LATIH KEMAMPUAN BASMI RADIKAL BERSENJATA RAIDER Serbu Pantai Jodo

TAKTIK penyerbuan prajurit Yonif 400 Raider untuk menghancurkan kekuatan kelompok radikal bersenjata yang merongrong kedaulatan NKRI, Rabu (11/12
/2013) pukul 04.30 WIB ditunjukkan dalam latihan Pemantapan Raider di Pantai Jodo, Desa Buntu Kabupaten Batang.

Berbeda dengan latihan-latihan sebelumnya saat tergabung dalam Brigade Tim Pertempuran (BTP) beberapa waktu lalu yang digelar di Bantir Sumowono, 

kali ini Batalyon Infanteri (Yonif) 400 Raider yang dipimpin Danyon Mayor Inf Ferry Irawan bermain sendiri dengan kemampuan taktik pertempuran dari beberapa medan seperti Rawa, Laut, Sungai dan Pantai (Ralasuntai).

Diskenariokan muncul kelompok radikal yang merongrong kedaulatan NKRI dengan melakukan berbagai kegiatan antara lain teror peledakan obyek vital, penculikan disertai penembakan terhadap aparat keamanan dan pemerintahan, serta penggalangan kekuatan massa untuk melawan dengan kekuatan senjata terhadap pemerintahan yang sah.

Kelompok radikal yang dipimpin ‘Joko Carletto’ diskenariokan melakukan teror dan penculikan terhadap Camat dan anggota TNI/Polri di wilayah Bandungan. 

Karena kelompok telah meresahkan masyarakat dan mengancam kedaulatan negara, maka turun perintah kepada Danyon 400 Raider untuk menggelar operasi militer.

Operasi didahului dengan pengumpulan data intelijen dari Yonif 400 Raider. Baru setelah diperoleh data tempat, kekuatan persenjataan dan personil, maka segera diturunkan surat perintah gelar operasi penumpasan (raid).

Enam tim diterjunkan untuk melakukan operasi penumpasan dengan melakukan raid penghancuran dan pembebasan tawanan. Markas musuh tersebut setelah dikepung beberapa hari untuk memisahkan antara kelompok radikal dengan masyarakat, 

maka langsung dilakukan penghancuran sasaran markas musuh. Penghancuran tidak optimal dikarenakan kelompok memiliki beberapa markas yang antar lain di wilayah Sumowono, Limbangan dan Pantai Jodo Batang.

Pengejaran dan pertempuran tak terelakkan. Namun karena kemampuan intelijen yang didukung pelibatan informasi masyarakat, pengejaran pun terus dilakukan hingga berhasil membebaskan tawanan serta menghancurkan kekuatan musuh.


Joko Carletto pun lari ke Pantai Jodo dan mengerahkan kekuatan serta berencana melarikan diri dengan kapal boat. Di pantai ini ternyata merupakan pusat kekuatan karena didukung dengan persenjataan dan bahan peledak.

Akhirnya, Danyon 400 Raider menggelar operasi penghancuran dari berbagai medan (Ralasuntai). Dua regu berkekuatan 20 prajurit serbu senyap didaratkan dari pantai mendekati sasaran. 

Mereka menggunakan perahu karet dan ketika berjarak sekitar 100 meter dari pantai mereka berenang mendekati bibir pantai untuk mulai serbuan. 
Empat prajurit demolisi (penghancuran) menyusup ke target gudang amunisi, tower pemantau serta pos penjagaan. Sejumlah peledak jenis TNT pun dipasang untuk meledakkan target.

Peledakan gudang amunisi dan penjagaan tersebut menjadi penanda serangan. Rentetan suara tembakan pun memecah kesunyian dan kegelapan. Beberapa tim pembebasan sandera pun mendekati ruang yang digunakan untuk menyandera anggota TNI dan Polri yang diperankan prajurit penimbul situasi.

Tembak-menembak tak terelakkan antara anggota kelompok radikal dengan prajurit Raider. Ledakan demi ledakan pun masih terus terdengar disertai nyala api membumbung tinggi.

 Tak lebih dari 15 menit rentetan tembakan terhenti dan pimpinan pasukan melaporkan bahwa pimpinan kelompok radikal Joko Carletto telah tewas tertembak dalam upaya penyergapan. Beberapa sandera pun berhasil dibebaskan.

Asisten Operasi (Asops) Kasdam IV Diponegoro Kolonel Inf Syafruddin saat menutup Latihan Pemantapan Raider Yonif 400 Raider, membacakan amanat Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo. 

Dalam amanatnya Pangdam IV Diponegoro menekankan bahwa latihan merupakan tugas dan tanggungjawab setiap prajurit untuk membentuk profesionalisme. Oleh karena itu setiap prajuri harus mampu melaksanakan tugas dengan menjunjung tinggi profesionalisme.

Kemampuan Raider menurut Pangdam IV Diponegoro diproyeksikan untuk menghadapi dan menanggulangi ancaman dengan cepat, tepat dan senyap. Selain itu kemampuan satuan berlambang petir ini juga dipandang memiliki kemampuan yang lebih dibanding pasukan infanteri biasa.

Sementara Danyon 400 Raider Mayor Inf Ferry Irawan mengungkapkan dalam latihan pemantapan ini ditekankan pada kemampuan pengejaran, penghancuran dan pembebasan tawanan (sandera). 

Oleh karena itu dibutuhkan kecermatan dalam mendapatkan, mengolah dan menganalisis data intelijen serta mengaplikasikan dalam strategi operasi militer.

“Penghancuran sasaran dan pembebasan tawanan kita latihkan terus agar porajurit siap bilamana dibutuhkan segera. Medan


latihan pun juga kami pilih mirip dengan daerah yang memiliki potensi ancaman seperti Papua dan lainnya,” ungkap Ferry Irawan. 
Sumber : KRJOGJA