Misteri Nyi Ronggeng dan Kamar Mati di Pabrik Tjipetir

00b


Ada mitos yang menyebar dari mulut ke mulut seputar pabrik Tjipetir di Sukabumi, Jawa Barat. Ada kisah mesin Nyi Ronggeng dan Kamar Mati di pabrik Gutta Percha peninggalan Belanda yang dibangun pada 1855 itu.

Seperti yang dikutip dari detik.com, Menurut pengawas sekaligus penanggung jawab pabrik Gutta Percha, Budi Prayudi, mesin dari batu granit yang diberi nama Nyi Ronggeng itu memiliki kisah khusus.

“Semua dinamai berdasarkan urutan kedatangannya, dari Itali sampai di Jakarta dibawa ke Cibadak menggunakan pedati, nah kedatangan batu granit nomer 4 ini sedikit unik karena 2 kuda pedati yang membawanya enggan bergerak sama sekali,” terang Budi.

“Hingga akhirnya ada orang pintar yang meminta agar meneer Belanda mengiringi laju pedati dengan seorang penari ronggeng, akhirnya kuda pedati mau beranjak dari tempatnya, yang kasian si penari ronggengnya harus berjalan sejauh 13 kilometer dari pertigaan cikidang sampai pabrik, bengkak lah kakinya” lanjut Budi sambil tertawa menceritakan kisah batu si ronggeng.

Satu mesin penggiling batu bisa menampung sebanyak 250 kilogram daun karena hanya ada dua mesin yang berfungsi jadi 500 kilogram daun yang tergiling dengan durasi selama 4 jam. Pabrik Gutta itu masih beroperasi tapi hanya berdasarkan pesanan.

Selain soal kisah batu Nyi Ronggeng, cerita lainnya mengenai sebuah ruangan yang dinamakan kamar mati. Menurut Budi, disebut kamar mati karena didalamnya tersimpan 6,3 kilo volt tegangan listrik, siapa saja yang berani masuk saat turbin menyala pasti mati kesetrum.

“Turbin itu digerakan dari mata air sungai Citarik, dari mesin itu kebutuhan listrik pabrik dan mess pekerja hingga peralatan pengolahan dialirkan, belum pernah ada yang pekerja kecelakaan di kamar mati tapi dulu ada pekerja belanda di bagian perebusan yang tewas kecemplung kedalam bak rebus karena mengantuk, bak rebus berada di atas Kamar Mati,” tutur Budi seraya menyebut saat ini turbin sudah tak digunakan setelah diganti genset.