Bioautografi

Metode yang spesifik untuk mendeteksi bercak pada kromatogram hasil kromatografi lapis tipis (KLT) dan kromatografi kertas yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri, antifungi, antibiotik dan antiviral disebut bioautografi. Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu kromatografi yang berdasarkan proses adsorpsi. Fase diam dapat menggunakan silika atau alumina yang dilapiskan pada lempeng kaca atau aluminium. Fasa bergerak (fase mobil) atau larutan pengembang biasanya digunakan pelarut campuran organik atau bisa juga campuran pelarut organik-anorganik (Djide , 2003).

Kebanyakan analisis meliputi pengambilan cuplikan, pemisahan senyawa pengganggu, isolasi senyawa yang dimaksudkan, pemekatan terlebih dahulu sebelum identifikasi dan pengukuran serta teknik pemisahan yang digunakan, namun kromatografi merupakan teknik paling banyak digunakan. Pemisahan menggunakan teknik kromatografi relatif murah dengan peralatan yang relatif sederhana (Djide , 2003).

Tujuan dari praktikum Bioautografi adalah untuk melakukan uji bioautografi untuk mendeteksi bercak atau komponen zat aktif sebagai antibakteri dan menentukan komponen zat aktif sebagai anti bakteri.

Kromatografi lapis tipis merupakan kromatografi adsorpsi dan adsorben (silika gel (asam silikat), alumina (aluminium oxide), kieselguhr (diatomeous earth), dan selulosa) bertindak sebagai fase stasioner. Dalam kromatografi lapis tipis, bahan penyalut yang digunakan beraneka macam. Silika gel yang paling banyak dipakai (Djide , 2003).

Teknik ini dikembangkan tahun 1938 oleh Ismailoff dan Schraiber. Adsorbent dilapiskan pada lempeng kaca yang bertindak sebagai fase diam. Fase bergerak (Untuk senyawa organik yang polar akan lebih mudah larut dengan air dari pada pelarut organik, dan hendaknya untuk senyawa-senyawa tertentu menggunakan pelarut sesuai dengan kepolaran pelarut yang digunakan dan pembuatan fase mobil harus hati-hati karena sulitnya keterulangan dalam campuran serta pelarut jangan digunakan dalam selang yang lama) akan merayap sepanjang fase diam dan terbentuklah kromatogram. Ini dikenal juga sebagai kromatografi kolom terbuka. Metode ini sederhana, cepat dalam pemisahan dan sensitif. Kecepatan pemisahan tinggi dan mudah untuk memperoleh kembali senyawa-senyawa yang dipisahkan (Petrucci, 1987).

Pelarut-pelarut yang digunakan biasanya berupa campuran satu komponen organik yang utama, air dan berbagai tambahan seperti asam-asam, basa-basa atau pereaksi komplek, utk memperbesar atau mengurangi kelarutan untuk zat-zat tertentu (Ganiswarna, 1995). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam teknik kromatografi adalah metode (penaikan, penurunan, mendatar), macam kertas, pemilihan dan pembuatan eluen (fase mobil), kesetimbangan dari bejana yang dipilih, pembuatan cuplikan, waktu pengembangan, metode deteksi dan identifikasi (Petrucci, 1987)

***seperti biasa, jika mo lebih, pinjam buku temen 🙂 :

Djide, M. N. 2003. Mikrobiologi Farmasi. Jurusan Farmasi UNHAS, Makassar.

Ganiswarna, S. G. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Bagian Farmakologi-Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta.

Petrucci, R. H., 1987. Kimia Dasar Jilid 3. Erlangga, Jakarta.

Hariana, H. A., 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Edisi 3. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tjay, T. H. 2003. Obat-Obat Penting. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.