Kisah heroik tentara makan sepatu untuk hidup di Papua

26 April 1962, tiga buah pesawat C-47 Dakota milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terbang ke Kaimana, Irian Barat. 

Mereka bertugas menerjunkan 23 pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), 9 Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI dan satu perwira zeni AD.

Misi mereka menyusup ke belantara Papua dan merusak radar milik Belanda. Operasi militer ini dinamakan Operasi Banteng Merah. Salah satu operasi penerjunan pertama dalam rangka Tri Komando Rakyat, membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda.

Tak mudah menggelar operasi udara di Irian Barat. Hutan lebat, pohon setinggi 50 meter, hingga sulitnya makanan di dalam belantara menjadi kendala tersendiri. Apalagi Belanda terus menambah kekuatan di Irian. Sebagai catatan, saat perang dunia II, tentara sekutu tak mau menggelar operasi penerjunan di Irian. Mereka memandang hal ini terlalu beresiko.

Tapi perintah Presiden Soekarno, penerjunan harus dilaksanakan. Apapun resikonya. Buka mata dunia, Indonesia mampu menggelar operasi militer di Papua.

Hari menjelang subuh saat satu per satu pasukan melompat dari pesawat. Malapetaka menunggu begitu mereka membuka payung. Rata-rata anggota pasukan mendarat di puncak pohon yang tingginya lebih dari 50 meter. Mereka menggantung di pohon dan kesulitan mencapai tanah. Walau setiap pasukan membawa tali yang panjangnya 30 meter, masih kurang untuk mencapai tanah.

Beberapa orang patah tulang saat mendarat. Mereka jatuh tersebar sehingga kekuatan pun terpencar. Tentara Belanda langsung mengerahkan pesawat pengintai dan pasukan berkekuatan besar untuk memburu para penerjun.

Puluhan tentara tentu bukan tandingan tentara Belanda di Irian. Sebagian pasukan RI tewas ditembak dan sebagian lagi tertangkap. Mereka juga sadar penduduk di Irian Barat kebanyakan sudah dibina Belanda. Setiap ada tentara Indonesia, rakyat akan melapor pada tentara. Pertolongan dari rakyat nyaris tak bisa diharapkan.

Masalah makanan pun jadi hal utama. Di belantara Papua sangat jarang ada tumbuhan atau makanan bisa dimakan. Satu-satunya harapan adalah makanan pemberian penduduk kampung. Mereka juga berusaha membeli dari penduduk, karena setiap orang dibekali uang gulden.

Pasukan Indonesia sering kelaparan berhari-hari. Jika berpapasan dengan penduduk yang menjanjikan makanan, mereka sudah tak percaya. Pasti di tempat yang ditunjuk sudah ada tentara Belanda yang menunggu.

Sumber : Merdeka