Mudik Aman Diantar Kapal Perang

Ini mungkin cara mudik paling aman. Mudik diantar kapal perang! Asyiknya, sepeda motor tetap bisa diajak mudik. Nah, siapa yang berani menyerempetnya. Dijamin bebas macet pula. Gratis lagi.

Kapal Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh 593 perlahan meninggalkan Dermaga Penumpang Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (4/8) pukul 10.35. Kapal TNI Angkatan Laut ini memulai perjalanannya menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. Bukan bersiap mengikuti latihan gabungan, apalagi bersiap perang. Kapal angkut personel dan peralatan militer ini mengangkut pemudik dan sepeda motornya.

KRI Banda Aceh 593 dikerahkan pemerintah untuk mendukung angkutan gratis Lebaran tahun 2013. Kapal perang ini turut dilibatkan mengangkut pemudik untuk mengurangi kepadatan di jalan raya sekaligus menekan kecelakaan lalu lintas. Tercatat ada 1.464 penumpang dan 673 sepeda motor yang diangkut dalam perjalanan mudik tahap pertama ke Semarang.

Menurut rencana, seperti dirilis situs resmi TNI AL (www.tnial.mil.id), jadwal mudik gratis dengan kapal perang TNI AL berikutnya adalah Selasa (6/8) ini. Sepekan kemudian, kapal perang itu akan mengangkut pemudik dalam arus balik dari Semarang ke Jakarta.

Sebelum bertolak dari Tanjung Priok, pemudik ditemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di atas KRI Banda Aceh, yang dikomandani Letnan Kolonel (P) Yana Hariyana.

Di bagian geladak helikopter, ratusan pemudik duduk beralaskan terpal plastik biru. Mereka memilih duduk berimpitan untuk menghindari terik panas surya di bagian belakang geladak yang beratapkan langit biru.

Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, muda-mudi campur jadi satu. Tak mau duduk berimpitan, beberapa penumpang lainnya nekat duduk berpanas-panas di geladak bagian belakang sambil menutup kepalanya dengan jaket.

Ratusan penumpang lain tersebar di lorong-lorong dek, di dekat perahu pendaratan personel, hingga di tangga-tangga. Sebagian ibu dan anak balita mendapat tempat khusus di kamar-kamar personel yang berkapasitas 220 orang. Hanya ibu dan anak balita yang boleh menempati kamar berkasur empuk ini. Bisa bercanda ria

Kapal melaju dengan tenang berkecepatan 12 knot (sekitar 22,22 kilometer per jam). Di salah satu sudut di Dek H (ruang anggota KRI), Rania Wulan Santika (2) bercanda ria dengan sepupunya. Sesekali ia berlarian kecil. Eko Riyanto (28) dan Rosidah (30), ayah dan ibunya, mengawasinya sambil duduk di bangku panjang dari kayu.

”Kalau mudik naik motor, apalagi bus, repot. Anak ini pasti rewel. Enggak bisa jalan-jalan. Kalau naik kapal, dia bisa main-main,” ujar Eko, pemudik asal Grobogan, Jawa Tengah.

Ini yang kedua Eko dan istrinya mudik gratis menumpang kapal dengan panjang 125 meter dan lebar 22 meter itu. Mudik menumpang KRI Banda Aceh, menurut dia, jauh lebih aman daripada menggunakan sepeda motor. ”Tidak kena macet dan tidak capek di jalan. Ini nanti tiba di Semarang terus ke Juwangi, Grobogan, naik motor dua jam sudah sampai,” katanya.

Eko bercerita, sebelum punya anak dan belum tahu ada mudik gratis, ia selalu mudik bersepeda motor. Perjalanan 18 jam ditempuh dari Jakarta. Biasanya, mulai berangkat setelah sahur sekitar pukul 03.00. Enam jam sampai di wilayah Cirebon, Jawa Barat, kondisi badan sudah kecapekan dan mengantuk.

Perjalanan pun harus diselingi istirahat beberapa kali, termasuk untuk makan siang. Eko tidak mau mengulanginya lagi setelah punya anak. Si kecil menghampiri Eko. ”Ayo bobok Pak, ngantuk,” ujar Rania, yang lalu digendong Eko ke kamar.

Pemudik asal Gondang, Klaten, Jawa Tengah, Suroto (43), mengaku ikut mudik gratis untuk menghemat biaya. Baru kali ini, ia bersama istri dan dua anaknya mudik naik kapal perang. Selama ini, Suroto selalu mudik naik sepeda motor, sedangkan istri dan anaknya naik bus umum. Harga tiket bus
yang melambung hingga Rp 300.000 per kursi membuatnya melirik mudik bareng KRI Banda Aceh.

Perjalanan kapal sekitar 20 jam mungkin cukup membosankan bagi sebagian orang. Hambara (22), pemudik asal Madiun, Jawa Timur, dan temannya, Masyudi (23) dari Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, mengusir kebosanan dengan berjalan-jalan melihat-lihat isi KRI Banda Aceh. Sesekali memainkan game di telepon selulernya.

Mereka juga berkenalan dengan sesama pemudik, atau berjalan-jalan di geladak helikopter yang terbuka dan luas. ”Belum pernah naik kapal. Ini saya anggap wisata,” ujar Hambara, yang rutin mudik bersepeda motor.

Penumpang yang kecapekan memilih tidur. Mereka yang tak kebagian kasur terpaksa harus tidur malam di atas geladak dibelai dinginnya angin laut. Buka dan sahur

Dalam perjalanan, pemudik tak lantas lalai menunaikan kewajiban shalat. Ratusan orang mengikuti shalat Tarawih di mushala dan di geladak. Serka Tohari, staf operasi Komando Armada RI Kawasan Barat memimpin shalat Tarawih di geladak.

KRI Banda Aceh juga menyediakan makanan untuk berbuka puasa dan sahur. Menunya cukup menggoda: ayam goreng tepung, tempe goreng bersambal, dan sayur asam. Untuk memasak makanan ini, juru masak bekerja full team 8 orang dibantu 15 orang mengepak makanan di kotak-kotak styrofoam.

Di KRI Banda Aceh, total 145 personel TNI AL bertugas. KRI Banda Aceh yang memiliki kecepatan jelajah maksimal 14 knot (sekitar 26 km/jam) mulai dibuat tahun 2007 dan dirampungkan tahun 2010 oleh PT PAL, Surabaya. Kapal ini dipersenjatai dua meriam kaliber 22 mm. Sebanyak 5 helikoper jenis Bell 412 dan 30 tank amfibi dapat diangkut kapal dengan bobot mati 10.500 ton ini.

Senin (5/8), sekitar pukul 07.30, KRI Banda Aceh merapat dengan mulus di Dermaga Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas. Total sekitar 20 jam waktu tempuhnya. Cukup lama, tetapi aman dan nyaman.

Mudik aman dan nyaman masih menjadi angan-angan jutaan pemudik di negeri ini. Kemacetan selalu mendera, terutama di Jawa, ketika 9,7 juta orang bergerak bersamaan dari Jakarta ke daerah-daerah lain.

Ke depan, mungkin perlu dipertimbangkan moda angkutan kapal laut untuk mudik dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Siapa tahu mudik dengan kapal laut bisa jadi solusi kemacetan saat mudik Lebaran. 

Sumber : kompas