Kisah TNI kesulitan lawan sumpit dan panah warga Serawak

Pada tahun 1962, TNI menggelar operasi militer untuk menumpas Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU). Sebenarnya, keberadaan PGRS/PARAKU ini tidak bisa dilepaskan dari konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia.

Saat Dwikora, Presiden Soekarno memerintahkan sukarelawan dan militer untuk menggagalkan negara boneka bentukan Inggris di Serawak. TNI juga melatih rakyat Serawak untuk bertempur melawan Malaysia. Mereka biasa disebut Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU).

Namun setelah lengsernya Soekarno, pasukan bentukan ini justru diperangi oleh tentara Malaysia dan Indonesia karena Soeharto bekerja sama dengan Malaysia untuk menumpas komunis. Pasukan TNKU ini pun kemudian berubah nama menjadi PGRS/PARAKU.

Banyak kisah menarik dari operasi militer kalimantan utara ini.

Slamet (71), masih mengingat jelas pengalamannya saat ditugaskan ke Kalimantan. Saat itu pangkatnya prajurit satu (Patu) di kesatuan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud). Masih segar dalam benaknya dia harus diturunkan di hutan belantara Kalimantan, tanpa mengenal medan dan harus melawan pasukan gerilya yang telah dilatih oleh TNI.

Saat berjaga malam di Kapuas, para prajurit ini harus waspada oleh serangan pasukan PGRS/PARAKU. Pasukan gerilya ini dilengkapi senjata api, panah dan juga sumpit racun khas dayak.

“Sumpit ini apabila ditiup bisa langsung menembus jantung dan tepat di dada. Efek dari sumpit racun khas kalimantan ini bisa membuat keracunan dan susah bernapas, perlahan lahan mematikan korban,” kata Slamet saat berbincang dengan merdeka.com di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (27/2) .

Untungnya Pasukan TNI juga didukung oleh masyarakat kalimantan, yang siap mengobati apabila pasukan terkena serangan sumpit pasukan PGRS/PARAKU. Saat obat-obatan TNI tak mempan, justru ramuan khas Kalimantan yang bisa menyelamatkan para prajurit.

Tak cuma sumpit yang menakutkan. Para pemanah juga bisa membunuh musuhnya dengan senyap dan mematikan.

“Pasukan TNI tidak bisa tidur di darat. untuk menghindari patroli musuh mereka tidur di pohon-pohon,” kenang Slamet.

Tak cuma serangan, gerilyawan PGRS/Paraku juga jago memasang ranjau. Mereka biasa menggunakan ranjau jepit untuk binatang buas. Selain itu, lumpur isap ditutupi dedaunan. Pasukan yang menginjak bakal langsung tersedot ke dalam lumpur tersebut.

Namun yang paling ironis adalah pasukan TNI harus menumpas para gerilyawan yang dulu sebenarnya mereka ciptakan dan mereka latih. Karena kebijakan politik mereka harus berdiri berhadap-hadapan di medan perang.

Sumber : Merdeka