Kisah Heroik Prajurit Kopassus di Puncak Jaya

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI Budiman, memberikan penghargaan kepada 48 prajurit TNI AD yang berprestasi. 

Penghargaan berupa Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) satu tingkat lebih tinggi dari pangkat sebelumnya.

Upacara kenaikan pangkat tersebut dilaksanakan di Lapangan Mabesad, Jalan Veteran No 5, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2014).

Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah anggota Kopassus, Sertu Ridwan Horasden Sihotang. Sertu Ridwan menemukan satu pucuk senjata SS-1, sebuah magazine dan 30 butir amunisi cal 5,56 mm saat melakukan kontak senjata dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Puncak Jaya.

Kepada Okezone, Sertu Ridwan pun membagi kisahnya saat melakukan operasi di bumi Cendrawasih tersebut. “Saat itu kami diperintahkan Pangdam 17 Cendrawasih untuk melakukan operasi di Yambi, Puncak Jaya,” kata dia.

Sebab, saat itu terjadi penyerangan oleh OPM dan perampasan delapan puncuk senjata organik milik Polri. Sertu Ridwan berangkat dengan tiga tim dari kesatuan Batalyon Infanteri 751 Puncak Jaya yang dipimpin oleh Letda (Inf) Ismet.

Sebelum menggelar operasi, TNI telah melakukan pemetaan dan memperkirakan kelompok OPM di Yambi, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya. Kelompok tersebut dipimpin oleh Tenggah Mati. Kelompok tersebut berkekuatan 50 orang dengan senjata laras panjang berjumlah 20 pucuk.

“Satu tim terdiri dari 16 orang. Kami berangkat waktu subuh tanggal 23 Februari,” ucapnya.

Perjalanan menuju Yambi dari Pos Mulia, tempat Sertu Ridwan bertugas, berjarak 14 jam perjalanan kaki. Kondisi alam di Puncak Jaya sangat berbeda dengan wilayah di Indonesia yang lainnya.

“Di Puncak Jaya, hutannya sangat lebat dan tidak pernah dijamah oleh manusia. Selain itu dikelilingi pegunungan. Tidak bisa sembarang orang bisa kemari,” ujarnya.

Sebagai prajurit berkualifikasi Komando, hal tersebut bukan suatu hal yang sulit. Kendati demikian, tingkat kewaspadaan sangat penting di sana, karena banyak penembak dari OPM yang tidak diketahui lokasinya.

Saat operasi dimulai, Sertu Ridwan membekali dirinya dengan logistik selama empat hari. Persenjataan yang dibawa adalah senjata serbu SS-1. Dia bersama anggota TNI lainnya bertekad melakukan penghadangan OPM. Pada tanggal 24 Februari, tim menemukan sejumlah OPM yang melintas. Baku tembak pun terjadi.

Dalam baku tembak tersebut, kelompok OPM berhasil dipukul mundur. Sertu Ridwan bersama anggota TNI lainnya melakukan pengejaran. Saat pengejaran itulah, dia menemukan satu pucuk senjata SS-1, sebuah magazine dan 30 butir amunisi cal 5,56 mm.

Setelah peristiwa baku tembak itu, dia mendapat informasi ada enam orang tewas karena luka tembakan. “Kita tidak tahu siapa yang tertembak dan siapa yang menembaknya. Yang kita dapatkan saat itu Puncak Jaya berduka,” terangnya.

Selain itu, OPM berbaur dengan masyarakat. TNI sangat sulit untuk membedakan mana OPM mana masyarakat. “Saya selalu memperhatikan wajah-wajah mereka. Sebutan kita combatan (bersenjata) dan noncombatan (tidak bersenjata),” pungkasnya.

Sumber : Okezone