Tim Terjun Payung Kopassus Berpacu dengan Waktu

Untuk mewawancarai anggota Tim Terjun Payung Kopassus dalam satu ruangan pada waktu bersamaan bukan hal mudah. Karena, masing-masing punya tugas berbeda, bahkan mungkin berasal dari grup yang berlainan juga. 

Namun, dengan bantuan dari Penerangan Kopassus, ASATUNEWS.com berhasil mewawancarai seluruh anggota tim ini di ruangan sama dan secara bersamaan. 

Terlebih lagi, mereka langsung diinstruksikan oleh Komandan Tim Letkol Yudha Airlangga (mantan Komandan Batalyon Aksus Sat-81 Gultor, yang kini bertugas di Pusdikpassus, 

Batujajar) untuk menerima wartawan kami, maka berkumpullah seluruh anggota tim ini. Berikut rangkuman dari wawancara tersebut.

Tim Terjun Payung Kopassus beranggotakan Kapten (K) Yose Damayanti, Serda (K) Ni Phutu Irma Purnama Dewi, Serda (K) Dessy Alvionita, Serka Edmond, Praka Suprio, dan Praka Ismail Doda. 

Beberapa waktu lalu, bertempat di Kota Solo, Jawa Tengah, diadakan kejuaraan terjun payung militer tingkat dunia, Conseil International du Sport Militaire (CISM). Dua medali pun disabet oleh tim dari Cijantung, Jakarta, ini. 

Tim Terjun Payung Kopassus dalam kejuaraan itu memperoleh medali emas yunior putri atas nama Serda Ni Putu dan perunggu atas nama Serda Dessy untuk ketepatan mendarat.

Dalam ajang itu, Kopassus menurunkan 7 anggotanya sebagai atlet: Kapten Yose, Letda Gintu, Sertu Wahyudi, Serka Edmond, Serda Ni Putu, Serda Dessy, dan Praka Suprio. Juga ada 13 anggota sebagai pendukung: Letda Arief, Letda Agung, Letda Denny Sofyan, Serma 

Erfintono, Serka Yuli, Serka Gabriel, Sertu Puji, Serda Herlangga, Serda Warno, Serda Mujio, Serda Suprapto, Serda Hidayat, dan Serda Murodi. Tim ini didampingi 3 orang pelatih, yaitu Letkol Yudha, Mayor Merry, dan Kapten Catur.

Tentu saja, untuk mendapatkan kedua medali tersebut bukan hal yang mudah. Apalagi, waktu persiapannya juga pendek, sehingga tim ini harus berlatih ekstra-keras.

“Sebelum masuk training center, kami melakukan seleksi dari ketiga angkatan, yaitu darat, laut, dan udara. Ini berbicara TNI, bukan hanya Kopassus. Dari sana tersaring 5 atlet putri dan 10 putra. Untuk putra masih dilakukan seleksi untuk membentuk satu tim yang berjumlah 5 orang. Itu proses awalnya,” papar Kapten (K) Yose Damayanti.

Proses seleksi hanya dilakukan selama sepekan, sedangkan pelatihan di training center berlangsung selama dua bulan: sebulan di Jakarta dan sebulan berikutnya di Solo. Hanya saja, khusus untuk Tim Persatuan Terjun Payung Angkatan Darat (PTPAD) sudah terlebih dulu melakukan pelatihan.

Waktu dua bulan dirasakan oleh seluruh anggota tim sangatlah sempit. Karena, tim dari negara lain rata-rata mempersiapkan diri untuk ikut dalam ajang lomba terjun payung tersebut minimal berlatih 6 bulan, bahkan ada negara yang mempersiapkan diri hingga 3 tahun.

Sementara itu, tim yang mewakili TNI saat latihan di Solo hanya berlatih sekitar 3 pekan saja. Tantangannya pun tidak sedikit. “Tantangan kami waktu itu adalah cuaca. Waktu itu, ketika latihan di Solo, suhu udara sangat panas dan angin bertiup sangat kencang. 

Ini sangat berpengaruh jika kami melakukan terjun ketepatan. Selain itu, jam terbang kami kurang. Tapi kami berusaha semaksimal mungkin. Jika angin berembus dengan kecepatan 25 knot, sangat dilarang untuk melakukan penerjunan karena faktor keselamatan, “ papar Serka Edmond.

Persiapan waktu yang hanya diberikan selama dua bulan tersebut terjadi karena pemberitahuan dari Marka Besar TNI datang tak dari jauh-jauh waktu. Sementara itu, pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah sudah lama ditentukan. 

“Kita ini tuan rumah, seharusnya tim ini sudah terbentuk saat kami kembali dari Cina, sudah harus dipersiapkan langsung saja. Kalau saya perhatikan negara-negara lain, anggota tim yang baru hanya satu atau dua saja. 

Rata-rata mereka satu tim utuh dengan komposisi lama. Contoh, saat saya ikut pertandingan CISM di Brazil tahun 2011, kemudian tahun ini di Solo, rata-rata dari tim negara lain anggotanya masih tetap yang lama. Jadi, seharusnya persiapan dilakukan setahun, apalagi kita kan tuan rumah,” kata Kapten Yose.

Keikutsertaan Indonesia dalam ajang internasional itu sudah sejak 1980-an. Anehnya, pendeknya waktu untuk persiapan selalu saja terjadi. Padahal, bisa dikatakan, ajang dunia ini dilakukan secara berkala dan bukan jadi alasan waktu yang sedikit diberikan kepada atlet. 

Kejadian yang sama juga terjadi saat CISM di Brazil, tim terjun dari Indonesia hanya diberi waktu selama sebulan untuk melakukan  pelatihan. Jika dilakukan persiapan yang lama, tentu  penajaman kemampuan bisa ditingkatkan.

Seperti diketahui, tahun depan akan ada ajang yang sama. Hanya saja, kejuaraan diadakan untuk semua cabang olahraga, termasuk di dalamnya terjun payung.

Tim ini berharap, latihan penajaman jangan dihentikan, malah harusnya dilanjutkan. Tidak diperlukan lagi penyeleksian, cukup mematangkan saja tim yang sudah ada.

Diakui, ada dua materi yang harus dipertajam, yaitu kerja sama di udara dan ketepatan mendarat. Keduanya cabang yang cukup sulit dilakukan, terlebih lagi jika waktu yang diberikan sangat sedikit.

Ketika di Solo ada tiga materi yang diperlombakan, yaitu kerja sama di udara, ketepatan mendarat, dan freestyle.

Sharing Knowledge

Saat lomba, di antara tim peserta dari berbagai negara terjadi sharing knowledge. Biasanya dilihat dulu bagaimana satu tim berlomba, kemudian akan dilihat tim lain menggunakan peralatan payung dengan merek apa, lalu bagaimana mengemudikannya.

“Dilihat dari saat mereka mulai exit saja, stake sesama teman seperti apa, final approach-nya bagaimana, dia mengemudikan bagaimana, body position seperti apa, lalu bagaimana mereka mengatasi jika ada turbulensi. 

Nanti, setelah kami lihat, baru kami tanya kepada yang  jago-jago. Itu juga dilakukan oleh Danlat Pak Yudha, dia sampai pergi ke Amerika, Prancis, Italia, dan Jerman untuk bertanya bagaimana mereka berlatih.  

Lalu, apa kata mereka tentang kita? Mereka bilang, ‘Kalian itu sudah bagus, hanya saja kurang latihan.’ Mereka sendiri rata-rata sudah di atas 7.000 kali terjun. Untuk diketahui, tim Cina saja untuk persiapan ke Indonesia ini mereka mempersiapkan diri hingga 1.500 kali terjun. 

Sementara kami? Hanya 70 kali dan ada yang 50 kali! Memang, untuk freefall di antara kami ada yang sudah 2.000-an kali, namun itu beda jenis payungnya. Untuk tiap materi perlombaan ada perbedaan jenis payung. 

Untuk kerja sama di udara digunakan jenis payung yang berbeda untuk ketepatan mendarat,” kata Kapten Yose dan Serka Edmond.

Dengan sedikitnya waktu berlatih, mereka pun mengatasi dengan latihan di darat dengan menggunakan PFG. “Komandan membuat peta di daerah mana kami akan mendarat, lalu di-print out menggunakan banner yang lebar. 

Kami berlatih di atas peta tersebut. Kami sudah berusaha keras dengan persiapan waktu yang sangat minim. Untuk persiapan lomba ini, rata-rata hanya 75 kali kami terjun. Sementara itu, tim dari negara lain, mereka sehari terjun bisa 8 kali. Pagi 4 kali dan siang 4 kali,” kata Serka Edmond.

Perasaan saat Exit dari Pesawat

“Namanya manusia, pasti ada rasa takut. Semua orang pasti saat keluar masih ada perasaan ngeri, namun begitu sudah keluar malah enak saja. Sudah seperti berenang di udara. Namun semakin sering kita melompat, akan semakin hati-hati,” kisah Serda (K) Dessy.

Hanya saja, diakui oleh anggota tim, perasaan takut masih ada dan manusiawi. Saat exit, selalu muncul pertanyaan di benak masing-masing, apakah payung akan mengembang dengan sempurna atau tidak. 

Jika sudah mengembang dengan sempurna, saat mendarat apakah aman atau tidak? Perasaan tersebut biasanya di minimalisasi dengan cara saling memperingatkan di antara sesama anggota tim saat akan melakukan penerjunan.

Dengan sempitnya waktu untuk berlatih, harus diakui tim ini patut mendapat acungan jempol karena berhasil mendapatkan satu medali emas dan satu perak. Padahal, untuk tim ini belum ditargetkan apa-apa, hanya untuk meningkatkan kemampuan saja.

“Senang dan bangga,” ujar Serda (K) Ni Phutu ketika ditanyakan perasaannya mendapatkan medali emas.

“Harapan kami dikasih tambahan jam terbang di masa ke depannya, dengan demikian kami akan bisa yakin menghadapi lomba,” kata Serda (K) Dessy.

Ada harapan yang disampaikan tim ini, yaitu waktu diberikan bisa lebih panjang lagi agar mereka bisa berlatih lebih lama dan persiapan lebih matang. Seperti diketahui, tahun depan, agenda olahraga cukup padat, yaitu ada pra-PON dan CISM juga.

CISM tahun depan akan berlangsung di Korea Selatan. Semua cabang olahraga akan dilombakan, termasuk terjun payung.

Selain itu, mereka berharap, setiap anggota memiliki du a buah payung, agar setiap mendarat bisa langsung terbang lagi untuk melakukan penerjunan. Dengan demikian, jam terbang akan semakin bertambah. Saat yang bersamaan, payung sebelumnya dilipat kembali untuk persiapan penerjunan berikutnya.

“Kalau kami hanya punya satu payung, saat mendarat harus melipat terlebih dulu dan itu memerlukan waktu. Sementara itu, kami harus berkejaran dengan waktu dan cuaca yang bagus. Jadi, jika kami punya masing-masing dua payung, saat mendarat bisa menggunakan payung kedua. Selain itu, kami berharap bisa melakukan latihan di windtunnel

Di Indonesia sendiri alat itu sudah ada di Mabes TNI dan tanpa biaya,“ papar Kapten (K) Yose sembari tertawa mengakhiri wawancara. Tetap semangat! Komando!
Sumber : ASATU