Pertahanan RI Kuat jika Punya Satelit Sendiri

Ironi tentang daya tahan dari sistem pertahanan nasional adalah fakta bahwa kita tidak punya satelit sendiri, melainkan menyewa dari pihak asing. Fungsinya justru untuk mengawasi kawasan yang berdaulat berupa negara kepulauan ini.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengemukakan, satelit seharusnya menjadi bagian dari postur pertahanan negara, sehingga idealnya Indonesia memiliki satelit sendiri.

“Ya, saya itu mengharapkan. Sebab itu sebetulnya sudah idealisme kita dan itu sudah disetujui oleh DPR. 

Tinggal sekarang bagaimana kita bisa mengalokasikan anggaran membuat manajemen supaya satelit pertahanan kita itu bisa mandiri. Bisa memenuhi kebutuhan seluruh kepentingan negara yang kuat ini,” kata Sjafrie kepada Okezone di Makassar, Jumat (19/9/2014).

Soal kepemilikan satelit pertahanan sendiri itu diutarakannya menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Menurut Sjafrie, dalam urusan pertahanan, Indonesia tidak mengenal pasar bebas.

“Tapi bahwa pertahanan itu punya kontribusi kepada ekonomi, sekarang masanya. Kita mempunyai industri pertahanan yang kuat dan kita bersaing di setiap pasar bebas,” tutur Sjafrie didampingi Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo kepada wartawan.

Dari sisi pertahanan, Sjafrie menguraikan ada hal-hal yang melemahkan instrumen pertahanan, terutama tentara dan kepolisian, yang harus diperbaiki. Karena itu, diperlukan introspeksi atau meneliti serius kembali ke dalam diri sendiri.

“Kita harus introspeksi. Adakah sumberdaya manusianya yang tidak bagus ataukah sistemnya yang belum lengkap? Adakah infrastrukturnya yang belum terpenuhi? Atau ada yang memang masyarakat ketahui, tapi belum dipahami. Oleh karena itu tidak boleh ada sekat antara masyarakat selaku pemegang kedaulatan dengan instrumen (seperti polisi dan tentara),” ujar Sjafrie.

Di sisi lain, purnawirawan TNI itu mengungkapkan, reformasi belum selesai. “Mungkin masih ada residu kotor yang dimiliki aparat-aparat militer dan kepolisian. Itu kewajiban kita untuk memperbaikinya. Karena yang paling penting itu kontrol sosial. Kontrol sosial sangat diperlukan. Tetapi kita tidak boleh melakukan kontrol sosial, tapi justru mematikan instrumen itu,” ucap Sjafrie.

Sumber : Okezone