Bergerak Lambat, Panglima TNI Hukum Anggotanya 10 Kali Push Up

Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Jumat (23/5), mengunjungi sejumlah kesatuan TNI di Jawa Tengah untuk mengecek kesiapan prajurit menghadapi kemungkinan bencana erupsi Gunung Slamet. 

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Batalyon Infantri 406/Candra Kusuma, Kabupaten Purbalingga.
 
Di tempat ini, Moeldoko menyaksikan unjuk ketangkasan prajurit saat bencana terjadi. Yakni, membuat tenda darurat dan menyediakan makanan untuk pengungsi. “10 menit harus mendirikan tenda dan masak, harus cepat, ayo cepat,” kata Moeldoko memberi periintah kepada para prajurit. 

Mendengar komando itu, prajurit yang terdiri dari puluhan orang dengan berbagai pangkat itu langsung bergerak cepat membuat tenda. Moeldoko kerap memberikan semangat kepada mereka. Namun, tak sedikit ia mengkritik gerakan prajurit yang dianggapnya kurang cekatan.

“Waduh, anak-anak ini kurang tangkas,” kata Moeldoko saat menyaksikan para prajurit itu membuat tenda.

“Ayo, ayo cepat, ini rakyat membutuhkan kalian,” tambah Moeldoko memberikan semangat.
Semangat prajurit itupun seolah terbakar mendengar kritikan sekaligus dukungan dari  Moeldoko. Hingga akhirnya, di menit ke delapan mereka berhasil mendirikan tenda secara sempurna.

Usai tenda didirikan, para prajurit kemudian menunjukkan keterampilan menyiapkan makanan untuk para pengungsi. Yakni, memasak sejumlah bahan makanan. “Bisa masak apa kamu?” tanya Moeldoko.

“Siap, tahu dan tempe,” dijawab oleh salah seorang Prajurit.

Mereka pun kemudian menggorengnya. Moeldoko sempat mencicipi hasil gorengan para prajurit yang masih panas tersebut.

Usai menunjukkan kebolehannya, Moeldoko kemudian memerintahkan puluhan prajurit itu untuk berbaris dihadapannya. Pada kesempatan itu, Moeldoko kembali mengkritik kecepatan para prajurit.

“Masih lama kalian bikin tenda. Besok harus bisa lima menit,” perintah Moeldoko yang dijawab siap oleh para prajurit.

Akhirnya, Moeldoko pun memberikan hukuman kepada mereka. Termasuk komandan prajurit itu yang berpangkat letnan kolonel.

“Semua push up 10 kali, kamu juga komandannya,” perintah Moeldoko yang langsung ditaati oleh para prajurit itu.

Namun, Moeldoko tak hanya sekedar menghukum para anak buahnya. Ia juga memberikan uang untuk para prajurit untuk menambah semangat mereka atas hasil jerih payahnya untuk berlatih keras. 

“Ini ada uang, tolong dibagi rata ya,” ujar Moeldoko yang memberikan beberapa lembar uang Rp 100 ribu kepada sang komandan. Para prajurit itupun menjawab, “Siaap”.

Moeldoko juga sempat mengunjungi Pos Pemantauan Gunung Slamet di Desa Gambuhan, Kabupaten Pemalang. Di sini, Moeldoko mendengarkan pemaparan dari komandan Kodim setempat mengenai jalur evakuasi yang harus diarahkan oleh prajurit kepada para pengungsi.

Dari hasil kunjungannya, Moeldoko mengatakan ia harus memastikan prajurit siap melakukan tindakan jika erupsi Gunung Slamet terjadi. Hal dilakukan agar memberikan ketenangan kepada rakyat.

Mengenai kesiapan, ia mengakui tak sampai 100 persen. Karena, masih ada beberapa kekurangan dalam kesiapan prajurit dan evakuasi. Di antaranya masalah komunikasi dan intensitas latihan evakuasi. 

Terutama, latihan yang dilakukan pada malam hari.
“Saya sudah perintahkan untuk latihan menghadapi bencana pada malam hari. Karena tingkat kepanikan harus dikendurkan melalui latihan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono yang hadir pada kunjungan kerja Moeldoko itu mengatakan, meskipun aktivitas Gunung Slamet mengalami penurunan, tetapi tetap belum aman radius 2 kilometer. “Asal tidak masuk wilayah itu aman-aman saja, tak perlu khawatir,” katanya.

Seperti diketahui, pada Maret tahun ini, Gunung Slamet mengalami erupsi dan menyemburkan asap setinggi 2.000 meter. Jika erupsi kembali terjadi, dikhawatirkan akan membahayakan puluhan desa yang berada di wilayah ini. 

Sumber : Republika