KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376 dalam Bingkai Pilpres (2)

Lorong sempit membuat awak media berjalan satu per satu mengikuti langkah cepat Ario. Di belakang, Suharto mengikuti dengan beberapa teman wartawan media lain. 

Suharto sempat berhenti di sebuah bagan berpigura yang menempel di dinding lorong. Bagan itu berisi daftar Komandan yang pernah memimpin KRI ini. 

Foto, nama lengkap, pangkat dan lama menjabat sebagai Komandan KRI 376 tertulis jelas. Suharto dengan fasih menjelaskan posisi terkini dari para mantan Komandan KRI tersebut. Lengkap dengan kota tempat para mantan Komandan tersebut sekarang bertugas. 

Hal pertama yang ditunjukkan Ario adalah meriam anti kapal selam. Ditunjukkan sekilas karena kami langsung diajak menuju lantai atas kapal. Tangga besi tegak dengan lincah dinaikinya. Kami saling memandang sebelum satu persatu naik. 

Jantung sedikit terpacu takut jatuh. Malu kalau benar-benar terjatuh, sesaat memang terlintas. Rupanya Ario hendak menunjukkan tempat senjata meriam deteksi urgent attack. Daya jangkaunya mencapai enam kilometer. Sedikit tanya jawab tentang kegunaan senjata itu terjadi. Paling banyak bertanya adalah para awak media pria. 

Yang perempuan lebih bertanya ke soal kehadiran kapal perang canggih ini di Lampung. Ario lancar menjawab pertanyaan kami, walau sedikit membingungkan karena pertanyaan soal spesifikasi senjata bercampur dengan pertanyaan soal kehadiran KRI tersebut di Lampung. 

Itu masih diselingi dengan gaya aktif tiap awak media untuk berfoto narsis dengan latar belakang sesuai selera. KRI 376 disiagakan di Pelabuhan Panjang Lampung untuk memback-up pengamanan pelaksanaan Pilpres di Lampung. Akan berlabuh hingga H+2 Pilpres besok. 

KRI yang merupakan kapal perang paling canggih yang dimiliki Indonesia ini baru pulang dari Bengkulu. Posisinya yang terdekat dengan Lampung membuat kapal yang membawa sekitar 100 awak kapal ini mendapat penugasan di Lampung. 

“Kami akan menjadi jalur escape buat penyelamatan jika ada kondisi terburuk terkait dengan penyelenggaraan Pilpres di Lampung,” kata Ario. Sesuai strategi yang sudah disusun oleh Polda Lampung, jalur laut merupakan salah satu jalur escape jika terjadi hal-hal buruk saat Pilpres. 

“Secara nasional untuk Pilpres 2014, 2/3 dari kekuatan kapal perang milik Indonesia disiagakan dan disebar di seluruh Indonesia. 1/3 lagi disiagakan untuk menjaga pangkalan,” kata pria yang beristrikan orang Solo ini lagi. 

Tempat selanjutnya yang ditunjukkan Ario dengan kembali menaiki tangga besi vertikal adalah ruang pusat komando. Sebuah ruang besar yang langsung terasa sempit karena banyaknya tombol, alat dan perlengkapan. Rasanya pengap walau semilir AC sedikit terasa. Boleh dibilang pusat komando ini adalah otak KRI. 

Dari sini alur komunikasi dikembangkan. Perintah dan koordinasi disebar keseluruh bagian kapal. Berada dianjungan kapal, benda mirip meja besar dengan beragam tombol rumit menjadi perhatiansaibumi.com. 

Dari meja ini kami bisa melihat luas laut ke depan lewat kaca di atas meja monitor. Ada yang unik. Empat kursi dengan model dan ukuran berbeda di meja besar itu. Paling besar, paling tinggi, dan paling kanan adalah kursi tahta Komandan KRI. 

Disebelahnya adalah kursi untuk juru mudi kapal, lanjut ke kursi perwira Wakil Komandan, dan paling kiri adalah kursi juru mesin. Empat orang ini sepertinya adalah empat unsur inti dalam formasi tiap kapal perang.

Saat operasional, pusat komando ini akan diisi staf sekitar 15 orang. Secara cepat Ario menyebut dan menunjukkan perangkat yang ada di pusat komando KRI itu. Ada underwater telephone, radar, G Map alias peta elektronik, dan radar anti ranjau. 

Dia juga menunjukkan benda bernama sonar yang berfungsi mendeteksi tembakan rudal atau torpedo dari lawan. 

“Kalau perjalanan malam ruangan ini harus gelap. Jadi pergerakan kapal sesuai dengan tuntunan dari radar dan kepekaan Komando,” kata Ario singkat. Ada satu peralatan yang menarik perhatian saibumi.com. 

Terbuat dari kaca tembus pandang. Pada permukaannya, kaca itu terdapat banyak lingkaran tersusun rapi yang beda ukuran. Mirip lingkaran yang sering digunakan untuk menghipnotis. “Ini namanya Floter Udara. 

Gunanya untuk memetakan pergerakan musuh dari udara,” kata mantan Pasops Batam ini seakan tahu isi pikiran saibumi.com. Pemetaan pergerakan musuh itu jadi bahan informasi untuk Komandan kapal dalam mengarahkan jenis senjata apa yang dipergunakan atau strategi apa yang harus diambil oleh Komandan. 

Lagi-lagi aksi narsis para awak media menjadi selingan di antara curahan pertanyaan tiap orang tentang ruang komando tersebut. “Tanggal 26 besok kapal akan berangkat ke Surabaya. 

Untuk mengganti beberapa peralatan. Termasuk mewujudkan ide saya untuk membuat pusat komando cadangan di bagian bawah kapal ini. Langkah antisipatif kalau pusat komando utama ini kena serangan. 

Ada pusat komando cadangan yang pasti akan berfungsi karena kapal ini sejak awal memang dirancang anti tenggelam,” jelas Ario. Keluar dari ruang komando utama, awak dipandu keluar lagi. Di sini Ario menunjukkan senjata rudal air anti pesawat dan helikopter. 

“Pernah kami coba dengan lampu lima watt rudalnya mampu tracking. Kelemahannya rudal ini cuma tahan baterai selama 30 detik. Akhirnya kami akali dengan menambah aki sehingga bisa lama melacak,” jelas Ario. 

 “Intinya pergerakan rudal ini mengikuti panas dari sasaran tembak,” tambah Danlanal Kol laut (P) Suharto. 

Sumber: Saibumi