Kompleksometri

Salah satu cara penetapan kadar suatu ion logam berdasarkan terbentuknya suatu senyawa kompleks antar ion logam dengan senyawa pembentuk kompleks ialah dengan kompleksometri (oh ya???). Senyawa pembentuk kompleks sebagai donor elektron sedangkan ion logam yang bertindak sebagai akseptor elektron. Dalam larutan alkali, pembentukan kompleks lebih efisien dan lebih stabil. Namun, jika terlalu alkali, perlu diwaspadai akanterbentuknya endapan logam teroksidasi.

Liganda unidentat adalah liganda (molekul donor elektron) yang ikantannya pada ion logam hanya pada satu tempat saja, jika terdapat pada banyak tempat disebut liganda poli/multiudentat seperti dinatrium EDTA (senyawa yang dengan banyak kation membentuk kompleks dengan perbandingan 1 : 1). Umumnya, indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah indikator logam yang mempunyai stabilitas yang lebih kecil dari dinatrium EDTA-logam dan bersifat sebagai liganda yang membentuk kompleks-logam yang warnanya berbeda dengan warnanya sendiri.

TEORIe jang seSINGKAT-jingkatnya

Persyaratan mendasar dalam titrasi kompleksometri ialah terbentuknya kompleks molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan adalah kelarutan tingkat tinggi, seperti kompleks logam dengan EDTA. Demikian juga titrasi dengan merkuro nitrat dan perak sianida juga dikenal sebagai titrasi kompleksometri (Khopkar, 1990).

Daerah di sekitar ion logam pusat di mana ligand-ligand (valensi tambahan bertanggung jawab dalam ikatan dengan gugus koordinasi) ditemukan dinamakan lengkung koordinasi (Petrucci, 1985).

Terbentuknya ikatan kovalen parsial dengan ligand diakibatkan oleh adanya interaksi antara ion logam pusat dengan ligand yang melibatkan pembagian pasangan elektron bebas ion logam pada tiap molekul ligand. Ion kompleks seperti ini mempunyai warna gelap namun mencolok (Oxtoby, 2001).

M(H2)n + L M(H2O)(n-1)L + H2O

Di persamaan tersebut, ligand L dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, dengan penggantian molekul-molekul air berturut-turut selanjutnya dapat terjadi, sampai terbentuk kompleks MLn, di mana n adalah bilangan koordinasi dari ion logam itu, dan menyatakan jumlah maksimum ligand monodentat yang dapat terikat padanya (Vogel, 1994).

Dengan efek sepit, kompleks-kompleks yang dibentuk ion asetat memililki kestabilan Yang rendah dengan hampir semua kation polivalen, dan akan menjadi jauh lebih kuat karena terbentuk oleh kebanyakan kation logam. Asam-asam aminopoli karboksilat merupakan zat-zat pengompleks yang baik sekali (Vogel, 1994).

keterangan lebih lanjut, hub kakak tingkat terdekat untuk meminjam buku:
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Ed. IV. Depkes RI. Jakarta.
Oxtoby. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Erlangga. Jakarta.
Petrucci, Ralph H. 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga. Jakarta.
Khopkar, S. M. 1990.
Konsep Dasar Kimia Analisis. UI Press. Jakarta.
Vogel. 1994. Kimia Analisis Kualitatif Anorganik. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

ada yang mau menambahkan?

Kata kunci yang digunakan pengunjung untuk sampai ke tulisan ini:

kompleksometri (2137) | titrasi kompleksometri (885) | prinsip titrasi kompleksometri (121) | metode kompleksometri (88) | prinsip kompleksometri (77) | prinsip kerja kompleksometri (60) | PEMBAGIAN LIGAN (56) | indikator kompleksometri (53) | indikator titrasi kompleksometri (33) | kompleksometri adalah (30) | titrasi kompleksiometri (29) | analisis kompleksometri (28) | analisa kompleksometri (25) | kompleksiometri (23) | senyawa kompleksometri (22) | prinsip dasar kompleksometri (14) | prinsip titrasi argentometri (13) | prinsip titrasi (12) | kompleksometri edta (12) | makalah kompleksometri (2) |