Ternyata! Kapal Australia Pernah 6 Kali Masuk Wilayah Indonesia

Terungkap bahwa kapal Australia ternyata secara tidak sengaja pernah memasuki wilayah perairan Indonesia sebanyak 6 kali! 

Insiden ini terjadi ketika kapal yang menjaga perbatasan Australia tersebut tengah menghalau kapal-kapal pencari suaka yang hendak masuk ke wilayahnya.
Informasi tersebut didasarkan pada hasil peninjauan ulang yang dilakukan otoritas Australia dan dirilis pekan ini. Menteri Pertahanan Australia David Hurley mengakui adanya sejumlah kesalahan yang dilakukan kapal Australia, terkait pelanggaran batas kedaulatan tersebut. Namun, Jenderal Hurley meyakini bahwa insiden semacam itu tidak akan terulang di masa depan. Demikian seperti dilansir news.com.au, Kamis (20/2/2014).

Peninjauan ulang yang dilakukan Departemen Pertahanan dan Bea Cukai Australia menemukan, kapal Australia secara tidak sengaja memasuki perairan Indonesia sebanyak 6 kali pada periode Desember 2013 hingga Januari 2014. Hurley menyatakan, dirinya masih mencari tahu latar belakang insiden tersebut bisa terjadi.

“Tapi jujur, dari sudut pandang kami, kami mengakui adanya kesalahan, kami harus menghadapinya, melanjutkan hal yang kami lakukan, dan hal tersebut saya pikir mampu mencapai hasil,” tutur Hurley kepada ABC Radio.

Hasil peninjauan ulang ini memicu disusunnya lima rekomendasi untuk memastikan agar pelanggaran wilayah perairan tidak kembali terjadi di masa depan. Salah satu rekomendasi menyebutkan harus dilakukannya peninjauan ulang terhadap pelatihan petugas penjaga perbatasan, serta peninjauan ulang terhadap kebijakan dan dokumen prosedural.

Hurley menambahkan, pemerintah Indonesia telah diberitahui mengenai hal ini dan menyatakan kekecewaannya terhadap Australia. Namun menurut Hurley, Indonesia telah menerima penjelasan Australia.

“Ada kesepakatan bahwa ini merupakan ringkasan yang akurat atas apa yang telah terjadi, dan mereka menerima penjelasan tersebut,” sebut Hurley

Laporan peninjauan ulang tersebut menyebutkan bahwa ada dua kapal frigate bernama HMAS Stuart dan HMAS Parramatta yang melakukan 4 kali pelanggaran wilayah perairan serta kapal Bea Cukai Australia yang melakukan dua pelanggaran lainnya.
Pelanggaran ini, menurut laporan tersebut, sangat bertentangan dengan kebijakan pemerintah Australia dan juga instruksi langsung dari markas Operation Sovereign Borders di Canberra. Laporan itu menyebutkan, pelanggaran terjadi saat operasi pengusiran kapal-kapal pencari suaka yang berusaha memasuki wilayah Australia.

Angkatan Laut Australia meyakini bahwa pelanggaran tersebut dipicu oleh kesalahan kombinasi dari navigasi yang buruk dan instruksi yang tidak jelas dari markas Operation Sovereign Borders. Laporan tersebut meyakini bahwa pelanggaran ini tidak disengaja dan tidak dimaksudkan untuk menyerang kedaulatan Indonesia.

Sumber : Detik