Mega Proyek Alutsista Era SBY Telan Rp. 441 Triliun

Debat capres sesi ketiga yang digelar Minggu (22/6) membahas wacana para kandidat mengenai isu pertahanan negara. Kedua sosok capres yaitu Prabowo dan Joko Widodo sepakat pemerintah perlu membeli alutsista (alat utama sistem senjata) sebagai bagian modernisasi teknologi di TNI.
 
Namun, publik harus mencermati jumlah alokasi dana APBN 2013 khusus sektor pertahanan. Jumlah APBN untuk pertahanan sebesar Rp 84,47 triliun dari posisi Rp 21,42 triliun pada 2004. Sehingga ada kenaikan 400 persen dalam satu dekade.

Laporan tersebut sesuai buku “Satu Dasawarsa Membangun Untuk Kesejahteraan Rakyat” terbitan Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Komunkasi Sosial. Anggaran ini telah sejalan dengan cita-cita Presiden Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun kekuatan pokok minimum (minimum essential forces).

Secara keseluruhan, anggaran pertahanan sejak 2004 hingga 2013 telah mencapai Rp 440,94 triliun. Sejak 2004, pemerintah melakukan modernisasi alutsista TNI dengan membeli peluru kendali komposit grom meriam 23 mm untuk AD, kapal perang TNI AL jenis landing platform dock (LPD), dan AU dengan Retrofit Pesawat C-130B, Batch-III Pesawat Helikopter NAS-332 Super Puma, senjata dan amunisi pesawat Sukhoi-27SK/30 MK.

Setahun berselang, TNI mendapat helikopter Mi-35P dan Mi-17 V-5, kendaraan tempur panser canon, peluru kendali pengganti rapier, peluru kendali jarak pendek QW3 dan 

meriam kaliber 30 mm 7 barrel untuk jajaran TNI AD, Korvet Kelas Sigma, Exocet MM 40+ Mistral, tank amfibi BMP-3F, pesawat patroli maritim, kapal perusak kawal rudal, Retrofit 

pesawat C-130, pesawat tempur SU 27/30 Sukhoi, senjata dan amunisi pesawat Sukhoi-270k/30 Mk, pesawat embraer EMB 314 Super Tucano sebagai pesawat pengganti OV-10 dan Follow on Support.

Selain itu, Mabes TNI membutuhkan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle), alat komunikasi khusus bagi Pasukan Khusus (Kopassus, Den Jaka dan Den Bravo), pengembangan K3I Kosek Hanudnas IV dan lainnya.

Sementara itu, TNI mengembangkan produk dalam negeri seperti Panser Anoa, Senjata Serbu dan Amunisi diproduksi PT Pindad, Kapal Jenis PKR, Daemen KCR 60 m diproduksi PT PAL dan Marine KCR 40 m serta PTDI dengan pesawat Bell-412, CN 235, CN-295, Roket dan Munisi diproduksi PT PAL.

Dari sektor pasukan, TNI memiliki 415.805 orang pada 2013.  Berdasarkan laporan PBB, Indonesia menempati urutan 15 dari 177 negara terbanyak mengirimkan prajurit dengan 1.668 prajurit TNI bertugas di bawah bendera PBB. Daerah operasinya antara lain Lebanon, Kongo, Haiti, Sudan, Darfur dan Filipina.

Sumber : Rimanews