Sepenggal Kisah Perjalanan Presiden Soeharto Dalam “Pak Harto The Untold Stories”

Sepenggal Kisah Perjalanan Presiden Soeharto Dalam “Pak Harto The Untold Stories”“Hina bagi mereka yang tak tahu dan tak mengerti, tapi tidak bagi mereka yang mengetahuinya secara mendalam, secara lebih dekat, dan lebih jujur.” Kalimat inilah barangkali layak disematkan kepada Mantan Presiden RI ke-2, H. Muhamad Soeharto. Di tengah menggumpalnya berbagai sorotan negatif dan penilaian buruk terhadapnya, presiden yang akrab dengan nama Pak Harto ini ternyata juga menyimpan segudang pujian. Hal ini terlihat dalam sekumpulan testimoni yang terangkum dalam buku “Pak Harto The Untold Strories”.

Buku besutan Mahpudi, dkk yang diterbitkan PT Kompas Gramedia Pustaka Utama (2011) ini menjadi kompilasi historis kehidupan Soeharto dari berbagai sisi. Buku ini seperti hendak membuka “tira-tirai” sejarah yang tak terekspose selama ini. Buku ini pula seperti membenarkan ungkapan, “Setiap orang memiliki keistimewan-keistimewaan.”

Berikut ini sebagian isi buku tentang testimoni presiden Soeharo yang memimpin Indonesia selama 32 tahun oleh sahabat-sahabat karibnya:

Paham Nasib Rakyatnya (Wiranto, mantan Panglima)
Setiap kali hendak bermain golf di Rawamangun, Pak Harto hanya dikawal satu jip pengawal di belakang. Posisi duduk pun berubah, Pak Harto di samping pengemudi, ajudan di belakang. Suatu kali ketika tiba di Jalan Paramuka dan hendak belok kiri ke arah rawamangun, antrean kendaraan yang dihentikan polisi sudah terlalu panjang. Terdengar klakson bersahut-sahutan. Mengetahui itu, lantas Soeharto berpesan, “Lain kali polisi tidak perlu menyetop mereka terlalu lama. Mereka kan punya keperluan yang mendesak, sedang saya kan hanya mau berolahraga. Jadi biar saya menunggu sebentar, kan tidak apa-apa.”

Paham Nasib Rakyatnya (Tengku Zulkarnain, Ulama asal Medan)
Pertanyaan saya terjawab setelah mendarat di kampung itu. saya melihat penduduk yang sederhana bisa hidup nyaman di tanah leluhur mereka. Di tempat seterpencil itu ada pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), ada SD inpres dengan guru-gurunya, juga ada rumah ibadah. Pemerintah yang menyediakan itu semua. Kenyataan itu mulai mengusik nurani saya yang bertanya, jika Pak Harto dibilang jahat, masak orang jahat berbuat kebaikan yang seniscaya itu?

Paham Nasib Rakyat (Emil Salim, anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI)
Baru ketika kami tiba di Vatikan, saya bisa melaporkan bahwa krisis pangan di Indonesia sudah teratasi, ini membuat Pak Harto tampak sedikit tenang. Seusai acara kenegaraan, setelah tiba di tempat menginap di wisma Indonesia di Vatikan, Pak Harto langsung mengganti pakaian kerja resmi dengan sarung dan kaos oblong. Setelah itu beliau keluar dari kamar dan mengumpulkan kami di ruang makan dan berkata, “Sekarang saatnya kita bisa makan dengan tenang, karena saudara-saudara kita di Tanah Air juga sudah dapat makan dengan tenang.”

Saya melihat kelegaan yang sangat di wajah Pak Harto. Dengan penuh syukur kepada Tuhan yang Mahakuasa, kami semua menikmati nasi hangat dan menu yang sangat Indonesia, lengkap dengan sambalnya.

Paham Nasib Rakyat (Sayidiman Suryohadiprojo, mantan Dubes RI untuk Jepang)
Saya terkejut mendapat perhatian Pak Harto yang luar biasa, “Istrimu sakit kan? Bawa sekalian berobat, tidak usah berpikir biaya. Gajimu kan tidak seberapa, kecil di sana. Biar nanti ada yang mengurus biayanya,” kata Pak Harto.

Sepotong peristiwa itu menorehkan kenangan mendalam di hati saya. Pandangan saya akan Pak Harto berubah, dari sekadar pemimpin di pemerintahan menjadi orang tua sekaligus sahabat yang memang harus diberi masukan-masukan yang benar.

Pengajar Kebijaksanaan (Begug Poernomasidi, Bupati Wonogiri 1999-2009)
“Menjadi pejabat itu jangan untuk mencari jenang (materi), tapi carilah jeneng (nama baik). Kalau kamu sudah memperoleh jeneng, maka jenang akan datang kepadamu dengan sendirinya,” itu petuah Pak Harto yang selalu saya pegang.

Pengajar Kebijaksanaan (Sudwikatmono, pengusaha)
“Bisnis itu ada hukumnya. Kamu tidak boleh menzalimi orang. Kalau utang harus dikembalikan. Berdagang harus jujur, kalau tidak maka kita tidak akan dipercaya orang,” begitu salah satu pesan Pak Harto. Pesan beliau itu terus saya ingat dan saya amalkan.

Sosok Sederhana (JB. Sumarlin, Ketua BPK 1993-1998)
Suatu sore di tahun 1984 saya menghadap Pak Harto di kediaman beliau. Pak Harto minta disiapkan makanan ringan, eh yang datang dua gelas pop mie. Pegawai dapur membuka plastik penutup lantas menuangkan air panas. Setelah menunggu sekitar tiga menit, baru mi instan itu diaduk.

Kami pun menyeruput kuahnya dan makan bersama. Itulah pertama kali saya makan pop mie. Orang mengira makanan yang disuguhkan Pak Harto itu mewah dan mahal. Meskipun beliau itu presiden, Pak Harto tidak canggung menyantap mi instan seperti rakyat kebanyakan di luar.

Dirindukan Karena Prestasinya (Sultan Haji Hassan Al Bolkiah, sultan pertama Brunei)
Saya berasa sedih karena Presiden Soeharto tidak lagi ada bersama-sama kita. Namun demikian, saya percaya bahwa segala pencapaiannya semata bagi Republik Indonesia yang dicintainya maupun pertumbuhan ASEAN, kesemuanya merupakan bukti yang nyata terhadap warisan keemasan yang diturunkannya kepada rantau kita.

Dikenang Negara Lain (Fidel Ramos, Presiden Filipina ke-13)
Dengan difasilitasi oleh Pak Harto, pertemuan itu akhirnya dilaksanakan di Istana Cipanas, Jawa Barat, Indonesia. Perundingan damai digelar pada 14-17 April 1993 dihadiri faksi-faksi yang bertikai, perundingan itu membuahkan sejarah besar bagi kami bangsa Filipina, yaitu terciptanya kesepakatan damai antara mereka yang bertikai dan mempersatukan kembali bangsa kami beragam dalam naungan kesatuan nasional Filipina.

Tegas Mengatasi Masalah (Tun Mahathir bin Muhammad, Perdana Menteri Malaysia)
Pak Harto adalah pemimpin yang memahami begitu banyak masalah, sehingga beliau bisa mengatasinya untuk kemudian membangun negara Indonesia dengan baik. Memang ada yang berpendapat bahwa pemerintahan Pak Harto keras, tetapi kami tidak melihatnya seperti itu, karena tidak mungkin suatu pemerintahan tidak berlaku tegas, dengan membiarkan sama sekali adanya masalah-masalah. Banyak negara yang merdeka pada waktu yang bersamaan, sampai sekarang tidak mengalami kemajuan apa-apa karena adanya civil war, perang saudara. Namun Pak Harto dapat mengawal sehingga Indonesia bisa menjadi sebuah negara jaya.

Pencipta Stabilitas Ekonomi (Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura)
Soeharto menciptakan suatu era stabilitas dan kemajuan di Indonesia. Hal ini membangkitkan kembali keyakinan internasional di wilayah kita, dan membuatnya menjadi aktraktif untuk investasi asing serta mendorong kegiatan ekonomi.

Di bawah Soeharto, Indonesia tidak bersikap serperti sebuah negara hegemoni. Indonesia tidak bersikeras terhadap pandangan dirinya, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan-kepentingan negara lain dalam ASEAN. Sikap ini membuat Indonesia diterima oleh anggota ASEAN lain sebagai first among equal.

Masih banyak sisik melik kisah Pak Harto lewat buku Pak Harto The Untold Stories. Misalnya saja kenangan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin saat mengawal penguasa 32 tahun itu ke Bosnia pada 1995.

Kala itu, di tengah baku tembak antara Bosnia dan Serbia, Pak Harto berkunjung ke Bosnia-Herzegovina menemui Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Pesawat Soeharto terus menerus diawasi senapan anti pesawat udara. Presiden ke-2 RI ini pun dibidik sniper. Namun Soeharto kalem saja.

Saat itu Sjafrie berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Grup A Paspampres. Ketika masih berada di Kroasia, terdengar kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki saat terbang ke Bosnia. Namun insiden penambakan itu tidak menyurutkan langkah Soeharto ke Bosnia.

Karena keterbatasan kursi, hanya Sjafrie dan Mayor CPM Unggul yang mengawal Soeharto dalam pesawat sewaan itu. Sjafrie juga menulis Soeharto enggan mengenakan rompi anti peluru dan helm baja. Padahal semua memakai rompi antipeluru seberat 12 kg yang bisa menahan proyektil M-16.

“Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja,” ujar Soeharto pada Sjafrie.
Pak Harto tetap menggunakan jas dan kopiah. Sjafrie pun ikut-ikutan mengenakan kopiah yang dipinjamnya dari seorang wartawan yang ikut.

“Ini dilakukan untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah,” terang Sjafrie.

Saat mendarat di Sarajevo, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk merontokkan pesawat terbang terus mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongannya. Saat konflik, lapangan terbang itu dikuasai dua pihak. Pihak Serbia menguasai landasan dari ujung ke ujung, sementara kiri-kanan landasan dikuasai Bosnia.

“Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah,” tulis Sjafrie.

Pak Harto kemudian naik panser VAB yang disediakan PBB. Mereka melewati sniper valley, sebuah lembah yang penuh diisi penembak jitu dari kedua pihak yang bertikai. Untungnya tidak ada apa-apa selama perjalanan. Soeharto pun tiba di istana kepresidenan Bosnia yang saat itu keadaannya memprihatinkan. Tidak ada air sehingga air bersih harus diambil dengan ember. Selama pertemuan, Sjafrie melaporkan ada tembakan meriam tak jauh dari istana.

Setelah meninggalkan istana, Sjafrie pun bertanya pada Soeharto mengapa nekat mengunjungi Bosnia yang berbahaya. Termasuk menyampingkan keselamatan dirinya.

“Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah semangat,” jawab pak Harto.

Sjafrie terpesona mendengar jawaban ini.

Soeharto di Mata Rakyat Malaysia
Mantan Presiden Soeharto tak hanya dikenang oleh Bangsa Indonesia. Penguasa Orde Baru itu tampaknya juga dikenang oleh pemerintah dan masyarakat negeri jiran, Malaysia.

Dalam peluncuran buku berjudul ‘Pak Harto The Untold Stories’ di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu 8 Juni 2011, mantan Menteri Penerangan Malaysia Tun Sri Zainudin Mahidin yang hadir mewakili mantan PM Mahathir Muhammad mengatakan Malaysia berhutang budi pada mantan Presiden Suharto atas peranannya mengakhiri beberapa konflik di Malaysia.

“Meski tidak menampakkan keakraban, tapi dalam ta’ziahnya Mahathir telah membela Pak Harto dari tuduhan orang-orang yang telah melupakan jasa-jasanya,” kata dia dalam sambutan peluncuran buku.

Mahidin yang juga mantan jurnalis itu mengatakan sosok Soeharto sebagai orang yang berwibawa. Selain sebagai tentara, dia kenal sebagai seorang diplomat yang bagus. “Oleh karenanya terpatri di benak masyarakat Malaysia untuk mengabadikan nama Soeharto,” kata dia.

Sebagai bukti penghormatan rakyat Malaysia kepada Soeharto, di sebelah utara Hulu Selangor negeri jiran itu ada suatu wilayah yang disebut Kampong Soeharto. Kampong yang berdiri diatas tanah seluas 174,047 hektar ini dihuni 178.500 jiwa, terdiri dari etnis Melayu, Jawa, Banjar dan India.

“Nama Pak Harto terpatri di rakyat malaysia sebagaimana ada Kampong Soeharto, Masjid Soeharto, rumah sakit Soeharto, dan Sekolah Kebangsaan Soeharto,” tuturnya.

Meski era kepemimpinan Soeharto sudah berakhir namun sebagai penghormatan kepada Soeharto, nama kampung itu tidak dirubah.

“Walaupun Pak Harto sudah berhenti, Kampong Suharto tidak akan dirubah namanya, karena hubungan Indonesia dan Malaysia berjalan sangat baik pada masa tersebut,” kata dia

Incognito Bersama Pak Harto
Pada pertengahan tahun 1970-an, almarhum Presiden Soeharto kerap mengadakan kunjungan diam-diam(incognito) ke desa-desa. Benar-benar incognito,karena dilakukan secara rahasia, dengan menggunakan mobil jeep bukan mobil kepresidenan. Jeep yang digunakan Toyota Hardtop yang populer ketika itu dan dapat masuk ke pelosok-pelosok desa.

Rombongan incognito Pak Harto ketika itu tidak lebih dari tiga kendaraan termasuk ajudan dan pengawal presiden. Begitu rahasianya kunjungan diam-diam itu hingga dilakukan tanpa memberitahukan kepada para menteri,apalagi pejabat daerah setempat. Pak Harto ingin mendapat informasi langsung dari sumber pertama, rakyat yang diajaknya berdialog.

Begitu rahasianya kunjungan itu, sehingga wartawan Antara,Pattirajawane, yang ketika itu bertugas di Istana sejak masa Bung Karno, diminta datang oleh Kepala Dokumentasi dan Media Massa Setneg, Dwipayana, yang lebih akrab di kalangan teman-teman pers dengan panggilan Pak Dipo. “Besok Anda berangkat ikut Presiden Soeharto,” kata Pattirajawane menirukan kata-kata Pak Dipo.

Dia juga mengingatkan bahwa perjalanan tersebut rahasia dan tak boleh seorang pun tahu. Juga istri dan kantor,tidak boleh tahu. Keesokan harinya, berangkatlah dia, antara lain bersama Saidi, fotografer yang menjadi kepercayaan Pak Harto. Patti sengaja dipilih, karena selain senior, juga menguasai bahasa Jawa yang banyak digunakan Pak Harto dalam berdialog saat menemui rakyat kecil.

Pernah ketika Pak Harto mengemukakan niatnya untuk melakukan kunjungan incognito, pihak Komandan Paswalpres, seperti dituturkan Casmo Tatilitofa dalam buku Catatan Ringan Wartawan Istana, mengatakan, “Kami tidak berani mengambil risiko keamanan, Pak”. Menanggapi kekhawatiran itu, almarhum Presiden Soeharto menjawab kalem, “Masak takut? Kita kan semua tentara.”

Setelah bergabung dengan Pak Harto di Bekasi seperti dipesankan Pak Dipo rombongan menuju Majalengka.Dalam kunjungan ini Pak Harto mengaku sebagai Pak Mantri.Rupanya karena di perjalanan sering berdialog dengan rakyat, di antara para pedagang di pasar dan petani di persawahan,ada yang tahu bahwa yang mengaku Pak Mantri itu adalah Presiden Soeharto. Rupanya, seorang kepala desa tidak siap menyambutnya.Hingga terpaksa tengah malam menggedor sebuah toko milik Cina untuk membeli kain blacu guna dijadikan seprai untuk tidur Pak Harto. Di sini, Pak Harto mandi di sumur.

Ketika berada di Cilacap, Jawa Tengah, saat meninjau SD Inpres, Pak Harto rupanya melihat ketidakberesan pembangunan gedung sekolah yang disubsidi pemerintah itu. Ia menendang dinding sekolah dengan sepatunya dan ternyata dinding itu ambruk.“Siapa anemer (pemborong) bangunan ini?” tanyanya sambil sekali lagi menendang dinding yang keropos. Dia minta agar pihak pemborong bertanggung jawab terhadap bangunan tersebut.

Suatu hari, ketika berada di Jawa Tengah, kedatangan diam-diam Pak Harto diketahui banyak orang. Pasalnya, ada yang mengenalinya dan akhirnya kunjungan yang sebelumnya dirahasiakan itu terbongkar. Kontan saja, bupati, gubernur, dan para pejabat Pemda berdatangan memburunya.

Masih dalam penyamaran, ketika berada di Gunung Kidul, ada rapat di kelurahan. Mereka tidak tahu yang masuk adalah Pak Harto yang minta agar rapat diteruskan setelah berhenti sejenak. Ketika itu, rapat membahas soal pupuk. Pak Harto yang anak petani itu mengoreksi cara-cara dan ukuran penggunaan pupuk. Di Kemusuk, desa tempat kelahirannya, Pak Harto menginap di kediamannya.

Begitu rahasianya kunjungan Pak Harto ke desa-desa itu,sampai Ismail Saleh yang ketika itu menjadi sekretaris kabinet dan pemimpin umum LKBN Antara tidak tahu.Ketika kembali ke Jakarta setelah menyertai Pak Harto,Pattiradjawane dipanggilnya. Pak Ismail memarahinya kenapa tidak memberi tahunya. “Saya ini Sekretaris Kabinet, kenapa kamu tidak kasih tahu saya,” kata Ismail Saleh seperti dituturkan Patti.

Di kediamannya, di Jl Cendana, menjelang ulang tahunnya yang ke-64, pada 8 Juni 1985, Pak Harto pernah menerima rombongan tamu istimewa, jumlahnya sekitar 50 orang. Mereka adalah murid SD Petukangan, dan siswa Jakarta International School, Cilandak keduanya di Jakarta Selatan. Mereka datang guna membacakan puisi untuk Pak Harto yang dengan tekun duduk bersama Ibu Tien.

Puisi itu merupakan cuplikan riwayat hidup Pak Harto yang dibacakan sebagai hadiah ulang tahun dari murid-murid SD tersebut. Puisi itu berjudul Putra Pertiwi dan dibacakan oleh murid-murid Jakarta International School, dicuplik dari buku biografi Anak Desa. Yang tak kalah menyentuh adalah ungkapan hati anak-anak SD Petukangan pada Pak Harto, “Semoga panjang umur, semoga sering tersenyum.”

Dalam usia yang semakin tua, Pak Harto memang mendapat tempat tersendiri di hati anak-anak. Lebih dari 23 ribu surat setahun dikirim anak-anak dari berbagai pelosok Tanah Air kepadanya. Dan, isinya pun khas anak-anak lugu dan spontan. Mereka misalnya minta perangko, foto Presiden sekeluarga, sampai minta dikirimi sepeda mini. Sebagian besar permintaan itu dikabulkan oleh Pak Harto.

Kisah Pengamen Nekat
 Namanya Munari Ari. Ia bukan menteri, ajudan atau orang dekat Presiden RI kedua Soeharto. Tahun 1980-an ia hanyalah seorang tukang ngamen. Kawasan operasinya mulai perempatan Megaria hingga depan kampus Universitas Indonesia di Salemba. Dan jika malam tiba, ia kerap menumpang tidur di depan kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Namun Ari punya cerita istimewa tentang Pak Harto. Ia menuturkannya dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories” yang diluncurkan pada 8 Juni 2011 lalu, tepat 90 tahun usia Soeharto.

Saat sedang ‘bekerja’, Ari menuturkan, ia kerap memperhatikan mobil-mobil yang melintas. Yang selalu menarik perhatiannya adalah iring-iringan mobil yang rutin melintas di hari Rabu dan Jumat pada jam yang sama. Iringan mobil yang dikawal pasukan pengamanan Presiden ini membawa Pak Harto ke lapangan golf Rawamangun. Biasanya sebelum matahari terbenam, rombongan kembali melintas pulang.

Bukan sekali dua kali Ari dan sahabatnya Herman Obos mencoba nekat mendekat ke bibir jalan untuk melihat rombongan lebih jelas. Namun pengamanan sangat ketat. Ia kerap diusir, bahkan pernah nyaris ditempeleng.

Pada hari Jumat di pertengahan 1986, Ari dan Obos, berhasil lolos dari pantauan aparat. Di seberang Restoran Sasa kawasan Salemba, mereka berdua berbaris tegak rapat sejajar. Masih memegang gitar dan biola, dengan sikap sempurna begitu mobil Pak Harto melintas, mereka mengangkat tangan untuk memberi hormat.

‘Upacara’ tanpa bendera ini rutin dilakukannya setiap kali rombongan Presiden melintas. Setelah sebulan berlalu, Ari dan Obos merasa setiap kali lewat depan RSCM, rombongan mobil Presiden berjalan lebih lambat. Bulan berikutnya, terjadi hal yang tidak terduga. Saat Ari dan Obos melangsungkan acara penghormatan rutin, mobil dengan plat RI 1 berjalan makin pelan dan bahkan mendekat.

Sejurus kemudian tepat di depan mereka, kaca hitam jendela belakang mobil diturunkan perlahan dan muncullah senyuman khas Soeharto. “Seketika itu juga, saya dan Obos memberi hormat dan berseru, ‘Selamat siang, Paaaak!’”.

Pak Harto seperti biasa tersenyum dan mengangguk. Sejak kejadian itu, polisi tidak pernah lagi mengusir Ari dan Obos yang makin giat menghormat setiap rombongan lewat.

Dan, siapa mengira kegiatan nekat dua remaja ini mengubah hidup mereka kelak. Terkesan dengan aksi dua pengamen ini, Pak Harto pun mengutus putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut mencari dua remaja itu. Bukan main senangnya Ari dan Obos saat itu. Mereka diajak ke Cendana, bahkan ikut menyumbangkan dua lagu di hari ulang tahun pernikahan Pak Harto dan Bu Tien.

Dia juga dikontrakkan rumah di kawasan Kramat, Jakarta Pusat. Sandang pangan tercukupi. Sampai akhirnya ia merasa tidak bisa hanya menerima uluran tangan terus. Ia pun melamar kerja di salah satu perusahaan milik Tutut. Namun tahun 2000 ia memutuskan keluar. Kini Ari sukses menjalankan usaha biro jasa miliknya sendiri.

“Piye to kok ora bisa ditulung (bagaimana sih kok tidak bisa ditolong)?” adalah pertanyaan Pak Harto ketika ia merasa limbung menghadapi kenyataan baru saja kehilangan belahan jiwanya, Ibu Tien Soeharto-istri tercinta yang puluhan tahun menemaninya mengarungi suka dan duka, istri yang selalu mengobarkan semangatnya, menuangkan kasih sayang, serta menguatkan hati.

Setetes air mata Pak Harto menandai kehilangan besar yang harus diikhlaskannya hari itu, disaksikan Profesor Dr. Satyanegara yang selanjutnya menjadi lebih sering menjaga kesehatan Pak Harto. Demikian pula perjalanan hidup Pak Harto sejak muda yang terekam dengan baik dalam ingatan keluarga besar, sesama kepala negara, para menteri, ajudan, serta orang-orang yang bekerja bersamanya, menjelaskan sisi-sisi lain karakter Pak Harto yang sangat jarang dipublikasikan, yang selama ini tersimpan sebagai the untold stories seorang Pak Harto.

Masih dalam kenangan mesra Pak Harto bersama Ibu Tien, Brigjen TNI (Purn) Eddie Nalapraya, yang berpangkat kapten ketika menjadi pengawal pribadi Pak Harto di tahun-tahun awal menjabat Presiden RI, pernah mendapat pesan jenaka dari Ibu Tien. Ibu Negara itu mengetuk-ngetuk jendela mobil sesaat sebelum Eddie berangkat mengawal Pak Harto memancing ke laut lepas, “Jangan memancing ikan yang berambut panjang ya….” Pesan canda buat sang pengawal itu membuat Pak Harto tersenyum mendengarnya.

Sementara Profesor Dr. Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pada masa pemerintahan Pak Harto, menuturkan kisah yang mengharukan ketika sepasukan tentara disiapkan untuk menembaki serombongan gajah yang dilaporkan memorakporandakan kebun-kebun warga desa transmigrasi di Lampung. Rupanya hewan-hewan besar itu keluar dari hutan karena setiap enam bulan sekali mereka perlu berendam di laut untuk mendapatkan garam.

“Mendengar rencana itu, Pak Harto segera memerintahkan agar para tentara tidak menembaki kelompok gajah pada saat mereka pulang nanti, melainkan menggiringnya melalui jalan yang berbeda, dengan menggunakan peralatan yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian seperti genderang dan terompet. Maka pada perjalanan kembali ke habitatnya di atas bukit, gajah-gajah itu tidak lagi menghancurkan kebun dan rumah di desa transmigrasi,” cerita Pak Emil.

Ide sederhana Pak Harto ini berakhir tidak sederhana. “Setelah berhari-hari mengawal kawanan gajah pulang ke hutan tempat tinggalnya di atas bukit, beberapa tentara meneteskan air mata haru karena dapat merasakan terbitnya kasih sayang di hati mereka terhadap hewan-hewan itu. Presiden Soeharto lantas mengundang semua tentara yang bertugas dari yang berpangkat terendah ke rumahnya di Jalan Cendana. Dengan riang Pak Harto menyalami mereka satu per satu sebagai tanda terima kasih,” cerita Pak Emil.

Sampai menjelang akhir hayatnya Soeharto ternyata masih mempedulikan rakyat. Soeharto sempat berencana ingin berjualan nasi dan nugget ikan dengan harga murah agar rakyat bisa makan dengan layak.

Saat itu di tahun 2006, Husni mengunjungi Soeharto di Jl Cendana. Mereka makan bersama. Saat mengobrol, suara Soeharto tidak jelas karena stroke.

“Sekarang harga beras berapa?” tanya Soeharto.
Husni menjawab Rp 6.200 dan itu beras impor dari Vietnam.

Mendengar itu Pak Harto tampak sedih. Wajahnya kecewa. “Berarti swasembada pangan saya gagal,” kata Soeharto.

Di pertemuan lain, Soeharto berencana membuat program 10 ribu gerobak dorong yang menjual nasi murah berisi nasi, nugget ikan, sayuran dan sambal. Selain rakyat bisa membeli makanan bergizi, penjualnya pun bisa mendapat untung.

“Sebungkus Rp 5.500, modalnya Rp 4.500, jadi pedagang mendapat Rp 1.000. Kalau sehari laku 50 bungkus sebulan didapat Rp 1,5 juta. Kalau ada 10 ribu gerobak, berarti ada 10 ribu keluarga yang sejahtera,” terang Pak Harto.

Sayangnya Pak Harto keburu jatuh sakit sehingga keinginannya di masa tua agar rakyat kecil bisa makan nasi dengan lauk pauk bergizi dengan harga murah, tidak pernah terlaksana.

Sumber
Sepenggal Kisah Perjalanan Presiden Soeharto Dalam “Pak Harto The Untold Stories” | Darina Nuril Ahsyan | 4.5

Leave a Reply

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better