KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376 dalam Bingkai Pilpres (3)

Kembali kami dipandu turun lebih kebawah. Kali ini Ario menunjukkan meriam anti permukaan dengan tiga jenis ukuran, dan meriam anti udara. 

Banyak istilah asing dengan nama dan jenis ukuran senjata di KRI yang kurang familiar untuk masyarakat umum disebutkan Ario, sehingga Saibumi.com sendiri tidak secara gamblang bisa menuliskan nama lengkap dari tiap senjata tersebut. 

Ada juga beberapa senjata yang terlihat ditutupi terpal besar. Namanya kapal perang, tidak memungkinkan bagi Ario untuk memberitahu seluruh persenjataan yang dimiliki kapal tersebut. 

“Kapal berlabuh itu biasanya hanya tiga hari. Untuk isi bahan bakar dan pasok stok makanan. Sudah pasti namanya kapal perang posisi pasti di laut terus untuk mengadakan patroli. Itu adalah wujud pertanggungjawaban kami terhadap keamanan dan kedaulatan sebagai bangsa. 

Untuk kapal sejenis ini, masih ada sekitar 32 kapal lagi. Tiap tahun AL mengupayakan menambah dua kapal baru,” jelas Ario menambah informasi baru kepada awak media tentang KRI yang dibuat tahun 1980 itu. Kami diajak lagi berpindah lokasi. 

Kali ini dekat ke pos penjagaan ada senjata bernama Torpedo MK 46. Terdiri dari tiga selongsong berdiameter besar dan berukuran panjang disisi kanan dan kiri kapal. Ario bilang senjata itu bisa melontarkan tiga torpedo sekaligus. 

Akhirnya senjata terakhir yang ditunjukkan kepada kami adalah meriam 57 milimeter anti serangan udara dan kapal permukaan khusus untuk sesama kapal perang. Selesai tur singkat keliling kapal, kami kembali ke ruang rekreasi awal. AC dalam ruangan langsung terasa membantu mengusir panas yang menyengat saat keliling kapal. 

Suasana puasa Ramadhan menbuat rasa haus yang utama timbul. Juga mengurangi kuatnya bau bahan bakar solar dan suara berisik mesin yang ada di bagian bawah kapal. Di sebelah kanan pintu masuk ruangan ini ada TV layar datar ukuran besar. 

Lengkap dengan peralatan karaoke dan permainan game. “Bernyanyi dan bermain game jadi salah satu cara buat mengusir jenuh di laut,” kata Danlanal Suharto sambil menunjuk perangkat elektronik itu dengan tongkat komandonya. 

Pada dinding ruang rekreasi sebelah kiri pintu masuk, ada patung burung garuda yang diapit foto Presiden RI dan Jendral TNI Moeldoko disebelah kanan serta foto Wakil Presiden RI dan Laksamana TNI Marsetio di sebelah kiri. 

Ada foto berukuran besar wajah pria bersurban putih menempel kokoh di tengah-tengah dinding ruang rekreasi itu. “Itu foto Sultan Thaha Syaifudin. Dia adalah pahlawan nasional kita yang berasal dari Jambi. 

Dia adalah satu-satunya pahlawan nasional yang tidak pernah bisa ditangkap oleh penjajah Belanda hingga mati,” kata Ario sedikit berbagi tentang pria difoto yang namanya dipakai menjadi nama KRI ini. Di samping TV besar ada rak dengan jejeran buku. 

Mayoritas dalam bahasa Inggris. “Itu buku-buku petunjuk penilaian gladi tugas. Karena setiap dua tahun sekali semua kru dan kapal akan diuji. Kalau nilai mereka turun konsekuensinya dilarang berlayar,” kata Suharto menerangkan jejeran buku yang ada di rak itu. 

Disudut lain ada meja buffet modern beralas keramik. Diatasnya ada magic-com dan kaleng kaca besar penuh berisi kerupuk. Ada juga meja panjang untuk keperluan makan dengan tujuh buah kursi makan. 

Sumber: Saibumi