T50i Golden Eagle menuju “World Class Air Force”

11 September lalu, dua T-50i Golden Eagle menjejakkan roda-roda pendaratnya di Pangkalan Udara TNI AU Balikpapan, sebagai bagian penerbangan ferry-nya dari manufakturnya di Korea Aerospace Industries, Sacheon, Korea Selatan, menuju Indonesia.

Itu pendaratan pertama Golden Eagle itu, dua pesawat lagi mendarat pada 26 September 2013 di Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, “rumah” barunya. 


Bagi TNI AU, kehadiran Golden Eagle itu memiliki arti khusus karena akan mendekatkan cita-cita dan visi mereka pada predikat World Class Air Force, sejalan peta jalan pertahanan Indonesia melalui TNI yang menetapkan pada 2014 sudah berada pada status kekuatan minimum esensial arsenalnya.

Golden Eagle yang dibeli baru sebanyak 16 unit itu akan menggantikan peran seniornya, Hawk Mk-53 buatan Inggris, yang berdinas sejak 1970-an di Skuadron Udara 15 Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, Jawa Timur.

Semula, ada lima kandidat yang dilirik Kementerian Pertahanan sesuai keperluan spesifikasi dari pengguna, TNI AU.

Mereka semua ada di kelas dan spesifikasi kurang lebih sama, yaitu di kelas advanced training jets/lead-in fighter trainer; T-50i Golden Eagle, Yakovlev Yak-130 Mitten, Aermacchi M-346, L-159 buatan Ceko, dan Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000. 


Dengan L-159, TNI AU pernah punya pengalaman pemakaian, yaitu pada seniornya, L-29 Dolphin saat pabrikannya masih bernaung dalam Republik Cekoslovakia.

Yak-130 Mitten dan M-346 memiliki penampilan identik hanya beda mesin, beberapa feature avionika/sistem penjejak musuh-peluru kendali, dan kelengkapan sistem pendukung saja; Mitten dengan basis Rusia-nya, dan M-346 dengan pilihan sistem pendukung lebih luas dari Barat.


Satu yang baru adalah Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000, yang jujur saja, belum teruji di manapun di dunia ini kecuali di negeri asalnya, China. Bicara tentang China, negeri ini sangat ambisius mengembangkan industri penerbangan sipil dan militernya, dan sangat gencar berpromosi. 

Beberapa persyaratan yang diinginkan pengguna adalah advanced jet trainer yang baru harus mampu mengantarkan pilot-pilot tempur TNI AU mengawaki pesawat-pesawat tempur baru secara lebih mudah dan canggih.

Skuadron Udara 3 memiliki F-16 Fighting Falcon Blok 15/25, Skuadron Udara 11 menjadi rumah bagi Sukhoi Su-27 Flankers (Su-27SKM dan Su-30Mk2) yang jumlahnya genap 16 unit plus sistem kesenjataannya. 


Mencetak pilot-pilot tempur untuk mengawaki semua pesawat tempur itu jelas bukan urusan mudah dan cepat. Belum lagi jika nanti 24 unit F-16 Fighting Falcon Blok 32+ eks Angkatan Udara Pengawal Pantai Amerika Serikat tiba, yang akan ditempatkan di Skuadron Udara 16. 

Sebagai negara pertama pemakai T-50i Golden Eagle di luar Angkatan Udara Korea Selatan, TNI AU akan menempatkan Elang-elang Emas ini bukan cuma sebagai pesawat latih semata. Designasi di ekor tegaknya diberi huruf dan angka TT5001 dan seterusnya, pertanda dia adalah pesawat tempur taktis.

Belajar dari peristiwa Bawean pada 3 Juli 2003 –sebagai misal– saat F-16 TNI AU “dikunci” pesawat tempur asing di wilayah udara kedaulatan sendiri jelas bukan hal menyenangkan untuk dialami pilot tempur TNI AU; dan Golden Eagle diharapkan bisa memberi pelajaran lebih nyata tentang itu. 

Dari luar, tampilan samping dan tampak atas/bawah T-50i Golden Eagle ini sangat mirip dengan F-16 Fighting Falcon; yang lumrah mengingat KAI mengembangkan Elang-elang Emas ini dengan terobosan bekerja sama dengan pabrikan barunya, Lockheed Martin dari Amerika Serikat. Dalam hal rekayasa rancangan, kerja sama ini sangat menguntungkan KAI. 

Dari Lockheed Martin, Elang-elang Emas ini disuplai sistem penginderaan musuh radar AN/PG-67(v)4 dan mesin jet tunggal General Electric GE F404, yang cukup mampu menerbangkan dia pada kecepatan 1,5 Mach sangat mudah dalam keadaan full gear pada bobot maksimal 27.322 pound menuju ketinggian maksimal 55.000 kaki dari permukaan laut. 

Juga dikenal (para edisi awal 1992), Elang-elang Emas para generasi terkini –yang dibeli Indonesia– ini juga ditanami radar aktif (AESA/active electronically scanned array radar) Israeli EL/M-2032 pulse-Doppler.

Data pabrikan KAI menyatakan, radar ini 66 persen lebih besar dan memiliki sistem tautan data lebih canggih ketimbang radar semula yang dipasang di TA-50.


Radar AESA EL/M-2032 sejak awal diunggulkan ketimbang AN/APG-67(V)4 and SELEX Vixen 500E AESA radar, yang dipilih Lockheed Martin. Pilihan lain adalah Raytheon Advanced Combat Radar dan Northrop Grumman’s Scalable Agile Beam Radar, bagi produksi-produki mendatang. 

Yang unik, sistem data yang dibangun pada piranti dan sistem radar ini memungkinkan T-50i Angkatan Udara Korea Selatan dan F-16 Fighting Falcon Angkatan Udara Amerika Serikat saling berkomunikasi.

Bicara hal unik ini, jelas telah memasuki ranah politis mengingat Korea Selatan sekutu dekat Amerika Serikat sebagaimana Jepang di Asia Timur. 


Di Tanah Air, Elang-elang Emas ini akan diutilisasi semaksimal mungkin, layaknya dinyatakan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pengirimannya selesai sepenuhnya pada 2014.

“Pesawat ini yang kita beli, sangat bertenaga,” kata dia, saat menerima delegasi KAI di Jakarta, September 2011.

Berbagai misi akan bisa diemban Elang Emas, mulai dari melatih pilot muda dan profisiensi lain, patroli udara, tim aerobatik (sesuai warna biru-aksen kuning enam Golden Eagle pertama yang hadir), hingga pertahanan udara. 


Omong-omong, rasio antara jumlah pesawat terbang dan pilot pengawaknya lazim dipahami satu banding dua atau tiga; dengan begitu maka paling tidak 32 (kalau bukan 48) pilot Elang Emas harus bisa dicetak pada 2014 nanti.
 
Sumber : Antara