Permanganometri

Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan KMnO4 atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat encer, karena asam sulfat tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer.Pembakuan KMnO4 dibuat dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air, dan mendidihkannya selama beberapa jam dan kemudian endapan MnO2 disaring. Endapan tersebut dibakukan dengan menggunakan zat baku utama, yaitu natrium oksalat. Larutan KMnO4 yang diperoleh dibakukan dengan cara mentitrasinya dengan natrium oksalat yang dibuat dengan pengenceran kristalnya pada suasana asam. Pada pembakuan larutan KMnO4 0,1 N, natrium oksalat dilarutkan kemudian ditambahkan dengan asam sulfat pekat, kemudian dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu pucat. Setelah didapat volume titrasi, maka dapat dicari normalitas KMnO4.

Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih.. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi (Day, 1980).

Kalium permangatat sukar diperoleh secara sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangan oksida. Lagipula, air suling yang biasa mungkin mengandung zat-zat pereduksi yang akan bereaksi dengan kalium permanganat dengan membentuk mangan dioksida serta bukanlah suatu larutan standar primer (Basset, 1994).

Kalium permangatat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah, netral atau basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau (Rivai, 1995).

Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak terjadi bolak balik, sedangakan potensial elektroda sangat tergantung pada pH (Rivai, 1995).

Kalium Permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen (III) oksida standar-standar primer (Basset, 1994).

Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan kalium permanganat adalah:

5C2O4- + 2MnO4- + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

Akhir titrasi ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan kelebihan permanganat (Rivai, 1995).

*** maaf, klo dapus yang ditampilkan terkadang sama dengan yang sebelumnya,, maklum, membaca saja aku sulit, teman2 malu bermain denganku.. he..

-Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Ed. III. Depkes RI. Jakarta.
-Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Ed. IV. Depkes RI. Jakarta.
-Day, R. A & Jr. Al. Underwood. 1980. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.
-J. Bassett. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
-Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. UI Press. Jakarta.

Kata kunci yang digunakan pengunjung untuk sampai ke tulisan ini:

permanganometri (2813) | titrasi permanganometri (396) | dasar teori permanganometri (189) | teori permanganometri (79) | kalium permanganat (67) | kinetika reaksi redoks kalium permanganat dengan asam oksalat (48) | prinsip permanganometri (42) | prinsip kerja permanganometri (42) | natrium oksalat (38) | metode permanganometri (36) | teori dasar permanganometri (35) | permangano metri (35) | indikator permanganometri (34) | artikel permanganometri (31) | reaksi ion permanganat dengan asam oksalat (28) | analisis permanganometri (27) | reaksi permanganometri (24) | titrasi permanganat (21) | permanganatometri (19) | titrasi redoks permanganometri (17) |