Mengingat Sang Proklamator dan Amanat Akhir Ir Soekarno

ketika pada masa detik-detik proklamasi, Ir. Soekarno bersama dengan para pejuang kemerdekaan lainnya sedang menggagas Maklumat Kemerdekaan Bangsa Indonesia.  
Kini setelah bangsa ini merdeka selama 68 tahun, negeri ini telah kehilangan pemimpin sekaliber Soekarno.
 
Harus diakui, tak ada negarawan/pemimpin negara yang mencintai bangsa, negara dan rakyatnya melebihi seperti rasa cinta yang ditunjukkan Soekarno kepada bangsa, negera dan rakyatnya. 
Bahkan ketika “jiwa dan raganya” telah terkurung di Wisma Yaso oleh rejim Soeharto yang berhasil melakukan “pemberontakan” atas pemerintahannya, Soekarno masih tetap mencintai negeri, bangsa dan rakyatnya dengan mengingatkannya lewat tulisannya yang diberinya judul Amanat Akhir Soekarno.
Untuk mengetahui dan mengingatkan kembali peringatan The Best of Indonesian President, yaitu Ir. Soekarno yang telah memperingatkan dalam Amanat Akhir Soekarno Bahwa negeri ini akan terpecah belah bila demokrasi Pancasila hanya menjadi pajangan semata.
Berikut salah satu cuplikan dari Amanat Akhir Soekarno:
Bahwa usaha mewujudkan kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia pasti akan menjadi hayalan belaka, jika kita menelan mentah-mentah praktek ekonomipasar yang kapitalistik, yang diselimuti dan dibungkus dengan apik dengan propaganda utang luar negeri, sebagaimana dikonsepkan dalam Marshall Plan.
Ini berarti bahwa kemakmuran dan keadilan rakyat Indonesia cuma bisa dibangun dengan filsafat Berdiri Diatas Kaki Sendiri, dengan semangat Berdikari.
karena itulah perekonomian Indonesia harus dibebaskan dari semua bentuk ketergantungan pada negara-negara lain terutama kepada negara-negara industrialis yang kapitalis. Sadarilah bahwa awal masa penjajahan dimulai oleh VOC, oleh kaum industrialis kapitalis. Mereka sekarang berusaha sekuat tenaga melakukan penjajahan baru melalui utang luar negeri.
Aku cemas dan prihatin akan masa depan perekonomian Indonesia, kalau para Jendral Angkatan Darat bersedia memakmurkan Indonesia dengan racun utang luar negeri. Karena pada ujung perjalanannya nanti utang luar negeri itu akan membuat Demokrasi Indonesia terjerumus dalam jurang kediktatoran.
AKU merasa usiaku tidak akan lama lagi. jari-jari tanganku selalu bergetar yang membuatku sulit membuat surat dan membubuhkan tanda tangan atau membuat karangan.
Karena itu aku menugaskan seorang prajurit Kostrad yang aku beri nama Ki Juru Mertani untuk menuliskan dan mengetik kata demi kata dokumen Amanat Akhir Soekarno ini. Aku juga memerintahkannya untuk menyebarluaskan Amanat Akhir ini, nanti sesudah usiaku mencapai satu abad, yang waktunya sesudah tanggal 6 Juni 2001.
Amanat Akhir  Soekarno ini aku buat, bukan lantaran aku kesepian dan tidak punya kesibukan di Wisma Yoso yang aku tempati dalam masa pengasingan oleh rezim Soeharto ini. 
Amanat Akhir ini aku susun, supaya Guntur, Mega, Rahmah, Sukma, Guruh, Taufan, Bayu, Kartika dan Keluarga Besar Soekarno di masa akan datang, bisa menjadi Warga Negara Indonesia yang baik, yang bermanfaat untuk manusia yang lainnya.
Aku yakin bahwa “amanat” ku ini tidak kalah nilainya atau fungsinya sebagai suatu warisan, yang perlu dipelihara dan dimanfaatkan dengan baik.
Aku memang tidak punya harta kekayaan dalam jumlah besar, yang dapat aku wariskan kepada anak-anak ataupuin istri-istriku. barangkali yang bisa aku tinggalkan atau wariskan cuma gaji pensiunku sebagai Presiden RI. Inipun kalau pensiunku tidak dibekukan oleh pemerintah yang sekarang dan nanti memimpin Indonesia.
Adapun “Amanat Akhir Soekarno” itu seperti berikut:
Pertama: Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemerdekaan Indonesia haruus dipelihara dan dipertahankan sampai titik darah yang penghabisan. Ketahuilah bahwa semua bentuk pemberontakan yang terjadi di Jawa Barat, Padang, Maluku Selatan, Makasar, Serambi Mekhah Aceh, tidak pernah bisa terjadi tanpa adanya dukungan CIA dan Amerika Serikat. 
Ini terbukti dengan terbongkarnya kasus Guy Pauker, yang pada awal tahun 1960 berhasil menyusup ke tubuh Seskoad. Sehingga Kolonel Soeharto wakil Komandan Seskoad mengikutsertakannya dalam dalam penyusunan kurikulum Seskoad. 
Karena peranan Mr. Pauker itulah pada tahun 1960-1965 ratusan Perwira Militer dan Polisi Indonesia di kirim ke Amerika Serikat. Karena itulah dengan susah payah, dengan hati penuh kesedihan semua bentuk pemberontakan itu aku hancurkan. 
Ini perlu dan harus dilakukan demi mewujudkan Indonesia yang sesuai dengan kehendak konstitusi kita.
Kedua: Bahwa Demokrasi yang cocock untuk ditegakkan dan diberlakukan di Indonesia adalah Demokrasi Pancasila menurut istilah Dr. Hazairin dan Mohammad Yamin, yaitu nilai-nilai dan praktek kekuasaan dan kedaulatan rakyat yang bersumber pada jiwa dan ruh serta semangat Ketuhanan yang maha Esa, yang dengan terang benderang menjamin perlindungan dan penghormatan terhadap Human Rights.
Sadarilah dan ingat dengan baik bahwa demokrasi yang dipropagandakan oleh Amerika Serikat dan United Nations dan kaum Imperialis lainnya adalah demokrasi fatamorgana, demokrasi yang bertentangan dan bertubrukan dengan semangat Kemerdekaan Indonesia.
Demokrasi Amerika Serikat adalah demokrasi yang membelenggu dan bermusuhan dengan cita-cita The New Emerging Forces, demokrasi yang menindas dan melindas rakyat negara-negara miskin. 
Demokratisasi seperti ini hanya akan melahirkan proses penindasan yang berkepanjangan, seperti apa yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Rakyat Vietnam, seperti yang dilakukan Australia dan Monarchi Inggris terhadap Bangsa Maori di Australia. 
Inilah lantaran paling pokok yang membuat aku mengatakan kepada John F. Kennedy: “Go to hell with your aids, Go to hell with your ideas, and go to hell with your democracy.”
Ketiga: Bahwa Rakyat dan kehidupannya merupakan amanah Kemerdekaan Indonesia, yang berarti bahwa Pemerintah Indonesia berkewajiban untuk mewujudkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mewujudkan amanah ini maka pemerintah harus menggunakan semua Bank milik Negara sebagai saluran pemberian bantuan kredit, permodalan usaha kepada semua pelaku ekonomi yang bergerak di bidang pertanian, perikanan, perkebunan, kerajinan, perkoperasian, kebudayaan, rekreasi, industri kecil dan bidang-bidang usaha ekonomi kerakyatan lainnya.
Dengan adanya sumber permodalan usaha ini pelaku ekonomi kerakyatan kita, pasti mampu memperbesar usahanya dan dengan sendirinya juga bisa menyediakan pekerjaan kepada penduduk yang ingin bekerja.
Aku tidak percaya dengan program Marshall Plan yang berulangkali dipropagandakan Jhon F. Kennedy kepadaku, seperti yang dia lakukan di Eropa. Maka dari itu aku selalu menolak gagasan Sumitro, yang selalu berjuang untuk memindahkan Perekonomian USA ke bumi Indonesia.
Keempat: Bahwa usaha mewujudkan kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia pasti akan menjadi hayalan belaka, jika kita menelan mentah-mentah praktek ekonomi pasar yang kapitalistik, yang diselimuti dan dibungkus dengan apik dengan propaganda utang luar negeri, sebagaimana dikonsepkan dalam Marshall Plan.
Ini berarti bahwa kemakmuran dan keadilan rakyat Indonesia cuma bisa dibangun dengan filsafat Berdiri Diatas Kaki Sendiri, dengan semangat Berdikari.
karena itulah perekonomian Indonesia harus dibebaskan dari semua bentuk ketergantungan pada negara-negara lain terutama kepada negara-negara industrialis yang kapitalis. Sadarilah bahwa awal masa penjajahan dimulai oleh VOC, oleh kaum industrialis kapitalis. Mereka sekarang berusaha sekuat tenaga melakukan penjajahan baru melalui utang luar negeri.
Kelima: Aku cemas dan prihatin akan masa depan perekonomian Indonesia, kalau para Jendral Angkatan Darat bersedia memakmurkan Indonesia dengan racun utang luar negeri. Karena pada ujung perjalanannya nanti utang luar negeri itu akan membuat Demokrasi Indonesia terjerumus dalam jurang kediktatoran.
Bahwa Sang Ratu Adil, Sang Satrio Piningit, Sang Ratu Amisan, Sang Heru Cokro, adalah wangsit para karuhun dan leluhur Bangsa Indonesia. Dia akan hadir di penghujung tahun 2001 atau sekitar Ramadhan 1422 dari wilayah Banten Kidul, yang membentang di sepanjang Pantai Kidul mulai dari Binuangeun-Malimping terus sampai ke Cisolok-Pelabuhan Ratu Sukabumi. Pada saat itu dia dikenal sebagai Sesepuh Rakyat Banten Kidul walaupun umurnya masih tergolong muda.
Aku pesankan supaya mencari dan membantu Sang Satrio Piningit itu semampumu. Karena aku kelak akan mengiringi dan mendampinginya. Ruh, Semangat dan gagasan besar milikku akan aku serahkan kepadanya. Untuk itu sebagai salah satu tanda Sang Satrio Piningit yang aku maksudkan itu, maka aku serahkan Surban Gading berwarna Coklat muda atau krem kepadanya.
Surban Gading ini aku terima dari saudaraku Raja Arab Saudi saat aku menunaikan ibadah haji. Selain itu aku juga memberikan kepadanya minyak wangi, Parfum kesukaanku Shalimar, yang acapkali aku terima dari istriku Ratnasari Dewi. Surban Gading dan minyak Shalimar itu tidak pernah dipakai orang lain.
Sekedar petunjuk perlu aku ingatkan bahwa Satrio Piningit itu lahir diwaktu Fajar, tanggal 1 Syawal 1374 atau sekitar 8 Mei 1953. Ketika di Indonesia berdiri puluhan Partai Politik, dia juga mendirikan sebuah Partai Politik dengan menggunakan warna oranye-orange sebagai warna partainya, sebagaimana warnah merah aku pakai untuk PNI.
Pada saat kemunculannya sebagai Pemimpin Indonesia yang baru dia akan mendirikan partai politik baru, yang mungkin akan diberi nama Partai Amanat Rakyat atau PAR. Carilah dan bantulah dia , karena dialah yang akan mampu mewujudkan cita-citaku dan cita-cita para Pendiri Indonesia lainnya.
Keenam:  Bahwa Pancasila dan UUD 1945 dengan semua kekurangan dan kelebihannya, hendaknya dipertahankan dari usaha-usaha kaki tangan kaum imperialis untuk merubahnya. Sadarilah bahwa Pembukaan dan Isi Konstitusi UUD 1945 sesuatu Kanun Azazi ( menurut istilah Kartosoewiryo) yang disususn pada malam hari menjelang tanggal 18 Agustus 1945 berdasarkan hasil munajat dan doa Ulama Sepuh yang aku kumpulkan dari berbagai penjuru tanah air Indonesia.
Aku melarang diadakannnya pengubahan terhadap konstitusi UUD 1945, bukan karena UUD 45 itu setaraf dengan Al Qur’an. Bukan, bukan itu alasannya. Aku larang mengotak-atik isi UUD 45, supaya arah dan usaha-usaha mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia tidak tengganggu dan terlupakan seperti apa yang terjadi pada kasus konstituante, yang memaksa aku mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959. 
Fahamilah, sadarilah, camkanlah bahwa kita bersama-sama harus menata ulang jalan pikiran kita, supaya tidak bertubrukan dengan cita-cita Kemerdekaan Indonesia.
Ketujuh: Bahwa kekuatan Pertahanan dan Keamanan di setiap meter wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia harus terus ditingkatkan dan disempurnakan, supaya keutuhan wilayah negara kita tidak berkurang.
Ini perlu dijadikan tetenger bahwa jutaan Pahlawan, Syuhada, Mujahiddin telah mengorbankan darah dan air matanya untuk menyatupadukan Indonesia dalam rangka mewujudkan cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa ini. 
Maka Kepolisian Negara sepatutnya ditingkatkan kekuatan dan personilnya. Ini harus dilakukan agar Kepolisian Negara semakin besar kemampuannya untuk menegakkan Ketertiban Masyarakat.
Dalam suasana keamanan dan ketertiban yang bisa menjamin ketenangan hidup rakyat, maka proses pengembangan Indonesia menjadi suatu komunitas sosial , budaya, politik, ekonomi yang besar pasti akan berjalan lancar.
Salah satu upaya pokok yang harus dilakukan untuk mengimbangi progress keamanan dan ketertiban yang tangguh ini adalah dengan memperkecil jurang komunikasi dan silaturrahim antar rakyat dengan para pemimpinnya, mulai dari level Desa/Kelurahan sampai Presiden dan para pejabat militer lainnya.
Dalam kontek ini para Ulama harus diberikan posisi terhormat dan terintegrasi agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan  pada setiap sisi kehidupan rakyat.
Kedelapan: Bahwa Ketaqwaan kepada Allah merupakan faktor mutlak yang harus ditumbuhkembangkan dalam kehidupan semua Pemimpin Indonesia, baik yang ada di sektor Legeslatif, Eksekutif, ataupun Judikatif. 
Ketaqwaan ini menjadi semakin penting, karena aspirasi dan aktualisasi diri Rakyat Indonesia di masa depan kan semakin bervariasi dalam suasana hubungan internasional yang makin terbuka dan mendekat. 
Sehingga semua bentuk kemajuan dunia seperti air bah yang dengan derasnya menyerbu kehidupan dalam kehidupannya sehari-hari, maka rakyat akan kehilangan roh nasionalismenya dan kebangkrutan idealismenya.
Kalau roh nasionalisme dan idealisme ini sirna dari kehidupan rakyat, maka Indonesia modern yang ada di Abad XXI nanti menjadi lain sama sekali dari Indonesia yang mendapat “bekat dan rahmat” tuhan Ynag Maha Esa.
Sosok Indonesia yang seperti ini, yang kehilangan “berkat dan rahmat” Tuhan Ynag Maha Esa, jelas hanya akan memberikan kesengsaraan dan kemiskinan yang berkepanjangan bagi rakyat miskin.***
Aku sadar  sesadar-sadarnya bahwa Amanat Akhir Soekarno ini, bisa jadi akan dicibirkan orang dan mungkin ditertawakan oleh para Pemimpin Indonesia. Itu semua tidak perlu aku risaukan. 
Karena aku ingin agar Rakyat Indonesia yang tidak akan bertemu aku lagi, sekurang-kurangnya bisa memahami bahwa aku, Soekarno, tidak permah melepaskan tanggung jawabku kepada cita-cita Kemerdekaan indonesia.
Aku juga perlu menegaskan bahwa aku pernah meminta waktu kepada pemerintah melalui Ali Said dan saudara Dumawel Achmad, untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi Indonesia sehubungan dengan peristiwa Gestok. Tapi sampai kini aku tidak mendapatkan jawaban dan ketegasan. Aku tidak tahu apa sebabnya.
Mudah-mudahan sepeninggalku Indonesiaku yang sangat aku cintai bisa mewujud sebagai Balbatun Thoyyibatun wa Robun Ghofur. Amiin. Soekarno
Catatan Jurnalis Siaga.co