungkin itu. Ada saatnya kita bicara di Lautan Pasifik dan ada saatnya kita bicara di Laut Tiongkok Selatan,” tegasnya.

Jadi, Achmad menjelaskan implementasi dari maksud ‘ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial’ harus dengan membangun kekuatan, khususnya TNI AL dengan beberapa kapal induk.

“Tidak ada zero enemy, karena akan tiba saatnya kepentingan nasional kita bersinggungan dengan kepentingan negara lain. Tidak mungkin kita korbankan kepentingan kita untuk orang lain,” tutur Achmad penuh semangat.

Ditempatkan di Samudera Hindia

Sementara itu, menurut mantan KSAL, Slamet Subijanto, dengan luas permukaan laut sekitar 6 juta km2, idealnya kekuatan angkatan laut Indonesia sama dengan Eropa. Indonesia membutuhkan kapal induk yang dapat mengiringi patroli di daerah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

“Kapal induk dapat menampung pesawat udara dan helikopter. Semua persoalan akan mudah diselesaikan,” ungkap Slamet.

Menurut Slamet, pernah digembar-gemborkan, pulau-pulau kecil itulah kapal induknya. Namun, itu keliru. Karena, tidak ada mobilitas.

“Itu kan konsep mengerdilkan angkatan laut. Ada biaya perawatan, kemudian jika terjadi di jarak lebih 200 mil, perjalanan ini juga akan makan waktu. Pesawat juga tidak bisa berhenti di udara, kan?” ungkapnya.

Ia mengatakan, paling tidak, Indonesia membutuhkan tiga unit kapal induk. Semua kapal induk ditempatkan di Samudera Hindia. Karena, di sana masa depan Indonesia.

“Makanya saya bangun pangkalan laut di sana, karena dalam rangka kepentingan ke depan, Samudera Hindia. Di laut selatan, sekarang yang berkuasa, kita dan Australia. Australia sudah memulai membuat semacam kapal induk,” papar Slamet.

Sumber : Jurnalmaritim