Selingan : Jendral Moeldoko, Tentara Berarloji Satu Miliar

Jakarta – Panglima TNI Moeldoko seolah ingin menepis isu buruknya kesejahteraan prajurit Tentara Nasional Indonesia. 

Saat menggelar pernyataan pers pekan lalu, di pergelangan tangan Sang Jendral terbelit arloji seharga lebih dari semiliar. 

Tak ada yang mempersoalkan hal itu, sampai sebuah media Singapura, www.mothership.sg, mengangkatnya. Mereka menemukan fakta itu dari foto The Straits Times yang dirilis 25 Maret 2014. 

Di pergelangan tangan Moeldoko jelas-jelas nampang arloji merek Richard Mille RM 011 Felipe Massa Flyback Chronograph “Black Kite”. Harga jam tangan itu akan membuat nanar mata caleg gagal: sekitar 100 ribu dolar AS atau Rp 1,1 miliar !

Moeldoko memang pejabat militer yang kaya raya. Daftar kekayaan yang diserahkannya kepada KPK tahun lalu terbilang besar untuk pejabat publik, sekitar Rp 36 miliar. Menurut Moeldoko kekayaan yang dia miliki jelas asal-muasalnya. 

“Memangnya tentara tidak boleh kaya? Yang penting kan dari mana memperoleh kekayaan, benar tidak?” kata Moeldoko kepada wartawan, saat uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI di DPR, Agustus 2013.

Menurut dia, harta kekayaan itu, selain warisan dari mertua, juga diperolehnya selama bertugas sebagai tentara. Ketika berdinas Moeldoko mengaku sering bertugas ke luar negeri. “Itu operasi ke luar negeri seharinya US$ 125 (Rp 1,25 juta), kan besar,” kata dia.
Tentu saja, siapa pun boleh kaya, termasuk pejabat tentara. 

Wajar dan sah, meski kadang banyak budaya seolah tak begitu ramah terhadap orang kaya. Lihat saja, ada zaman ketika para samurai Jepang yang merasa anggun menganggap para pedagang kaya hanyalah para makhluk kasar, licin, rakus dan tamak. 

Tengok pula susunan kasta di India yang mendudukkan kaum waisya—para pedagang kaya, lebih rendah ketimbang kaum brahmana dan kesatria.

Aristoteles dari era Yunani kuno pun menyatakan para warga sebaiknya tak mengikuti cara para pedagang yang “vulgar mencari kekayaan”. Filsuf yang menjadi guru Alexander Agung itu mewanti-wanti akan bahaya pleonexia,yakni sifat rakus tak pernah putus yang biasanya dimiliki kaum kaya.

Oh ya, jangan lupa pula tradisi Kristen. Yesus konon berkata, lebih gampang bagi seekor unta untuk masuk ke liang jarum, ketimbang seorang kaya memasuki kerajaan Tuhan.
Tetapi sekali lagi, bukan kekayaan Jendral Moeldoko yang patut jadi soal. 

Namun minimnya kepekaan jendral lulusan Akademi Militer 1981 itu. Bagaimana ia tak merasa bersalah mempertontonkan arloji mewah itu manakala kondisi sebagian besar prajurit yang dia pimpin masih mengenaskan? Mereka tercekik gaji kecil. 

Dengan gampang kita menemukan para prajurit itu di kehidupan malam, menjadi centeng kalangan keturunan atau setidaknya jadi anggota satuan pengamanan.

Mungkin akan ada yang bilang,”Mungkin saja itu jam tangan KW sekian, yang dibeli di Glodok..dst”. Tetapi buat apa seorang jendral masih memelihara sifat snobis alias gengsi? Sebab tak mungkin seorang jendral memiliki rasa percaya diri yang rendah. 

Rasanya, seorang jendral tentu tak memerlukan barang KW sekadar untuk menaikkan gengsi.
Yang lebih prinsip, barangkali karena Jendral Moeldoko adalah prajurit pertama yang merefleksikan wajah TNI. 

Kita tahu, prajurit TNI erat dengan Sapta Marga dan Pancasila.

Marga kesatu dalam ‘Sapta Marga’ menegaskan, tentara adalah warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila. Sementara esensi Pancasila, terutama sila ke-5, ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh rakyat Indonesia’ menegaskan bahwa keharusan seorang Pancasilais untuk “tidak bersifat boros” dan “tidak bergaya hidup mewah”.

Tentu, kita tak layak menghakimi. Hanya wajar bila terbersit di benak, bagaimana para prajurit TNI akan melihat kontradiksi ini. Kita tak perlu membandingkannya hingga kesederhaan Bapak TNI, Jendral Soedirman, yang merasa cukup dengan rokok tingwe alias nglinthing dewe atau bikin sendiri. Kita tahu sosoknya, kurus, ringkih, berbalut jas kedodoran yang barangkali saja pemberian siapa.

Dunia pernah terhenyak menyaksikan seorang sosok militer terkenal, keluar dari rute gerilyanya di hutan Lacandon, Meksiko. Sosok ramping dengan topeng dan bandana sobek-sobek yang telah kehilangan warna, tapi tak kehilangan kharisma. Ia, Subcomandante Marcos.

Kita diajak merenung saat dia bicara pada 1995,” Kami berharap rakyat akan memahami bahwa cita-cita yang menggerakkan kami adil, dan bahwa jalan yang kami pilih juga adil. Tapi itu bukan satu-satunya jalan. Bukan pula jalan yang terbaik dari semuanya.” Ia gagah, namun sikapnya merendah. 

Semoga suatu saat Jendral Moeldoko berkata kepada kita bahwa tentara pun—bersama rakyat, siap untuk menggapai keadilan. Dan menjadi teladan untuk membuat rakyat mengerti apa itu keadilan.

Sumber : Inilah

Selingan : Jendral Moeldoko, Tentara Berarloji Satu Miliar | 71mm0 | 4.5

Leave a Reply