(Seharusnya) Mahasiswa Farmasi

Beberapa Bulan lalu sempat menemukan postingan ini di tetangga sebelah. Sempat ngakak juga membacanya. Kenapa? Lha wong saya ‘kan anak Farmasi, eh dia juga anak Farmasi. Lha?

Trus kenapa?

Yaa terang aja kenapa-kenapa wong si penulis menulis “masuk farmasi? jangan sampe deh” lengkap beserta alasannya. Hahaha.. ada untung and ada ruginya juga sih..

Untungnya, kalau ada calon mahasiswa yang baca terus menjadi kecil nyalinya, “saingan” di dunia kerja akan berkurang 😀 Ruginya, kalau menurut Saya, pandangan orang tentang Farmasi dan apoteker pada khususnya secara langsung atau tidak akan berdampak pada berkurangnya kepercayaan tentang pelayanan apoteker karena mereka berfikir bahwa apoteker semasa kuliah adalah orang yang Kurang pergaulan dan wawasan tentang dunia luar apalagi perkembangan politik. Paling-paling yang dia tahu Cuma tentang obat-obatan serta interaksinya, selebihnya? Bagaimana cara mereka bersosialisasi? Sedangkan diluar kampus adalah hutan rimba kehidupan yang sebenarnya. Perhatikan juga apa pendapat para Apoteker DiSiNi.

Tentu yang dikatakan pada artikel tersebut ada benarnya juga, namun TIDAK semua Mahasiswa Farmasi seperti itu (ini bukan perlawanan, tapi ini pembelaan). Oleh sebab itu di kampus tidak hanya diajarkan akademis tapi juga semangat berorganisasi dimana dalam berorganisasi kita dapat mempelajari bagaimana bersosialisasi, mengemukakan dan mempertahankan pendapat, membangun jaringan (link), berbicara di depan umum dengan argunmentasi dan alas an yang masuk akal.

Di Koran Kompas (hmm..tanggal berapa ya? 😀 ) diberitakan bahwa dari 100% orang yang mendaftar bekerja, HANYA 4% yang di terima karena memiliki Indeks Prestasi tinggi, selebihnya karena pengalaman berorganisasi serta kemampuan berinteraksi. Namun yang terbaik adalah Kemampuan Akademis yang tinggi ditunjang dengan Kemampuan Berorganisasi serta bersosialisasi yang baik pula.

Bagaimana menurut Anda? Kawan-kawan?