Ini Keunggulan Kapal Perang Buatan RI yang Berhasil Dijual ke Filipina

Produsen kapal BUMN yaitu PT PAL (Persero) berhasil menjual 2 unit kapal perang tipe Strategic Sealift Vessel (SSV) ke militer Filipina. 

Penjualan ini sangat bersejarah bagi Indonesia, karena merupakan penjualan kapal perang pertama ke luar negeri.

Apa keunggulan kapal SSV sehingga Filipina bersedia membeli kapal perang buatan Indonesia tersebut?

Direktur Utama PAL Firmansyah Arifin mengatakan, kapal ini memiliki keunggulan khususnya bagi negara kepulauan. Kapal tersebut mampu difungsikan untuk keperluan perang dan non perang.

Untuk kebutuhan perang, kapal ini mampu membawa hingga 500 personel. Kapal ini juga bisa membawa 2 unit helikopter, kapal Landing Craft Utility (LCU), Landing Craft Vehicle Personnel (LCVP), tank, hingga truk militer. Dengan kapal perang tipe ini, personel mampu menjangkau hingga perairan dangkal.

“Dia bisa angkutan pasukan sehingga bisa drop pasukan. Kapal itu di satu daerah, bisa bawa kapal dengan mendarat kapal LCU dan LCVP yang berukuran kecil. Dia kecil (LCU dan LCVP) tapi punya kecepatan tinggi,” kata Firmansyah kepada detikFinance, Selasa (20/5/2014).

Kapal yang memiliki panjang 123 meter dan lebar 21,8 meter ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal 15 knot.

Selain untuk keperluan militer, kapal perang asli rancangan putra-putri Indonesia di Surabaya, Jawa Timur ini bisa diperuntukan untuk keperluan non perang. Saat terjadi bencana, kapal ini bisa difungsikan menjadi rumah sakit terapung, hingga kapal angkut bantuan. Hal ini sangat diperlukan oleh Filipina karena kerap terkena bencana alam.

“Karena negaranya sering kena bencana sehingga bisa untuk tugas kemanusian. Jadi bahan makanan bisa didrop untuk penyelamatan. Itu multi fungsi karena bisa berfungsi untuk perang atau bencana,” sebutnya.

Kapal perang tipe SSV tersebut dibanderol senilai US$ 45 juta per unit. Kapal perang ini merupakan pengembangan dari kapal perang tipe Landing Platform Dock (LPD-125). Kapal tersebut merupakan kapal yang awalnya dikembangkan bersama Korea Selatan. Namun tenaga ahli PAL melakukan modifikasi sehingga lahirlah kapal tipe SSV.

“Konten lokal sekitar 35%, permesinan masih dari luar. Kami dulu belajar dari Korea ketika TNI AL pesan kapal ke Korsel. Waktu kita pesan 4 unit, sebanyak 2 unit dibangun di Korea dan 2 unit dibangun di PAL. Di situ ada transfer of technology untuk penuhi kebutuhan kita sendiri. Berdasarkan transfer teknologi, kita bikin lagi yang sejenis. Itu yang dijual ke Filipina,” terangnya.

Sumber : Detik