Pengujian Obat pada Sistem Saraf

yeah..ketemu lagi..tau ga suka duka praktek farmakologi?suka karena bisa nyuntik, duka karena ngeliat “objek” yg disuntik..lho?suka dg dukanya koq bertentangan?yah problematika hidup praktikan mungkin..hehehehe…

Suatu senyawa yang baru ditemukan baik hasil sintesis atau isolasi, terlebih dahulu diuji dengan serangkaian uji farmakologik pada organ terpisah maupun pada hewan uji. Bila ditemukan suatu aktivitas farmakologik yang mungkin bermanfaat, maka senyawa yang lolos penyaringan ini akan diteliti lebih lanjut.

Pada kalangan mahasiswa yang berada pada tahap pembelajaran akan kesiapan menghadapi penelitian, tidak mesti zat atau senyawa baru yang harus diteliti melainkan bagaimana memahami proses atau prosedur yang berlaku untuk memulai sebagai langkah awal untuk meneliti zat atau senyawa baru tersebut dan salah satunya dengan menguji zat atau senyawa yang sudah lolos penyaringan (tahap uji).

Prinsip dasar farmakologi mencakup bagaimana suatu molekul obat dapat mempengaruhi secara kimia pada satu atau lebih isi dari sel agar dapat menghasilkan respon farmakologik (transformasi fungsi sel).

Sistem saraf merupakan pengendali utama sistem yang ada pada tubuh yang tentunya jika ingin menghasilkan respon farmakologik pada daerah tertentu sudah pasti zat atau senyawa tersebut harus mampu “memanipulasi” dan “memodifikasi” sistem saraf agar mampu bereaksi sesuai dengan tujuan awal kita. Sistem saraf otonom ialah sistem saraf yang tidak dapat dikendalikan oleh kemauan kita melalui otak seperti lambung, jantung, pembuluh darah, ginjal, pupil mata, usus yang dapat dipacu (induksi) atau dihambat (inhibisi) oleh zat atau senyawa dalam hal ini adalah obat.

Jaringan saraf terdiri dari sel-sel saraf atau neuron dan neuroglianya. Sel-sel saraf atau neuron terdiri atas Badan sel saraf (umumnya berbentuk besar, bulat, vesikuler dan letaknya ditengah berwarna pucat mengandung nukleolus yang besar satu atau lebih), akson (membawa impuls meninggalkan badan sel; terdapat mitokondria, reticulum endoplasmic agranuler dan banyak mikrotubul-mikrotubul dan mikrofilamen-mikrofilamen) dan dendrite (membawa impuls ke badan sel; merupakan bagian sel ganglion unipoler dan bipoler; mirip akson dari sistem saraf tepi) (Anonim, 1998).

Sistem saraf dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat

atau sentral dan sistem saraf tepi (SST). Pada sistem syaraf pusat, rangsang seperti sakit, panas, rasa, cahaya, dan suara mula-mula diterima oleh reseptor, kemudian dilanjutkan ke otak dan sumsum tulang belakang. Rasa sakit disebabkan oleh perangsangan rasa sakit diotak besar. Sedangkan analgetik narkotik menekan reaksi emosional yang ditimbulkan rasa sakit tersebut. Sistem syaraf pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik, misalnya sedatif hipnotik. Obat yang dapat merangsang SSP disebut analeptika (Finn G, 1994).

Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang sangat luas (merangsang atau menghambat secara spesifik atau secara umum). Kelompok obat memperlihatkan selektifitas yang jelas misalnya analgesik antipiretik khusus mempengaruhi pusat pengatur suhu pusat nyeri tanpa pengaruh jelas (Anonim, 1995).

Hipnotika dan sedativa dapat menekan fungsi SSP seluruhnya secara tidak spesifik yang mengakibatkan kesadaran impuls eksogen turun dan aktivitas fisik dan mental berkurang. Namun, obat-obat ini tidak mempengaruhi tingkah laku secara spesifik serta mampunmempengaruhi semangat dan suasana jiwa (Tjay, 2002).

Obat yang bekerja terhadap SSP dapat dibagi dalam beberapa golongan besar, yaitu:

1. Psikofarmaka (psikotropika), yang meliputi Psikoleptika (menekan atau menghambat fungsi-fungsi tertentu dari SSP seperti hipnotika, sedativa dan tranquillizers, dan antipsikotika); Psiko-analeptika (menstimulasi seluruh SSP, yakni antidepresiva dan psikostimulansia (wekamin)).

2. Untuk gangguan neurologis, seperti antiepileptika, MS (multiple sclerosis), dan penyakit Parkinson.

3. Jenis yang memblokir perasaan sakit: analgetika, anestetika umum, dan lokal.

4. Jenis obat vertigo dan obat migrain (Tjay, 2002).

Umumnya semua obat yang bekerja pada SSP menimbulkan efeknya dengan mengubah sejumlah tahapan dalam hantaran kimia sinap (tergantung kerja transmitter) (Katzung, 1985).

silakan klik disini untuk mendownload

Pengujian Obat pada Sistem Saraf | 71mm0 | 4.5

Leave a Reply