Klaim Perbatasan Indonesia

Menurut pengamat intelijen, Herman Ibrahim, Indonesia rawan konflik dengan sepuluh negara tetangga.
 
“Dengan India kita berebut pengaruh di Laut Andaman yang masuk Zone Ekonomi Eksklusif Nusantara. Dengan Malaysia, ada problem garis perbatasan sepanjang Kalimantan Utara dan klaim Malaysia atas Laut Ambalat,” ungkap Herman.

Dengan Singapura, sambungnya, ada problem perluasan daratan yang dengan sendirinya menggeser batas laut.

“Ironisnya, perluasan daratan Singapura itu diuruk dari tanah yang diambil dari Indonesia. Singapura juga tiap hari melanggar wilayah udara Indonesia yang akhirnya wilayah udara Riau-Natuna itu disewakan kepada Malaysia,” paparnya.

Dengan Vietnam, lanjutnya, Indonesia menghadapi klaim Pulau Sekatung di Kepulauan Natuna yang menurut peta dasar Laut Tiongkok Selatan, pulau tersebut masuk batas landas kontinen Vietnam.

“Dengan Filipina kita menerima gugatan tentang status Pulau Miangas. Ada negara baru bentukan AS di Laut Utara Jayapura yang posisi negara baru itu ada di wilayah Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia sebagai Negara Kepulauan,” ucap Herman.

Seperti diketahui, jelas Herman, Deklarasi Djuanda tentang Negara Kepulauan RI dan ZEE-nya baru mendapat pengakuan PBB pada 1982.

“Dengan Papua Nugini kita menghadapi insurjensi Bangsa Papua (OPM—red) di sepanjang garis perbatasan yang sangat panjang dan sulit dikontrol jika OPM itu mengambil basis gerilia dengan jalur logistik dari Papua Nugini tersebut. 

Dengan Timor Leste dan Australia kita menghadapi klaim Segitiga Celah Timor yang kaya minyak,” pungkasnya.

Sumber : Jurnalmaritim