Waktu yang Tepat Untuk Minum Obat

Obat umumnya diberikan dengan interval pemberian 3-4 kali sehari, yang juga hamper sama dengan kebiasaan makan sehari-hari yaitu 3 kali sehari. Anjuran untuk minum obat dalam hubungannya dengan makan memang tergantung pengaruh makanan terhadap efek obat dan dampak pemberian obat dengan ada atau tidak adanya makanan.
Makanan dapat mempengaruhi profil farmakokinetika suatu obat, sehingga dapat mempengaruhi ketersediaan hayati, obat tersebut dan kemungkinan akan mempengaruhi efek terapinya.

INTERAKSI OBAT DENGAN MAKANAN
Makanan dapat mempengaruhi profil farmakokinetika obat, sehingga dapat mempengaruhi ketersediaan hayati dan efek terapi obat tersebut. Pengaruh makanan terhadap farmakokinetika obat ini terutama terjadi pada proses absorbsi, meskipun dapat pula terjadi pada proses metaolisme dan ekskresi obat.
Pengaruh makanan pada proses absorbsi
Pengaruh makanan terhadap abrsorbsi obat terjadi akibat adanya perubahan fisiologis dalam saluran cerna atau adanya interaksi fisik dan kimiawi antara komponen makanan tertentu dengan molekul obat. Perubahan fisiologi saluran cerna yang dapat terjadi akibat adanya makanan adalah:
1.Motilitas saluran cerna.
Motilitas saluran cerna dapat meningkat akibat mekanan. Jika motalitas terlampau cepat akan menyebabkan absorbsi kurang sempurna karena obat terlalu cepat melewati tempat absorbsi. Misalnya rifampicin, dll.
2.Waktu pengosongan lambung.
Makanan panas dengan viskositas tinggi, lemak, protein, dan karbohidrat akan menghambat waktu pengosongan lambung. Kelambatan waktu pengosongan lambung akan menurunkan absorbsi obat yang bersifat asam atau netral, sebaliknya akan meningkatkan obat-obat yang diabsorbsi melalui transport aktif.
3.Sekresi dalam saluran cerna.
Makanan akan meningkatkan sekresi asam lanmbung, cairan empedu, dan enzim-enzim lambung, sehingga mempengaruhi disolusi dan metabolisme obat-obat yang tidak stabil pada asam atau enzim lambung.
4.Kecepatan aliran darah.
Makanan akan meningkatkan aliran darah di saluran cerna dan organ-organ lain, yang dapat mempengaruhi efesiensi absorbsi obat terutama obat-obat yang mengalami metabolisme lintas pertama.
5.Volume cairan dalam saluran cerna.
Semakin besar volume dalam saluran cerna semakin cepat waktu pengosongan lambung, sehingga akan meningkatkan absorbsi obat.
Faktor formulasi dan struktur kimia obat ternyata juga mempengaruhi absorbsi obat akibat adanya makanan.
Pengaruh makanan pada proses metabolisme
Pengaruh makanan pada proses metabolisme terjadi akibat terjadinya perubahan aktifitas enzim yang berperan dalam metabolisme obat, terutama di hepar. Kebiasaan makan, diet, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alcohol, zat tambahan pada makanan, dan polutan organic dapat memacu atau menghambat aktifitas enzim dalam hepar sehingga merubah kecepatan metabolisme obat dalam hepar.
Pengaruh makanan pada proses ekskresi
Pengaruh makanan pada proses ekskresi terutama terjadi pada ekskresi obat oleh ginjal. Beberapa obat tertentu dapat dipengaruhi ekskresinya karena terjadinya perubahan keasaman urin.