TNI Siaga I Mulai 6 Juli, Para Komandan Pasukan Khusus Berikrar Netral

Jakarta – Tentara Nasional Indonesia (TNI) berstatus siaga 1 menjelang Pilpres 9 Juli nanti. Status ini dilaksanakan mulai tanggal 6 Juli hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

“PengamaNan kami siaga 1 mulai tanggal 6 Juli. Itu dicabut sampai melihat situasinya. Bisa sebulan bisa berapapun lamanya,” ujar Panglima TNI Jenderal Moeldoko usai apel bersama pasukan Kodam Jaya di Lapangan Parkir Timur Senayan, Jakarta, Senin (7/7/2014).

Menurut Moeldoko, siaga 1 baru akan dicabut jika keadaan kondisi sesudah pilpres aman. Untuk waktu masih harus melihat keadaan ke depan.

TNI disebut akan mengambil langkah-langkah preventif jika kondisi yang terjadi jelang dan sesudah pilpres tidak normal. Meski demikian, Jenderal Moeldoko menegaskan bahwa TNI tidak memiliki kepentingan apapun.

“Dalam keadaan tertentu, misalnya ada kevakuman, polisi kurang bantuan. Maka TNI akan melakukan tindakan preventif demi tegaknya hukum dan menghindari yang bersifat anarkis. Kami tidak memiliki kepentingan apapun apalagi kepentingan politik,” jelas Moeldoko.

Moeldoko pun menjamin bahwa seluruh personel TNI netral. Ia pun memberi jaminan itu kepada masyarakat. Bahkan ia meminta komandan pasukan khusus dan Kepala staf konstrad (Kaskostrad) untuk berikrar kepada masyarakat

“Prajurit-prajurit saya akan menjalankan tuhas dengan netral, tegas dan profesional. Saya memberi jaminan. Sungguh-sungguh kami netral. Kalau ada yang melakukan pelanggaran akan kami tindak,” tegas Moeldoko.

Danjen Kopassus Mayjen Agus Sutomo, Dankormar (Komandan Korp Marinir) Mayjen Mar Faridz Washington, Dankorpaskhas Marsekal Muda Harppin Odhe, dan Kasdam Jaya Brigjen TNI Teddy Laksamana pun secara bersama-sama memberikan ikrarnya. Mereka saling mengaitkan tangan.

“Kami menjalankan tugas dengan netral, tegas, dan profesional,” ujar keempatnya dengan lantang.

Pada kesempatan ini, Moeldoko sekali lagi mengingatkan bahwa komando seluruh personel ada pada Panglima TNI. 

Selain itu ia juga menyatakan bahwa pihakya telah memetakan daerah yang rawan-rawan konflik. Persiapan untuk menghadapi konflik juga sudah disiapkan TNI dan akan siap bertindak jika terjadi sesuatu.

“Komando operasi berada di Panglima TNI, tidak ada di tenpat lain. Seluruhnya akan patuh, yakin,” tukas Moeldoko.

Sumber : Detik