Penjelasan Terkait Kontroversi Penyematan Gelar Jenderal Besar Untuk SBY

Pernyataan panglima TNI Jenderal Moeldoko yang ingin menganugerahi presiden SBY gelar Jenderal Besar memicu kontroversi. Banyak pihak menganggap usulan Jenderal Moeldoko mengada-ada. 

Moeldoko menilai SBY telah melakukan perubahan yang signifikan bagi TNI. ‘Prestasi’ SBY dalam memajukan TNI dalam beberapa tahun terakhir menjadi alasan bagi TNI memberikan anugerah Jenderal Besar pada presiden.

Presiden SBY sendiri menolak penyematan gelar Jenderal Besar pada dirinya. Meskipun tidak menyatakan secara langsung, sinyal penolakan muncul dari keterangan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi. 

Berdasarkan keterangan Sudi, apa yang dilakukan SBY adalah lumrah,mengingat posisinya sebagai kepala negara. “Membangun angkatan bersenjata yang dapat diandalkan adalah salah satu kewajiban presiden,” kata Sudi, seperti yang dikutip dari KOMPAS.com. Menurut Sudi, presiden sendiri mengapresiasi niat Jenderal Moeldoko dan TNI.

“ ‘Jenderal Besar’ bukanlah jenjang kepangkatan TNI yang dapat diraih dengan mudah oleh Prajurit TNI.  karena itu kehormatan sebagai Jenderal Besar hanya diberikan kepada Prajurit TNI yang berjasa luar biasa kepada TNI, bangsa dan negara. 

Seluruh lapisan rakyat Indonesia juga dapat memberikan penilaian atas kepantasan pemberian Kehormatan tersebut, karena TNI adalah milik rakyat”, jelas Laksamana (Purn) Tedjo Edy Purdijatno, seperti tertulis dalam rilis yang diterima redaksi Tribunnews.com, Minggu (12/1/2014). 

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) tahun 2008-2009 ini tidak melihat urgensi dalam pemberian kehormatan sebagai Jenderal Besar kepada Presiden SBY. “Presiden SBY sudah pernah mendapatkan kehormatan kenaikan pangkat dari Letnan Jenderal menjadi Jenderal bintang 4 ketika beliau menjabat sebagai Menteri,” tambah lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 1975 ini.

Jenderal Besar merupakan pangkat tertinggi diluar kepangkatan reguler dalam jajaran TNI AD. Untuk TNI AL dan TNI AU penyebutan kehormatan tersebut adalah Laksamana Besar dan Marsekal Besar. Sejauh ini gelar tersebut baru diberikan kepada 3 orang, yaitu Jenderal Soedirman, Jenderal Abdul Haris Nasution, dan Jenderal Soeharto, dimana ketiganya berasal dari TNI AD.

“Kalau melihat profil para penerima  gelar Jenderal Besar pada waktu yang lalu, tokoh-tokoh tersebut adalah sosok yang pernah berjasa dalam memperjuangkan dan mempertahankan  kemerdekaan serta membangun dan membesarkan institusi TNI,” jelas mantan Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI (Purn) Supiadin AS. 

Lebih lanjut Supiadin menyatakan bahwa untuk memberikan gelar kehormatan Jenderal Besar, seyogianya institusi TNI mempertimbangkan berbagai aspek dan sebaiknya terlebih dahulu dikonsultasikan dengan para sesepuh TNI serta dengan pribadi yang akan menerima gelar tersebut. 

” Institusi TNI sebaiknya lebih berhati-hati lagi,agar gelar tersebut tidak menjadi polemik di kemudian hari,” ujar pria yang juga pernah menjabat sebagai Pangdam IX/ Udayana.

Sumber : Tribun