Panglima TNI: “Grade” Pasukan Khusus Harus Ditingkatkan

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Moeldoko berharap peringkat pasukan khusus Tentara Nasional Indonesia (TNI) bisa segera ditingkatkan agar setara dengan pasukan khusus dunia.
 
‎”Saya ingin meningkatkan grade pasukan TNI yang lebih baik di tingkat dunia,” kata Panglima TNI saat membuka Latihan Gabungan Penanggulangan Teror (Gultor) TNI Tri Matra IX di Batalyon Komando (Yonko) 461 Paskhas TNI AU, Halim Perdanakusuma, Senin (1/12).

‎Dikatakan, pihaknya senantiasa mengantisipasi dan merespons kemungkinan terjadinya kontijensi akibat situasi dan kondisi vacuum of power (kekosongan kekuasaan) yang dapat mengancam stabilitas keamanan nasional.

Pasukan khusus TNI harus dapat segera bertindak untuk dapat memulihkan kondisi tersebut dengan cepat dan tepat. Ancaman terhadap keamanan negara harus dapat diantisipasi dan tidak terdadak bila nanti pasukan khusus dioperasionalkan.

Latihan penanggulangan teror kali ini melibatkan 627 personel TNI yang terdiri dari 50 Komando Latihan (Kolat), pelaku 250 personel dari Sat 81 Gultor Kopassus, Denjaka TNI AL, dan Satbravo’90 Paskhas TNI AU.

Untuk pendukung Detasemen Komunikasi dan Elektronika (Denkomlek) berjumlah 48 orang, protokol 15 orang, Detasemen Markas Latihan (Denmalat) 237 personel dan kru 27 personel.

Materi latihan terbagi dalam tiga tim yakni Tim Alfa Sagas Gultor TNI bertugas melaksanakan infiltrasi udara dan darat, pembebasan sandera di pesawat, penjinakan bom, pengamanan VVIP, sabotase dan lawan sabotase, bantuan intelijen teknik, sniper dan counter-sniper, dan teknik dan taktik eksfiltrasi.

Tim Charlie Satgas Gultor TNI bertugas melaksanakan infiltrasi udara dan darat, pembebasan sandera Depo Pertamina, sabotase dan anti sabotase, penjinakan bahan peledak, pengamanan VIP, bantuan intelijen teknik, sniper dan counter-sniper, dan teknik dan taktik eksfiltrasi.

Lalu TIM Delta Satgas Gultor TNI bertugas melaksanakan infiltrasi udara dan darat, pembebasan sandera di gedung, sabotase dan anti sabotase, penjinakan bahan peledak, pengamanan VIP, bantuan intelijen teknik, sniper dan counter-sniper, dan teknik dan taktik eksfiltrasi.

Latihan digelar mulai 1 Desember-2 Desember. Para pasukan khusus TNI itu melaksanakan gladiposko di Yonko 461 Paskhas, Halim Perdanakusuma.

Pada 3 Desember 2014, Satgas Gultor TNI melaksanakan drill atau latihan pendahuluan di Lanud Halim Perdanakusuma. Kemudian, pada 4-5 Desember, melaksanakan latihan lapangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta-Barat.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, TNI mendefinisikan ancaman menjadi tiga macam, yakni ancaman faktual, potensial dan residual.

Untuk ancaman faktual adalah ancaman yang betul-betul dihadapi saat ini. Ancaman potensial kalau tidak ditangani dengan baik akan muncul menjadi faktual. Kemudian ancaman residual yakni persoalan-persoalan yang belum bisa diselesaikan. 

Sumber : Beritasatu